Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis
Artikel Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 1 week ago
Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler- Est 2 min
- 0 Views
- 1 month ago
Top 10 News
Kegiatan
Artikel
Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis
Artikel Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 1 week ago
Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Ustadz (Guru) Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan
Artikel Terkini Terpopuler Trending Uncategorized- Est 4 min
- 0 Views
- 2 weeks ago
Mengapa Organisasi Tidak Boleh Menoleransi “Brilliant Jerks”
Artikel Berita Terkini Terpopuler Trending- Est 3 min
- 0 Views
- 2 weeks ago
Venezuela, Greenland, dan Wajah Asli Imperialisme Modern: Peringatan Keras bagi Dunia Islam
Artikel Berita Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 2 weeks ago
Rajab dan Sya‘ban: Dua Bulan Mulia Penyiap Jiwa Menuju Ramadhan
Artikel Terkini Trending- Est 3 min
- 0 Views
- 3 weeks ago
Terkini
Posts
Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan
Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen menggelar rapat pleno pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di komplek SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Rapat ini menjadi forum strategis dalam mematangkan berbagai agenda penting organisasi ke depan, khususnya pelantikan Dewan Pengurus Cabang (DPC), pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), serta persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Rapat pleno dihadiri oleh jajaran pengurus DPD dan perwakilan bidang-bidang strategis. Dalam suasana musyawarah yang penuh semangat kebersamaan, pembahasan difokuskan pada penguatan struktur organisasi melalui pelantikan DPC sebagai ujung tombak dakwah Hidayatullah di tingkat kecamatan. Diharapkan, pelantikan ini menjadi titik awal akselerasi gerakan dakwah yang lebih terstruktur, masif, dan menyentuh kebutuhan umat.
Selain itu, rapat juga membahas teknis dan substansi Rakerda yang akan menjadi arah kebijakan dan program kerja Hidayatullah Kebumen dalam satu periode ke depan. Rakerda dirancang tidak hanya sebagai agenda formal organisasi, tetapi sebagai momentum konsolidasi ideologis dan strategis dalam membangun peradaban berbasis tauhid melalui jalur pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi umat.
Dalam rapat pleno tersebut, perhatian khusus juga diberikan pada agenda Tarhib Ramadhan. DPD Hidayatullah Kebumen merencanakan kegiatan penyambutan Ramadhan yang bernuansa internasional dengan mengundang syaikh dari Mesir, insya Allah. Kehadiran ulama dari negeri Al-Azhar ini diharapkan dapat menguatkan ruhiyah umat, meneguhkan semangat keilmuan, serta mempererat hubungan keislaman lintas bangsa.
Rapat pleno ini sekaligus menegaskan komitmen DPD Hidayatullah Kebumen untuk terus menggerakkan dakwah strategis yang responsif terhadap tantangan zaman. Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas seremonial, tetapi sebagai gerakan perbaikan umat yang terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada solusi atas persoalan keumatan di tingkat lokal maupun nasional.
Dengan sinergi pengurus dan soliditas jamaah, DPD Hidayatullah Kebumen optimis agenda-agenda besar yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kebangkitan umat di Kabupaten Kebumen.
Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis
Sejarah bangsa dan peradaban selalu mencatat bahwa perubahan besar hampir tak pernah lahir dari generasi yang lelah dan kehilangan arah. Ia justru lahir dari tangan-tangan pemuda yang jiwanya menyala, pikirannya jernih, dan orientasi hidupnya tegak lurus kepada kebenaran. Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: peran strategis pemuda kian memudar, bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena krisis orientasi, mental, dan nilai yang semakin menggerus fondasi kehidupan generasi muda.
Indonesia tengah menghadapi fenomena krisis mental pemuda yang tidak bisa dipandang remeh. Tekanan hidup, budaya instan, dominasi media sosial, serta tercerabutnya nilai spiritual membuat banyak pemuda kehilangan makna hidup. Mereka bergerak, tetapi tanpa arah. Mereka aktif, tetapi tidak produktif secara peradaban. Di sinilah pertanyaan besar itu mengemuka: masihkah pemuda mampu membaca zaman dan bergerak sebagai solusi? Dan lebih khusus lagi, mampukah Pemuda Hidayatullah hadir sebagai kekuatan ideologis yang menawarkan jalan keluar berbasis tauhid?
