Tebar Kepedulian di Hari Berkah, LAZNAS BMH Salurkan 200 Paket Makanan

Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali dihadirkan BMH melalui program Jum’at Berkah yang digelar pada Jumat (22/5) di Masjid Darul Iman, Jalan Joko Sangkrip 1,2 KM, Kebumen.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 paket makanan siap santap dibagikan kepada masyarakat sekitar usai salat Jumat.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB ini disambut antusias oleh warga.

Program Jum’at Berkah menjadi salah satu ikhtiar rutin BMH dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pada hari Jumat yang penuh keberkahan.

Makruf selaku Amil Prodaya menyampaikan bahwa program ini telah menjadi bagian dari komitmen BMH dalam menumbuhkan semangat kepedulian dan budaya berbagi di tengah masyarakat.

“Program ini adalah program rutin yang BMH salurkan. Kami menjadi salah satu pelopor di Kota Kebumen saat program seperti ini masih jarang sekali ada. Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat hampir setiap masjid sudah mengadakan program Jumat berbagi. Semoga ini menjadi amal jariyah bagi BMH dan para donatur,” ujarnya.

Menurutnya, keberlangsungan program Jum’at Berkah tidak lepas dari dukungan para donatur yang terus mempercayakan amanah kebaikannya melalui BMH. Karena itu, program ini diharapkan dapat terus menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Kehadiran program ini pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu penerima manfaat, Amin Ghofur, S.Pd., warga Tamanwinangun yang berprofesi sebagai guru, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada BMH serta para donatur.

“Terima kasih kami sampaikan kepada BMH dan para donatur yang telah menjadikan program Jum’at Berkah ini selalu hadir untuk masyarakat. Semoga ke depan lebih banyak lagi donatur yang ikut serta sehingga BMH bisa memperluas daerah penyaluran,” tuturnya.

Melalui program Jum’at Berkah, BMH berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat.

Program ini rutin disalurkan setiap akhir bulan dengan lokasi yang berpindah-pindah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan merata di berbagai wilayah.

Mengetuk Pintu Langit di Waktu Subuh: Lailatul Ijtima’ Ditutup dengan Salam, Doa, dan Semangat Perjuangan

Kebumen — Udara dini hari yang sejuk di Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen terasa begitu hidup pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah malam sebelumnya diisi dengan penguatan ruhiyah dan perjuangan, rangkaian Lailatul Ijtima’ berlanjut hingga waktu Subuh dalam suasana yang hangat, khidmat, dan penuh kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat tahajjud berjamaah yang diikuti para kader, jamaah, santri, dan asatidzah di Masjid Darul Iman. Dalam keheningan malam, lantunan doa dan munajat terasa begitu syahdu, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.

Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah dan dzikir pagi bersama, suasana kemudian berubah menjadi lebih segar dan penuh semangat ketika seluruh peserta mengikuti riyadhah ringan yang langsung dipandu oleh K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I. Dengan gaya khas yang hangat dan membangkitkan semangat, beliau mengajak seluruh peserta untuk menggerakkan badan sekaligus menyegarkan jiwa sebelum memasuki kajian utama.

Pada sesi kajian Subuh, Abah Yai Akhmad Yunus menyampaikan materi bertajuk:

“Mengetuk Pintu Langit, Menebar Damai di Bumi: Urgensi Salam dan Doa”

Dalam kajiannya, beliau mengingatkan bahwa salam dan doa bukan sekadar rutinitas lisan atau formalitas sosial, melainkan bagian penting dari kekuatan ruhiyah seorang muslim. Salam adalah pintu kasih sayang dan persaudaraan, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan sekaligus senjata terbesar orang beriman.

Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali menghidupkan budaya salam di tengah masyarakat serta memperkuat keyakinan terhadap kedahsyatan doa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan perjuangan dakwah.

Beberapa peserta tampak larut dalam suasana perenungan ketika beliau menyampaikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menebar salam sebagai jalan menghadirkan cinta dan kedamaian di tengah manusia.

