Hidayatullah Kebumen Gelar Shalat Istisqa, Memohon Turunnya Rahmat Allah

Kebumen, 17 Oktober 2026 — Hidayatullah Kebumen menggelar shalat istisqa di lapangan kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen pada Sabtu (17/10/2026), mulai pukul 07.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jamaah, para asatidz dari SDIT Al-Madinah dan SMP Integral Hidayatullah Kebumen, serta seluruh santri SMP Integral Hidayatullah Kebumen.

Shalat istisqa dilaksanakan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan, mengharap rahmat Allah Swt., serta menjemput ampunan-Nya melalui taubat dan doa bersama.

Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Maulana, S.Pd., sedangkan khutbah disampaikan oleh Ustadz Irsyad Fadlurrahman, S.Pd., M.A. Seluruh rangkaian ibadah berlangsung dalam suasana syahdu, penuh harap dan kerendahan hati, sebagai wujud penghambaan serta permohonan agar Allah Swt. segera memberikan kelapangan dan menurunkan rahmat-Nya bagi seluruh umat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran untuk senantiasa memperbanyak istigfar, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. dalam menghadapi setiap keadaan.

Analisis Ketahanan Finansial UMKM Sektor Kuliner di Tengah Fluktuasi Ekonomi Makro dan Dinamika Numismatika Uang Rupiah Emisi 2022

Stabilitas ekonomi makro Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Di tingkat mikro, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kuliner bertindak sebagai tulang punggung perekonomian nasional yang menyerap banyak tenaga kerja, namun sangat rentan terhadap guncangan biaya operasional dan fluktuasi harga bahan baku. Pada saat yang sama, dunia keuangan nasional diwarnai fenomena unik, di mana uang kertas rupiah pecahan emisi 2022 (tahun cetak 2026) yang memuat tanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi perhatian di kalangan kolektor numismatika.

Kenaikan harga BBM memberikan dampak langsung terhadap peningkatan biaya transportasi dan distribusi logistik bahan pangan, yang secara otomatis mendongkrak Harga Pokok Produksi (HPP) pada usaha kuliner. Peningkatan beban biaya energi ini mempersempit margin keuntungan para pelaku UMKM yang umumnya memiliki ruang terbatas untuk menaikkan harga jual demi menjaga daya beli konsumen. Lonjakan biaya mobilitas dan bahan bakar ini memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian.

Pergeseran pola pangan atau efisiensi alokasi modal kerja agar ketahanan finansial usaha tidak rapuh.

Selain BBM, gejolak dan pelemahan nilai tukar rupiah memperparah rantai pasok industri kuliner, terutama untuk komoditas bahan baku yang bergantung pada impor, seperti gandum, kedelai, dan bumbu olahan. Terjadinya inflasi dorongan biaya (cost-push inflation) mengurangi likuiditas dan daya tahan modal kerja UMKM karena harus mengeluarkan dana dalam jumlah lebih besar untuk volume bahan yang sama. Kombinasi kenaikan BBM dan volatilitas kurs rupiah membentuk tekanan ganda (double pressure) yang menguji resiliensi serta strategi manajemen risiko para pengusaha kuliner.

Di tengah pergerakan kebijakan moneter dan fiskal, muncul fenomena menarik ketika uang kertas rupiah pecahan Rp100.000 emisi 2022, tahun cetak 2026, yang ditandatangani mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, ramai diburu kolektor. Singkatnya, masa jabatan Purbaya Yudhi Sadewa memicu persepsi kelangkaan (scarcity) di pasar numismatika, sehingga menarik daya tarik kolektibel tinggi di komunitas daring. Meskipun demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa uang rupiah bertanda tangan Purbaya tersebut tetap berlaku sah sebagai alat pembayaran dengan nilai nominal yang sama sesuai undang-undang.

