Sejarah bangsa dan peradaban selalu mencatat bahwa perubahan besar hampir tak pernah lahir dari generasi yang lelah dan kehilangan arah. Ia justru lahir dari tangan-tangan pemuda yang jiwanya menyala, pikirannya jernih, dan orientasi hidupnya tegak lurus kepada kebenaran. Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: peran strategis pemuda kian memudar, bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena krisis orientasi, mental, dan nilai yang semakin menggerus fondasi kehidupan generasi muda.
Indonesia tengah menghadapi fenomena krisis mental pemuda yang tidak bisa dipandang remeh. Tekanan hidup, budaya instan, dominasi media sosial, serta tercerabutnya nilai spiritual membuat banyak pemuda kehilangan makna hidup. Mereka bergerak, tetapi tanpa arah. Mereka aktif, tetapi tidak produktif secara peradaban. Di sinilah pertanyaan besar itu mengemuka: masihkah pemuda mampu membaca zaman dan bergerak sebagai solusi? Dan lebih khusus lagi, mampukah Pemuda Hidayatullah hadir sebagai kekuatan ideologis yang menawarkan jalan keluar berbasis tauhid?
Tauhid sejatinya bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi pergerakan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai hidup. Ketika tauhid menjadi pusat orientasi, pemuda tidak mudah goyah oleh arus pragmatisme, hedonisme, dan relativisme moral. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini bukan sekadar nasihat individual, melainkan seruan peradaban yang sangat relevan bagi pemuda sebagai pemilik waktu, energi, dan potensi terbesar dalam kehidupan.
Sejarah Islam memberikan teladan nyata bahwa pemuda adalah tulang punggung perubahan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam di usia belia dan menjadi simbol keberanian, kecerdasan, serta keteguhan akidah. Dalam usia muda, ia telah berdiri di garda terdepan membela Rasulullah ﷺ, menjadi hakim yang adil, sekaligus pemimpin umat yang berlandaskan tauhid. Demikian pula Mush’ab bin ‘Umair, pemuda Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah, dan dengan keikhlasannya menjadi sebab terbukanya Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah ini menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang kepemimpinan, selama iman dan visi peradaban tertanam kuat.
Di masa yang lebih dekat, sosok-sosok pemuda Muslim seperti Hasan Al-Banna menunjukkan bahwa kesadaran tauhid yang dipadukan dengan kerja terorganisir mampu melahirkan gerakan besar yang mengubah kesadaran umat. Ia memulai dakwahnya sebagai pemuda, namun visinya melampaui zaman. Ini menjadi pelajaran penting bahwa krisis umat tidak bisa dijawab dengan gerakan reaktif dan sporadis, tetapi membutuhkan pemuda yang memiliki pandangan hidup Islam secara menyeluruh dan kesediaan untuk berjuang dalam jangka panjang.
Krisis mental yang hari ini melanda pemuda sejatinya bukan semata persoalan psikologis, tetapi krisis makna hidup. Ketika hidup dipersempit hanya pada capaian materi dan pengakuan sosial, jiwa menjadi rapuh. Tauhid hadir sebagai obat yang mengembalikan manusia pada fitrahnya: hamba Allah yang hidup dengan misi. Pemuda yang bertauhid tidak menggantungkan harga dirinya pada validasi manusia, tetapi pada ridha Rabb-nya. Dari sinilah lahir ketangguhan mental, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk berbeda di tengah arus mayoritas.
Dalam konteks kekinian, tantangan pemuda semakin kompleks. Arus informasi yang deras bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana dakwah dan pencerahan, namun juga dapat menjadi alat perusak akidah dan adab jika tidak dibingkai oleh nilai. Oleh karena itu, pemuda hari ini dituntut bukan hanya melek teknologi, tetapi matang secara ideologis. Pemuda Hidayatullah memiliki peluang besar untuk mengambil peran ini: menjadi penjaga nilai, penyambung risalah dakwah, sekaligus pelaku perubahan sosial yang berakar pada tauhid dan berpihak pada umat.
Munas Pemuda Hidayatullah seharusnya tidak dimaknai sekadar agenda organisasi, tetapi momentum ideologis untuk meneguhkan kembali jati diri pemuda sebagai agen perubahan. Di forum inilah arah pergerakan ditata, visi diperjelas, dan komitmen diperbarui. Pemuda yang hadir bukan hanya membawa gagasan, tetapi kesiapan berkorban, berproses, dan berjuang dalam jalan dakwah dan tarbiyah. Sebab sejarah tidak mencatat mereka yang menunggu perubahan, tetapi mereka yang bergerak dan menciptakannya.
Akhirnya, pemuda adalah fase singkat yang menentukan arah hidup dan wajah peradaban. Jika masa muda diisi dengan tauhid yang kokoh, ilmu yang benar, dan amal yang terarah, maka ia akan melahirkan generasi pemimpin yang mampu menuntun umat keluar dari krisis. Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab tantangan zaman ini—menjadi pemuda yang tidak larut dalam kegalauan zaman, tetapi berdiri tegak sebagai pewaris risalah, penjaga nilai, dan pelopor kebangkitan umat.
Tahniah untuk Pemuda Hidayatullah yang baru saja menggelar MUNAS di Jakarta.