Setelah kajian selesai, seluruh kader, jamaah, asatidzah, dan santri melanjutkan kebersamaan dengan sarapan pagi bersama di lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen. Suasana sederhana namun penuh kehangatan itu menjadi penutup indah dari rangkaian Lailatul Ijtima’ tahun ini.

Tak lama berselang, para asatidzah dan seluruh kader kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan amanah perjuangan di tempat pengabdiannya masing-masing—membawa pulang semangat baru, hati yang lebih kuat, dan ruh perjuangan yang kembali menyala.

Karena sejatinya, majelis seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat hati-hati yang lelah kembali dikuatkan untuk terus berjalan di jalan dakwah dan pengabdian.

Lelaki Tidak Selalu Bercerita, Tapi Malam Itu Mereka Menguatkan Diri Bersama

ebumen — Suasana hangat penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Darul Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen pada Jumat malam, 22 Mei 2026. Puluhan kader, jamaah, asatidzah, hingga para sesepuh Hidayatullah Kebumen berkumpul dalam agenda Lailatul Ijtima’, sebuah majelis penguatan ruhiyah dan perjuangan yang kembali menghidupkan semangat kebersamaan dalam dakwah.

Sekitar 60 kader tercatat hadir dalam agenda yang berlangsung dari ba’da Isya hingga menjelang Subuh tersebut. Dengan balutan baju koko dan gamis putih, para peserta memenuhi area masjid dalam suasana yang hangat namun penuh wibawa, menghadirkan pemandangan ukhuwah yang begitu kuat dan menenangkan.

Pada sesi pertama, majelis diisi oleh Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan tema:

“Laki-laki Tidak Bercerita, Laki-laki Berkorban”

Tema tersebut langsung mengetuk ruang batin para peserta. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak seluruh kader untuk memahami bahwa perjuangan seorang laki-laki tidak selalu tampak dalam kata-kata, tetapi hadir dalam tanggung jawab, keteguhan, dan pengorbanan yang sering kali sunyi dari pujian.

Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya pandai berbicara tentang idealisme, tetapi oleh mereka yang mampu bertahan di tengah lelah, tetap hadir meski sibuk, dan terus melangkah walau tidak selalu dimengerti.

“Kadang lelaki tidak punya tempat bercerita. Maka majelis seperti ini menjadi tempat untuk kembali menguatkan hati, meluruskan niat, dan mengingat bahwa perjuangan ini tidak dijalani sendirian,” kurang lebih demikian pesan yang begitu membekas di tengah para peserta.

Malam itu bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang pertemuan hati-hati yang sedang berjuang. Tempat di mana para kader kembali diingatkan bahwa dakwah bukan hanya soal program dan kegiatan, tetapi tentang menjaga api keimanan agar tetap menyala di tengah beratnya kehidupan.

Kehadiran para sesepuh, asatidzah, dan seluruh kader lintas generasi juga menjadi simbol kuatnya sinergi dan ukhuwah perjuangan di tubuh Hidayatullah Kebumen. Tidak sedikit peserta yang tampak larut dalam suasana perenungan ketika materi berlangsung.

Melalui agenda Lailatul Ijtima’ ini, diharapkan lahir kembali semangat pengorbanan, keteguhan dalam dakwah, serta generasi kader yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara ruhiyah dan mental perjuangan.

Sekretaris Tidak Sekadar Menulis Surat: DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel Buka Cakrawala Baru Organisasi

Yogyakarta — Dalam upaya meningkatkan visi, kapasitas, dan peran strategis sekretaris di lingkungan organisasi, DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel mengadakan agenda pembinaan bagi seluruh sekretaris DPD se-DIY dan Jatengbagsel pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Kantor Sekretariat DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel, Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi forum penguatan peran sekretaris sebagai motor administrasi, komunikasi, serta penggerak sistem organisasi di masing-masing daerah.

Pada sesi pertama yang berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB, peserta mendapatkan pembinaan dari Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan materi penguatan visi dan cakrawala berpikir sekretaris dalam menopang perjuangan dakwah organisasi. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya sekretaris memiliki pandangan yang luas, kemampuan manajerial, serta kesiapan menjadi penghubung strategis dalam gerak dakwah.