Menghadapi impitan biaya operasional akibat inflasi energi dan kenaikan harga bahan baku, pelaku UMKM sektor kuliner dituntut menerapkan strategi efisien berbasis resiliensi keuangan. Langkah adaptif seperti melakukan rekayasa porsi (portion control), restrukturisasi menu, hingga optimalisasi pemasaran digital melalui ekosistem e-commerce dan pembayaran cashless menjadi pilihan utama untuk menekan beban overhead. Pengelolaan arus kas (cash flow) yang fleksibel dan efisiensi modal kerja menjadi kunci utama agar UMKM kuliner mampu mempertahankan margin usaha tanpa mengorbankan kualitas produk serta loyalitas konsumen.

Di tengah perjuangan pelaku usaha menjaga daya beli riil masyarakat yang tergerus inflasi, timbul dinamika menarik terkait persepsi nilai atas instrumen moneter itu sendiri. Ketika nominal uang kertas rupiah yang dipegang UMKM dan masyarakat mengalami penurunan daya tukar riil terhadap barang dan jasa akibat gejolak ekonomi makro, uang fisik yang sama justru berpotensi mengalami lonjakan nilai subjektif-spekulatif di luar fungsi utamanya sebagai alat pembayaran. Penilaian nilai tambah simbolik ini menciptakan dualisme fungsi uang: sebagai media transaksi riil yang tertekan inflasi, sekaligus sebagai komoditas kolektibel bernilai tinggi.

Akibat persepsi kelangkaan.

Kesimpulannya, ketahanan finansial UMKM sektor kuliner sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengendalikan inflasi energi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah demi keberlanjutan rantai pasok. Sementara itu, munculnya nilai koleksi pada uang kertas bertanda tangan Purbaya menunjukkan bagaimana dinamika administrasi publik dapat menciptakan fenomena nilai tambah simbolis di pasar kolektor tanpa mengurangi fungsi primer uang sebagai alat tukar resmi. Kebijakan perlindungan UMKM dan kepastian regulasi moneter tetap menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Sumber Referensi

  • ResearchGate
  • Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)
  • Banjarmasin Post / Tribunnews
  • Republika / Detik Finance

Penulis : Athaya Efreza – Santri kelas IX SMP Integral Hidayatullah Kebumen

Teman Sehat vs Teman Toxic, Pilih Circle Yang Membuat Iman & Masa Depanmu Makin Keren!

Masa SMP merupakan masa ketika pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, bersikap, dan menentukan pilihan hidup. Teman bukan sekadar orang yang menemani kita tertawa atau menghabiskan waktu bersama, tetapi juga lingkungan yang perlahan membentuk karakter dan kebiasaan kita.

Ada teman yang membuat kita semakin semangat belajar, rajin beribadah, dan berani mengembangkan potensi diri. Namun, ada pula pertemanan yang justru membuat kita kehilangan arah, terbiasa melakukan hal-hal negatif, bahkan menjauh dari Allah SWT.

Karena itu, memilih teman bukan hanya tentang siapa yang paling seru diajak bercanda, tetapi juga tentang siapa yang membawa pengaruh baik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita.

Dalam Islam, Rasulullah SAW mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi membuat kita mendapatkan aroma yang harum, sementara berada di dekat pandai besi dapat membuat pakaian terkena bau yang tidak sedap atau bahkan terkena percikan api.

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa lingkungan pertemanan dapat meninggalkan pengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap diri kita. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa seseorang mengikuti agama atau kebiasaan teman dekatnya. Oleh sebab itu, kita perlu memperhatikan siapa yang kita jadikan sahabat dan bagaimana pengaruh pertemanan tersebut terhadap perilaku serta keimanan kita.

Teman yang sehat adalah teman yang membantu kita bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bersamanya, kita dapat menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan penerimaan. Ia tidak hanya hadir ketika suasana menyenangkan, tetapi juga mampu memberikan kritik ketika kita menghadapi kesulitan.