Tauhid sejatinya bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi pergerakan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai hidup. Ketika tauhid menjadi pusat orientasi, pemuda tidak mudah goyah oleh arus pragmatisme, hedonisme, dan relativisme moral. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini bukan sekadar nasihat individual, melainkan seruan peradaban yang sangat relevan bagi pemuda sebagai pemilik waktu, energi, dan potensi terbesar dalam kehidupan.
Sejarah Islam memberikan teladan nyata bahwa pemuda adalah tulang punggung perubahan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam di usia belia dan menjadi simbol keberanian, kecerdasan, serta keteguhan akidah. Dalam usia muda, ia telah berdiri di garda terdepan membela Rasulullah ﷺ, menjadi hakim yang adil, sekaligus pemimpin umat yang berlandaskan tauhid. Demikian pula Mush’ab bin ‘Umair, pemuda Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah, dan dengan keikhlasannya menjadi sebab terbukanya Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah ini menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang kepemimpinan, selama iman dan visi peradaban tertanam kuat.
Di masa yang lebih dekat, sosok-sosok pemuda Muslim seperti Hasan Al-Banna menunjukkan bahwa kesadaran tauhid yang dipadukan dengan kerja terorganisir mampu melahirkan gerakan besar yang mengubah kesadaran umat. Ia memulai dakwahnya sebagai pemuda, namun visinya melampaui zaman. Ini menjadi pelajaran penting bahwa krisis umat tidak bisa dijawab dengan gerakan reaktif dan sporadis, tetapi membutuhkan pemuda yang memiliki pandangan hidup Islam secara menyeluruh dan kesediaan untuk berjuang dalam jangka panjang.
Krisis mental yang hari ini melanda pemuda sejatinya bukan semata persoalan psikologis, tetapi krisis makna hidup. Ketika hidup dipersempit hanya pada capaian materi dan pengakuan sosial, jiwa menjadi rapuh. Tauhid hadir sebagai obat yang mengembalikan manusia pada fitrahnya: hamba Allah yang hidup dengan misi. Pemuda yang bertauhid tidak menggantungkan harga dirinya pada validasi manusia, tetapi pada ridha Rabb-nya. Dari sinilah lahir ketangguhan mental, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk berbeda di tengah arus mayoritas.
Dalam konteks kekinian, tantangan pemuda semakin kompleks. Arus informasi yang deras bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana dakwah dan pencerahan, namun juga dapat menjadi alat perusak akidah dan adab jika tidak dibingkai oleh nilai. Oleh karena itu, pemuda hari ini dituntut bukan hanya melek teknologi, tetapi matang secara ideologis. Pemuda Hidayatullah memiliki peluang besar untuk mengambil peran ini: menjadi penjaga nilai, penyambung risalah dakwah, sekaligus pelaku perubahan sosial yang berakar pada tauhid dan berpihak pada umat.
Munas Pemuda Hidayatullah seharusnya tidak dimaknai sekadar agenda organisasi, tetapi momentum ideologis untuk meneguhkan kembali jati diri pemuda sebagai agen perubahan. Di forum inilah arah pergerakan ditata, visi diperjelas, dan komitmen diperbarui. Pemuda yang hadir bukan hanya membawa gagasan, tetapi kesiapan berkorban, berproses, dan berjuang dalam jalan dakwah dan tarbiyah. Sebab sejarah tidak mencatat mereka yang menunggu perubahan, tetapi mereka yang bergerak dan menciptakannya.
Akhirnya, pemuda adalah fase singkat yang menentukan arah hidup dan wajah peradaban. Jika masa muda diisi dengan tauhid yang kokoh, ilmu yang benar, dan amal yang terarah, maka ia akan melahirkan generasi pemimpin yang mampu menuntun umat keluar dari krisis. Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab tantangan zaman ini—menjadi pemuda yang tidak larut dalam kegalauan zaman, tetapi berdiri tegak sebagai pewaris risalah, penjaga nilai, dan pelopor kebangkitan umat.
Tahniah untuk Pemuda Hidayatullah yang baru saja menggelar MUNAS di Jakarta.
Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Ustadz (Guru) Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan
Mengajar adalah amanah besar sekaligus ibadah yang mulia. Di balik senyum dan keteguhan seorang ustadz (guru), tersimpan rasa lelah yang kadang menjelma menjadi kebosanan. Rutinitas yang berulang, murid yang pasif, hingga penat fisik dan mental bisa membuat semangat meredup.
Sebagaimana disebutkan dalam penelitian di Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, kebosanan dalam pembelajaran sering muncul karena kurangnya variasi metode dan keterlibatan murid. Maka, penting bagi ustadz (guru) untuk senantiasa mencari ikhtiar agar semangat tetap menyala, sehingga ilmu yang disampaikan mengalir dengan penuh keberkahan.