Kemudian pada sesi kedua pukul 12.30–14.30 WIB, agenda dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan pengelolaan website organisasi yang didampingi oleh Ustadz Mahmud Thorif selaku Departemen Organisasi & HAL DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel. Sesi ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penguatan media dan digitalisasi organisasi di tingkat DPD.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sekretaris DPD mampu meningkatkan profesionalitas, memperkuat sinergi antarwilayah, serta lebih siap menghadapi tantangan dakwah dan organisasi di era digital.

Sembako Dari ULZ BMH Kebumen untuk mbah Thoyibah

Matahari mulai condong kebarat, sebagian petani bersiap pulang untuk menghadapi malam dengan harapan di rumah sudah ada bahan makanan untuk dimasak yang nanti nya disantap bersama keluarga, tapi hal ini tidak didapati oleh mbah thoibah wanita yang tahun ini genap berusia 72 tahun. Karena diusianya ini sudah tidak produktif lagi untuk berangkat kesawah seperti masa mudah dahulu. Hal ini yang membuat tim prodaya BMH bergerak membantu beliau dengan menyalurkan paket sembako (selasa, 12/5).

Mbah thoyibah tinggal di rumah yang beralamat di Desa Selang Rt 01 Rw 05 Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, saat ini beliau hidup sederhana bersama bersama 1 anak dan menantunya serta seorang cucu. Bantuan paket sembako yang di berikan BMH kebumen sangat berarti bagi nya. Ada pun paket sembako yang di terima berupa Beras, Kecap, Teh, Gula, Kopi dan jajanan ringan serta beberapa sembako pelengkap lainnya.

Mbah thoyibah menyampaikan ucapan trimakasih kepada BMH atas program ini,dan memanjatkan doa “semoga BMH kebumen makin eksis dan para amilnya sehat selalu”. Tidak lupa beliau mendoakan para donatur yang selalu mendukung sehingga program ini bisa di laksanakan.

Kadiv Prodaya ULZ BMH Kebumen Uqrom mengatakan bahwa, Program ini adalah program yang rutin BMH berikan setiap bulan nya kepada keluarga yang tidak mampu dengan demikian harapan nya bisa membantu meringankan beban ekonomi di keluarga tersebut.*/moyo

Kaji Geopolitik, Ustadz Fathurrahman Ajak Kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan Kedepankan Sikap Wasatiyyah

YOGYAKARTA – Mengawali momentum Syawal dengan semangat literasi dan konsolidasi, seluruh kader Hidayatullah se-DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan menggelar agenda Syawalan & Diskusi Geopolitik pada Jumat malam, 17 April 2026. Bertempat di Kampus Madya As-Sakinah, Yogyakarta, acara ini menjadi ajang refleksi sekaligus pembekalan strategis bagi para kader.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran sesepuh organisasi serta ratusan kader dari berbagai daerah di wilayah DIY-JATENG Bagian Selatan. Hadir sebagai narasumber utama, Ustadz Fathurrahman, A.Md., yang memberikan bedah situasi mengenai dinamika global yang tengah menghangat.

Dalam paparannya, Ustadz Fathurrahman menekankan pentingnya posisi Wasatiyyah bagi setiap kader Hidayatullah. Menurutnya, di tengah karut-marut geopolitik internasional saat ini, kader tidak boleh terjebak pada polarisasi ekstrem.

“Kader Hidayatullah harus mampu berdiri di posisi wasatiyyah. Ini bukan berarti tidak punya sikap, melainkan sikap yang adil, berimbang, dan berlandaskan wahyu dalam memandang setiap persoalan dunia,” ujar beliau.

Menariknya, materi geopolitik yang biasanya berat dapat dikemas oleh Ustadz Fathurrahman dengan analogi yang ringan dan relevan. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana sikap wasatiyyah diterapkan dalam:

Filter Informasi: Tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks terkait konflik global.

Interaksi Sosial: Tetap santun dan solutif di tengah perbedaan pandangan politik.