Teman yang baik tidak merasa iri ketika kita berhasil, tidak merendahkan ketika kita melakukan kesalahan, dan tidak menjadikan kekurangan kita sebagai bahan ejekan. Ia juga berani mengingatkan ketika kita mulai lalai dalam beribadah, mengajak belajar bersama, serta menjaga rahasia dan kehormatan kita. Pertemanan seperti ini bukan berarti selalu setuju dalam segala hal, melainkan mampu saling menasihati dengan cara yang baik dan tetap menghargai satu sama lain.

Sebaliknya, pertemanan menjadi tidak sehat ketika di dalamnya terdapat kebiasaan merendahkan, menyebarkan rahasia, berbohong, memanipulasi, atau memaksa seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan keyakinannya.

Teman yang terus-menerus mengejek, mempermalukan, atau membuat kita takut untuk menyampaikan pendapat dapat memberikan pengaruh buruk terhadap rasa percaya diri dan ketenangan hati. Begitu pula jika seseorang hanya datang ketika membutuhkan bantuan, tetapi menghilang saat kita membutuhkan dukungan.

Terlebih lagi, apabila pertemanan tersebut mendorong kita untuk bolos, menyontek, meninggalkan kewajiban, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama, kita perlu berani mengevaluasi hubungan tersebut. Dalam Islam, persahabatan seharusnya dibangun di atas kejujuran, kasih sayang, saling menghormati, dan ajakan pada kebaikan.

Jika kita merasa berada dalam pertemanan yang kurang sehat, kita tidak harus menyelesaikannya dengan pertengkaran atau permusuhan. Kita dapat mulai dengan mengenali hal-hal yang membuat tidak nyaman, menyampaikan batasan secara baik-baik, dan mengurangi keterlibatan dalam kegiatan yang membawa pengaruh buruk. Menjaga jarak bukan berarti membenci seseorang, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri agar tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Kita juga bisa memperluas lingkungan pertemanan melalui kegiatan positif, seperti organisasi sekolah, kegiatan keagamaan, belajar bersama, atau komunitas yang mendukung perkembangan diri. Jika menghadapi tekanan, perundungan, atau situasi yang sulit diselesaikan sendiri, jangan ragu meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Pada akhirnya, teman yang baik bukanlah teman yang selalu membenarkan semua tindakan kita, melainkan teman yang membantu kita mengenali kesalahan dan memperbaikinya tanpa merendahkan harga diri. Persahabatan yang sehat membuat kita merasa dihargai, memiliki ruang untuk berkembang, dan terdorong menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.

Penulis : Mas Izy & Mas Fawwaz – Santri Kelas 8 SMP Integral Hidayatullah Kebumen

Kolaborasi LAZNAS BMH dan Pemkab Kebumen Hadirkan Rumah Sehat untuk Balita Pejuang TBC

Harapan baru hadir bagi Adik Daffi As Soleh (3), balita yang tengah berjuang melawan tuberkulosis (TBC). Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kebumen, BMH, dan sejumlah lembaga zakat, rumah yang ditempatinya bersama keluarga kini direnovasi menjadi hunian yang lebih sehat sebagai bagian dari ikhtiar mendukung proses pemulihan kesehatannya.

Program Bedah Rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga Bapak Sumeri yang tinggal di Dukuh Krajan, Desa Kewayuhan, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen.

Rumah hasil renovasi diresmikan pada Rabu (22/7/2026) sebagai wujud sinergi berbagai pihak dalam mendukung penanggulangan TBC melalui penyediaan lingkungan tempat tinggal yang layak, sehat, dan nyaman.

foto sebelum di bedah

Ketua Unit Layanan Zakat (ULZ) BMH Kebumen, Ismoyo, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam merealisasikan program tersebut.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada para donatur serta seluruh mitra yang telah bersinergi. Kepedulian dan kolaborasi ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih terus hidup untuk membantu meringankan beban keluarga Bapak Sumeri,” ujar Ismoyo.

proses bedah rumah

Bapak Sumeri sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas bongkar muat genteng dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ekonomi keluarga membuat impian memiliki rumah yang layak huni sulit diwujudkan tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak.