Ikhtiar Mengatasi Kebosanan
1. Menguatkan Iman dan Menata Niat
Sumber kekuatan seorang ustadz adalah iman dan tauhid. Mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang mengikat hati dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).
Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang terus mengalir meski ustadz telah tiada. Dengan kesadaran ini, rasa jenuh bisa berubah menjadi semangat, karena setiap pelajaran adalah investasi amal abadi.
Contoh aplikatif: Memulai kelas dengan dzikir singkat atau doa bersama agar hati kembali tenang dan niat mengajar tetap ikhlas.
2. Mengingat Tujuan Mulia Mengajar
Tujuan mulia mengajar memiliki dua dimensi:
- Menata hubungan ustadz dengan Allah. Mengajar adalah jalan menuju ridha-Nya. Setiap kata adalah dakwah, setiap ilmu adalah amal jariyah. Dengan kesadaran ini, kebosanan berganti syukur. Contoh aplikatif: Menutup pelajaran dengan doa: “Ya Allah, jadikan ilmu ini cahaya bagi kami dan generasi setelah kami.”
- Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban. Mengajar adalah ikhtiar membentuk generasi beriman yang kelak menjadi pilar peradaban Islam. Ilmu yang diajarkan akan terus hidup dalam diri murid, bahkan setelah ustadz wafat. Contoh aplikatif: Refleksi penutup: “Ilmu yang kita pelajari hari ini akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang kokoh.”
3. Mengatur Ritme dan Memberi Jeda
Kelelahan fisik sering menjadi pemicu kebosanan. Ustadz perlu mengatur ritme mengajar, tidak harus terus-menerus berbicara.
Contoh aplikatif: Setelah 20 menit ceramah, murid diajak berdiri, peregangan ringan, atau membaca doa bersama. Aktivitas sederhana ini menyegarkan suasana kelas.
4. Menggunakan Media Kreatif
Variasi media membuat materi lebih segar dan bermakna. Slide, video pendek, atau ilustrasi membantu murid memahami lebih baik.
Penelitian di al-Afkar Journal for Islamic Studies menegaskan bahwa media kreatif dapat mengurangi kebosanan.
Contoh aplikatif: Saat menjelaskan kisah Nabi Yusuf, ustadz menampilkan potongan video atau ilustrasi perjalanan beliau.
5. Variasi Metode Mengajar
Ceramah penting, tetapi jika terus-menerus bisa monoton. Variasi metode seperti diskusi kelompok, tanya jawab, atau simulasi membuat kelas lebih hidup.
Contoh aplikatif: Dalam pelajaran akhlak, murid dibagi kelompok kecil untuk mendiskusikan “Bagaimana cara meneladani sifat amanah Rasulullah.” Hasilnya dipresentasikan di depan kelas.
6. Menambahkan Cerita Inspiratif
Cerita nyata atau hikmah dari ulama dan sahabat bisa menyegarkan suasana. Murid lebih terhubung secara emosional dengan materi.
Contoh aplikatif: Saat membahas sabar, ustadz menceritakan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap teguh menghadapi ujian. Cerita ini menghidupkan kelas sekaligus menanamkan keteladanan.
Kebosanan adalah hal manusiawi, tetapi dengan ikhtiar yang tepat, ustadz (guru) bisa tetap bersemangat dalam mengajar. Menguatkan iman, mengingat tujuan mulia, mengatur ritme, menggunakan media kreatif, serta variasi metode akan menjadikan proses belajar lebih hidup dan penuh keberkahan.
Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan jalan menuju pahala jariyah yang terus mengalir. Tujuan mulia mengajar pun memiliki dua dimensi:
- Menata hubungan dengan Allah agar setiap pelajaran bernilai ibadah.
- Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban agar ilmu menjadi fondasi kokoh bagi umat.
Semoga setiap ustadz (guru) senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini dengan hati yang ikhlas, semangat yang menyala, dan cinta yang tulus kepada murid-muridnya.
Referensi
- Irma, I., Rahman, P., Anto, A., Takdir, T., & Salam, R. (2024). Akidah Akhlak Teachers’ Strategies to Mitigate Students’ Learning Boredom. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme.
- Ali, M., Syah, M., & Arifin, S. (2024). Overcoming Forgetting and Boredom in Learning. al-Afkar Journal for Islamic Studies.
Penulis
KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