Kemandirian Kader: Membangun kekuatan spiritual sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni global.

Kehadiran para sesepuh dalam agenda ini memberikan bobot spiritual tersendiri. Diskusi berlangsung interaktif, di mana para kader muda diajak untuk lebih peka terhadap isu eksternal tanpa melupakan tugas internal dakwah di wilayah masing-masing.

Melalui agenda ini, diharapkan kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan pulang membawa perspektif baru: bahwa memahami geopolitik adalah bagian dari menjaga kedaulatan dakwah, dan sikap wasatiyyah adalah kunci untuk tetap relevan di zaman yang terus berubah.

Halaqah MZ & BMH Kebumen Kembali Digelar, Perkuat Ruhiyah Amil dan Asatidzah

Kebumen – Dalam upaya menjaga semangat juang dan memperkuat nilai-nilai ruhiyah dalam aktivitas dakwah sosial, halaqah rutin yang diselenggarakan oleh MZ (Mitra Zakat) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kebumen kembali digelar pada Jumat, 10 April 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran amil dan asatidzah untuk kembali menyegarkan niat, memperkuat spiritualitas, serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah dakwah melalui bidang sosial. Halaqah ini dirancang sebagai ruang pembinaan yang tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana penguatan hati dan kebersamaan dalam perjuangan.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan ruhiyah, tazkiyatun nafs, serta pengingat akan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat untuk umat. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat aktivitas sosial sering kali menuntut tenaga dan pikiran yang besar, sehingga membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh.

Kegiatan halaqah ini juga menjadi simbol sinergi dakwah antara MZ dan BMH Kebumen dalam satu barisan perjuangan di bawah naungan Hidayatullah. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran dakwah sosial yang tidak hanya berorientasi pada distribusi bantuan, tetapi juga pada pembinaan umat secara menyeluruh.

Dengan kembali dimulainya halaqah rutin ini, diharapkan seluruh amil dan asatidzah semakin memiliki semangat yang terjaga, hati yang kuat, serta visi yang selaras dalam mengemban misi dakwah. Tidak hanya sebagai pekerja sosial, tetapi sebagai pejuang dakwah yang menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Halaqah ini direncanakan akan terus berlangsung secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan ruhiyah dan soliditas perjuangan dalam dakwah sosial di Kebumen.

3 Dekade Menjemput Berkah, Menenun Sejarah: Jejak Langkah Sosok Perintis di Ujung Selatan Mataram

KEBUMEN – Matahari di ufuk Ujung Selatan Mataram bersinar lebih hangat pada Ahad, 5 April 2026. Di bawah naungan langit Kebumen yang teduh, sebuah pertemuan tak biasa digelar. Bukan sekadar jabat tangan Halal Bihalal, melainkan sebuah simfoni syukur atas tiga dasawarsa pengabdian yang lahir dari rahim kesabaran.

Ratusan pasang mata—mulai dari pejabat publik, para kyai dan ulama, wali santri, hingga para pejuang pendidikan di bawah bendera Hidayatullah Kebumen—berkumpul dengan satu rasa yang sama: Takzim. Mereka hadir untuk menyaksikan napak tilas seorang pejuang sunyi, Abah K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I., yang tepat hari ini genap 30 tahun mewakafkan seluruh detak hidupnya bagi ummat.

Bermodal Doa dan Sepeda Pinjaman

Mundur ke belakang, tiga puluh tahun silam bukanlah kemegahan gedung yang menyapa. Sejarah mencatat sebuah fragmen yang menggetarkan jiwa: seorang pemuda dengan tekad baja, menggenggam beberapa lembar Majalah Suara Hidayatullah bekas, menembus debu jalanan dengan sepeda ontel pinjaman dari kerabat jauh.

Tanpa peta kepastian, tanpa janji kesejahteraan, Abah Yunus muda mengetuk satu demi satu pintu rumah warga. Setiap kayuhan sepedanya adalah zikir, dan setiap keringat yang jatuh adalah benih doa. Beliau tidak sedang menawarkan proposal bangunan, melainkan menawarkan cahaya dakwah di atas alas keikhlasan yang paling dasar.