Kini, melalui sinergi pemerintah daerah, BMH, lembaga zakat, dan para donatur, keluarga tersebut dapat menempati rumah yang lebih sehat dan layak.

Lingkungan hunian yang baik diharapkan dapat mendukung proses penyembuhan Adik Daffi sekaligus meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga.

peresmian bedah rumah


Ismoyo berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga menjadi penyemangat bagi keluarga yang sedang menghadapi ujian.

“Semoga ikhtiar bersama ini menjadi jalan kesembuhan bagi Adik Daffi serta menjadi amal jariyah bagi seluruh donatur dan pihak yang telah bergotong royong mewujudkan rumah sehat ini. Semoga semakin banyak kolaborasi kebaikan yang dapat menghadirkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan,” pungkasnya.

Muliakan Anak Yatim di Bulan Muharam, BMH ULZ Kebumen Salurkan Program Muharram Berbagi dalam 4 agenda

Dalam rangka memuliakan anak yatim di bulan Muharram 1448 Hijriah, BMH ULZ Kebumen menyalurkan berbagi program Muharram kepada anak-anak yatim yang di rangkai dalam 4 agenda

Pertama agenda bersama Kemendang dan seluruh LAZ kebumen di ari Kamis, 25 Juni 2026, dilanjukan di Ruang Teater Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kebumen, Kamis (9/7/2026) bersama 50 anak yatim. Yang terbaru, Ahad (12/07/2026) penyaluran santunan dan bingkisan bersama 100 anak yatim yang di laksanakan d kediaman mitra BMH dan sekaligus memperingati Ulang tahun yang ke 85 Ibu Sutini Seger sudrajat. Serta agenda yang akan datang di hari Jum’at (17/07/2026) bersama mitra BMH Ikatan Notaris Kebumen yang akan menyalurkan santunan kembali buat anak yatim. Total anak yang mendapatkan kebahagian kali ini sejumlah 165 anak.

Menyoroti Kegiatan yang di laksanakan di hari kamis, 9 juli merupakan bagian dari program Muharram Berbagi yang bertujuan menghadirkan kebahagiaan sekaligus mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian kepada anak-anak yatim pada bulan yang dimuliakan.

Kegiatan ini diisi dengan Nobar Film Edukatif dan Dongeng oleh Kak Roy dari SDIT Al-Madinah Kebumen, dilanjutkan dengan pemberian santunan Muharam, Bingkisan Muharram, pemberian alat sekolah, Beasiswa Pendidikan dan Pemberdayaan Kambing. Di momentum Muharram ini Program Pemberdayan Kambing difokuskan untuk pesantren.

Penyaluran berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kebahagiaan. Anak-anak tampak antusias menerima program tersebut yang berasal dari amanah para donatur BMH.

Salah satu penerima manfaat, Fahri, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan.

“Terima kasih kakak-kakak BMH dan para donatur atas bingkisannya. Saya senang sekali. Semoga Allah membalas semua kebaikan kakak-kakak BMH,” ujarnya.

Kepala Program dan Pemberdayaan BMH ULZ Kebumen, Ukrom, mengatakan bahwa Muharram menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak kepedulian kepada anak-anak yatim.

“Melalui program Muharram Berbagi ini kami ingin menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim sekaligus mengajak masyarakat memuliakan mereka di bulan Muharram. Kami berharap program ini dapat membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yatim dan menumbuhkan semangat belajar dan beribadah,” ungkapnya.

BMH ULZ Kebumen berharap dukungan para donatur terus mengalir sehingga semakin banyak anak yatim yang dapat merasakan manfaat program Muharram Berbagi serta memperoleh perhatian dan harapan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Mengetuk Pintu Langit di Waktu Subuh: Lailatul Ijtima’ Ditutup dengan Salam, Doa, dan Semangat Perjuangan

Kebumen — Udara dini hari yang sejuk di Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen terasa begitu hidup pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah malam sebelumnya diisi dengan penguatan ruhiyah dan perjuangan, rangkaian Lailatul Ijtima’ berlanjut hingga waktu Subuh dalam suasana yang hangat, khidmat, dan penuh kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat tahajjud berjamaah yang diikuti para kader, jamaah, santri, dan asatidzah di Masjid Darul Iman. Dalam keheningan malam, lantunan doa dan munajat terasa begitu syahdu, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.

Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah dan dzikir pagi bersama, suasana kemudian berubah menjadi lebih segar dan penuh semangat ketika seluruh peserta mengikuti riyadhah ringan yang langsung dipandu oleh K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I. Dengan gaya khas yang hangat dan membangkitkan semangat, beliau mengajak seluruh peserta untuk menggerakkan badan sekaligus menyegarkan jiwa sebelum memasuki kajian utama.

Pada sesi kajian Subuh, Abah Yai Akhmad Yunus menyampaikan materi bertajuk:

“Mengetuk Pintu Langit, Menebar Damai di Bumi: Urgensi Salam dan Doa”

Dalam kajiannya, beliau mengingatkan bahwa salam dan doa bukan sekadar rutinitas lisan atau formalitas sosial, melainkan bagian penting dari kekuatan ruhiyah seorang muslim. Salam adalah pintu kasih sayang dan persaudaraan, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan sekaligus senjata terbesar orang beriman.

Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali menghidupkan budaya salam di tengah masyarakat serta memperkuat keyakinan terhadap kedahsyatan doa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan perjuangan dakwah.

Beberapa peserta tampak larut dalam suasana perenungan ketika beliau menyampaikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menebar salam sebagai jalan menghadirkan cinta dan kedamaian di tengah manusia.

Setelah kajian selesai, seluruh kader, jamaah, asatidzah, dan santri melanjutkan kebersamaan dengan sarapan pagi bersama di lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen. Suasana sederhana namun penuh kehangatan itu menjadi penutup indah dari rangkaian Lailatul Ijtima’ tahun ini.

Tak lama berselang, para asatidzah dan seluruh kader kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan amanah perjuangan di tempat pengabdiannya masing-masing—membawa pulang semangat baru, hati yang lebih kuat, dan ruh perjuangan yang kembali menyala.

Karena sejatinya, majelis seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat hati-hati yang lelah kembali dikuatkan untuk terus berjalan di jalan dakwah dan pengabdian.

Bukan Sekadar Penulis: Ali bin Abi Thalib dan Jantung Kepemimpinan Nabi ﷺ

Ketika nama Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه disebut, kebanyakan orang langsung mengingat keberaniannya di medan perang, ilmunya yang luas, atau kedekatannya sebagai sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ. Namun di balik itu semua, Ali juga memegang peran yang sangat strategis dalam pemerintahan Nabi ﷺ. Ia bukan sekadar penulis surat atau sekretaris biasa, tetapi bagian penting dari lingkaran kepercayaan Rasulullah ﷺ.

Sejak usia muda, Ali tumbuh langsung di rumah Nabi ﷺ. Ia menyaksikan bagaimana wahyu turun, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana Rasulullah ﷺ memimpin umat. Kedekatan ini menjadikan Ali bukan hanya pembantu administratif, tetapi sosok yang memahami cara berpikir dan visi dakwah Nabi ﷺ secara mendalam.

Dalam banyak riwayat, Ali dipercaya untuk menulis berbagai dokumen penting negara Islam. Namun tugas itu bukan sekadar “menulis”. Ia harus memahami isi, tujuan, bahkan dampak politik dari setiap redaksi yang dicatat.

Salah satu kisah paling heroik dan strategis terjadi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Ketika Rasulullah ﷺ melakukan perjanjian damai dengan Quraisy, beliau memerintahkan Ali untuk menulis isi kesepakatan. Nabi ﷺ bersabda:

اكْتُبْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim.”¹

Namun wakil Quraisy menolak lafadz tersebut dan meminta diganti dengan redaksi Arab yang biasa mereka gunakan. Kemudian Nabi ﷺ berkata:

اكْتُبْ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Tulislah: Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasulullah.”

Sekali lagi Quraisy menolak kata “Rasulullah”. Mereka berkata: “Kalau kami mengakui engkau Rasulullah, kami tidak akan memerangimu.”

Di sinilah tampak kedalaman cinta dan loyalitas Ali رضي الله عنه. Ketika Rasulullah ﷺ meminta Ali menghapus tulisan “Rasulullah”, Ali berkata:

وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا
“Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya selamanya.”²

Ali bukan membangkang, tetapi ia begitu mencintai Rasulullah ﷺ hingga berat menghapus gelar mulia itu. Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan kebijaksanaan politik dan maslahat yang lebih besar. Beliau akhirnya menghapusnya sendiri demi tercapainya perdamaian.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Ali bukan sekadar juru tulis. Ia adalah orang yang memahami harga sebuah identitas, kehormatan dakwah, dan arah strategi umat Islam. Ia hadir dalam momen-momen besar yang menentukan masa depan Islam.

Peran strategis Ali juga tampak ketika Rasulullah ﷺ hendak hijrah ke Madinah. Saat kaum Quraisy berencana membunuh Nabi ﷺ, Ali diminta tidur di ranjang beliau untuk mengelabui musuh.

Ini bukan tugas biasa. Ini misi yang mempertaruhkan nyawa.

Ali رضي الله عنه menerima tugas itu tanpa ragu. Ia tahu pedang-pedang Quraisy mungkin akan menebas tubuhnya saat fajar tiba. Namun demi menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ dan keberlangsungan dakwah, ia rela menggantikan posisi Nabi ﷺ di tempat tidur beliau.

Allah ﷻ mengabadikan pengorbanan seperti ini dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari ridha Allah.”³

Sebagian ahli tafsir menyebut ayat ini turun berkaitan dengan pengorbanan Ali رضي الله عنه pada malam hijrah.⁴

Bayangkan, seorang pemuda yang masih sangat muda saat itu, rela tidur di ranjang yang sedang menjadi target pembunuhan. Ini bukan sekadar loyalitas administratif, tetapi kesetiaan total terhadap risalah Islam.

Selain itu, Ali juga dikenal sebagai tempat Rasulullah ﷺ memberikan amanah ilmu dan hukum. Dalam banyak persoalan penting, Nabi ﷺ mempercayakan Ali untuk menyampaikan keputusan, mengadili perkara, dan memegang panji dalam peperangan besar.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang Ali:

أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ
“Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.”⁵

Dan dalam riwayat lain:

أَقْضَاهُمْ عَلِيٌّ
“Orang yang paling baik dalam memutuskan hukum di antara mereka adalah Ali.”⁶

Ini menunjukkan bahwa Ali bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara intelektual dan hukum.

Sebagai sekretaris dan penasihat Nabi ﷺ, Ali memiliki beberapa peran strategis sekaligus: menjaga rahasia, menulis dokumen penting, memahami arah politik umat, membantu penyelesaian hukum, hingga menjadi orang yang dipercaya dalam situasi paling genting.

Ia adalah contoh bahwa orang yang bekerja dekat dengan pemimpin tidak cukup hanya pandai bekerja. Ia harus memiliki: loyalitas,kecerdasan,keberanian,kemampuan membaca situasi,serta hati yang bersih untuk menjaga amanah.

Ali رضي الله عنه bekerja bukan demi jabatan, tetapi demi menjaga agama Allah. Ia hadir di balik banyak keputusan besar Islam, seringkali tanpa sorotan, namun pengaruhnya sangat besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.

Footnote:
1. HR. Tirmidzi, no. 3790; Ibnu Majah, no. 154.
2. HR. Bukhari, no. 2731; Muslim, no. 1783.
3. HR. Bukhari, no. 2731.
4. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 207.
5. Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan, juz 4, hlm. 567.
6. HR. Bukhari, no. 2699.

Sekretaris Tidak Sekadar Menulis Surat: DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel Buka Cakrawala Baru Organisasi

Yogyakarta — Dalam upaya meningkatkan visi, kapasitas, dan peran strategis sekretaris di lingkungan organisasi, DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel mengadakan agenda pembinaan bagi seluruh sekretaris DPD se-DIY dan Jatengbagsel pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Kantor Sekretariat DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel, Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi forum penguatan peran sekretaris sebagai motor administrasi, komunikasi, serta penggerak sistem organisasi di masing-masing daerah.

Pada sesi pertama yang berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB, peserta mendapatkan pembinaan dari Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan materi penguatan visi dan cakrawala berpikir sekretaris dalam menopang perjuangan dakwah organisasi. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya sekretaris memiliki pandangan yang luas, kemampuan manajerial, serta kesiapan menjadi penghubung strategis dalam gerak dakwah.

Kemudian pada sesi kedua pukul 12.30–14.30 WIB, agenda dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan pengelolaan website organisasi yang didampingi oleh Ustadz Mahmud Thorif selaku Departemen Organisasi & HAL DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel. Sesi ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penguatan media dan digitalisasi organisasi di tingkat DPD.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sekretaris DPD mampu meningkatkan profesionalitas, memperkuat sinergi antarwilayah, serta lebih siap menghadapi tantangan dakwah dan organisasi di era digital.

Kaji Geopolitik, Ustadz Fathurrahman Ajak Kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan Kedepankan Sikap Wasatiyyah

YOGYAKARTA – Mengawali momentum Syawal dengan semangat literasi dan konsolidasi, seluruh kader Hidayatullah se-DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan menggelar agenda Syawalan & Diskusi Geopolitik pada Jumat malam, 17 April 2026. Bertempat di Kampus Madya As-Sakinah, Yogyakarta, acara ini menjadi ajang refleksi sekaligus pembekalan strategis bagi para kader.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran sesepuh organisasi serta ratusan kader dari berbagai daerah di wilayah DIY-JATENG Bagian Selatan. Hadir sebagai narasumber utama, Ustadz Fathurrahman, A.Md., yang memberikan bedah situasi mengenai dinamika global yang tengah menghangat.

Dalam paparannya, Ustadz Fathurrahman menekankan pentingnya posisi Wasatiyyah bagi setiap kader Hidayatullah. Menurutnya, di tengah karut-marut geopolitik internasional saat ini, kader tidak boleh terjebak pada polarisasi ekstrem.

“Kader Hidayatullah harus mampu berdiri di posisi wasatiyyah. Ini bukan berarti tidak punya sikap, melainkan sikap yang adil, berimbang, dan berlandaskan wahyu dalam memandang setiap persoalan dunia,” ujar beliau.

Menariknya, materi geopolitik yang biasanya berat dapat dikemas oleh Ustadz Fathurrahman dengan analogi yang ringan dan relevan. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana sikap wasatiyyah diterapkan dalam:

• Filter Informasi: Tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks terkait konflik global.

• Interaksi Sosial: Tetap santun dan solutif di tengah perbedaan pandangan politik.

• Kemandirian Kader: Membangun kekuatan spiritual sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni global.

Kehadiran para sesepuh dalam agenda ini memberikan bobot spiritual tersendiri. Diskusi berlangsung interaktif, di mana para kader muda diajak untuk lebih peka terhadap isu eksternal tanpa melupakan tugas internal dakwah di wilayah masing-masing.

Melalui agenda ini, diharapkan kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan pulang membawa perspektif baru: bahwa memahami geopolitik adalah bagian dari menjaga kedaulatan dakwah, dan sikap wasatiyyah adalah kunci untuk tetap relevan di zaman yang terus berubah.

Slow Living di Jawa Tengah: Antara Romantisasi dan Realitas

“Jawa Tengah itu enak, hidupnya slow living.”

Kalimat ini sering kita dengar. Gambaran hidup yang tenang, santai, biaya murah, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Tapi, benarkah realitasnya seperti itu?

Tahun 2025, rata-rata UMR di banyak kota Jawa Tengah masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang sudah tembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat.

Biasanya langsung ada yang membela,
“Ya kan biaya hidup di sini murah.”

Masalahnya, tidak semurah yang dibayangkan.

Said (28), seorang desainer grafis di Magelang, hanya tertawa getir saat mendengar itu. Menurutnya, harga-harga sekarang sudah “nasional”. Bensin, beras, minyak goreng, telur—semuanya hampir sama dengan kota besar.

“Bahkan kopi di kafe sekarang Rp25.000–Rp30.000. Dengan gaji Rp2 jutaan, nongkrong dua kali seminggu saja sudah terasa mewah,” katanya.

Barang-barang lain juga sama saja. Mau beli sepatu branded atau gawai baru, harganya tidak ikut “turun gunung” hanya karena kita tinggal dekat Gunung Sumbing.

“Jadi slow living itu lebih cocok buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan. Kalau kami? Ya tetap kerja keras, kadang harus ambil kerjaan tambahan,” tambahnya.

Di Jawa Tengah, ada satu hal yang sering tidak dihitung dalam biaya hidup: biaya sosial.

Budaya guyub rukun memang indah. Saling bantu, dekat dengan tetangga, terasa hangat. Tapi di balik itu, ada “tagihan” yang tidak kecil.

Diyah (30), ibu rumah tangga di Boyolali, sangat merasakannya.

“Kalau ada hajatan, kita harus datang dan kasih amplop. Sekarang minimal Rp50.000. Kalau orang terdekat ya bisa Rp100.000 bahkan lebih,” ujarnya.

Masalahnya, undangan tidak datang satu-satu.

“Pernah seminggu ada empat undangan. Sudah Rp200.000. Belum iuran ini-itu—kematian, 17-an, perbaikan jalan, jimpitan. Kadang gaji suami yang pas-pasan habis cuma buat ‘rukun’ biar tidak jadi omongan,” katanya.

Belum lagi tenaga. Ada tradisi rewang—membantu tetangga yang punya hajatan. Bukan cuma satu-dua jam, kadang bisa berhari-hari. Bagi yang bekerja, ini jadi dilema: tidak ikut dianggap tidak peduli, ikut berarti capek luar biasa.

Ditambah lagi arisan. Di banyak tempat, ini bukan sekadar menabung, tapi juga “absensi sosial”. Tidak datang? Siap-siap jadi bahan pembicaraan.

Di tengah kondisi ini, ada satu kelompok yang sering “diam-diam menahan”: para guru, khususnya di lembaga pendidikan Islam.

Gaji tidak besar—bahkan sering di bawah UMR. Tapi tuntutan sosial? Sama.

Mereka tetap harus datang ke undangan, tetap ikut iuran, tetap hadir di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, mereka dituntut menjadi teladan.

Harus rapi. Harus pantas. Harus hadir. Harus peduli.

Padahal, di balik itu, banyak dari mereka harus mencari tambahan: ngajar di beberapa tempat, les privat, jualan kecil-kecilan. Semua demi menutup kebutuhan—dan tetap “terlihat layak”.

Akhirnya, hidup jadi jauh dari kata santai. Bukan slow living, tapi survival living.

Kalau dipikir-pikir, slow living di Jawa Tengah itu bukan tidak ada. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya.

Yang benar-benar bisa menikmati biasanya:

  • Punya tabungan besar
  • Tidak terlalu bergantung pada gaji bulanan kecil
  • Atau datang dari kota besar dengan kondisi finansial sudah aman

Mereka bisa ngopi santai, menikmati suasana desa, tanpa terlalu memikirkan amplop undangan minggu ini.

Sementara bagi banyak warga lokal—termasuk para guru—hidup tetap penuh hitung-hitungan.

Jadi mungkin yang perlu diluruskan bukan Jawa Tengahnya, tapi cara kita melihatnya.

Karena ternyata, slow living itu bukan soal tinggal di mana…
tapi soal punya cukup atau tidak.