“Pencapaian hari ini bukanlah hadiah jatuh dari langit, melainkan akumulasi dari air mata yang tumpah di sujud-sujud malam dan langkah kaki yang tak pernah surut meski dihadang badai ketidakpastian.”

Menenun Cahaya dari Titik Nol

Kini, tiga puluh tahun kemudian, sepeda ontel itu telah bertransformasi menjadi deretan unit pendidikan yang kokoh dan lingkungan berjamaah yang mandiri. Namun, pesan yang ingin disampaikan dalam momentum ini sangatlah jelas bagi seluruh kader: Segala kemudahan yang dinikmati hari ini memiliki harga yang sangat mahal.

Gedung-gedung yang berdiri tegak adalah monumen dari mentalitas baja seorang perintis. Keistiqomahan Abah Yunus membuktikan bahwa ketika azzam sudah terpatri untuk mengabdi pada agama, maka Allah-lah yang akan menenun jalan-jalan keberkahan yang tak terduga.

Refleksi bagi Kader Masa Kini

Acara ini menjadi pengingat tajam sekaligus haru bagi seluruh guru, staf, dan kader Hidayatullah. Bahwa keberhasilan lembaga bukan semata-mata soal manajemen modern, melainkan soal “ruh” perjuangan yang belum tentu sanggup dipikul oleh semua orang.

Napak tilas ini mengajak setiap yang hadir untuk bertanya pada diri sendiri: Sanggupkah kita tetap bertahan ketika yang kita miliki hanyalah majalah bekas dan sepeda pinjaman, namun di dada kita ada keyakinan yang menggetarkan Arsy?

Halal Bihalal 2026 ini ditutup dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar api perjuangan Abah Yunus dan seluruh asatidzah perintis di penjuru Indonesia terus menyala dalam jiwa-jiwa generasi penerus, agar sejarah yang ditenun dengan air mata ini tak lekang oleh zaman.

30 Tahun Yayasan Al-Iman: Bukan Sekadar Angka, Tapi Cerita Tentang Cinta yang Menemukan Jalan Pulang.

Paradoks Solidaritas: Mengurai Benang Kusut Geopolitik di Balik Tragedi Palestina

Eskalasi konflik Palestina-Israel yang memuncak sejak Oktober 2023 hingga 2025 bukan sekadar tragedi kemanusiaan yang berulang, melainkan cermin dari retaknya sistem internasional dan tajamnya benturan kepentingan nasional di Timur Tengah. Di tengah puing-puing Gaza, muncul sebuah pemandangan geopolitik yang kontras: Arab Saudi yang berupaya menjaga stabilitas demi ambisi ekonomi, dan Iran yang mengukuhkan diri sebagai garda depan perlawanan.

Pragmatisme Riyadh vs. Visi Revolusi Teheran

Bagi Arab Saudi, Palestina adalah isu yang sangat sensitif namun harus dikelola dengan pragmatisme tingkat tinggi. Di bawah komando Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), fokus utama kerajaan adalah keberhasilan Saudi Vision 2030—sebuah cetak biru transformasi ekonomi yang membutuhkan stabilitas regional total untuk menarik investasi asing. Riyadh berada dalam posisi bimbang; di satu sisi mereka sangat bergantung pada aliansi pertahanan Amerika Serikat, namun di sisi lain, agresi brutal Israel memaksa Saudi untuk menunda proses normalisasi (Abraham Accords) guna menjaga legitimasi mereka sebagai pelayan dua kota suci. Saudi memilih jalur diplomasi hati-hati, mendukung solusi dua negara, dan menyalurkan bantuan kemanusiaan masif melalui KSrelief untuk menghindari konfrontasi militer langsung.

Sebaliknya, Iran memandang konflik ini melalui lensa “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance). Bagi Teheran, mendukung Hamas dan Hizbullah bukan sekadar soal solidaritas agama, melainkan strategi “kedalaman pencegahan” (depth of deterrence) untuk menjauhkan ancaman dari perbatasan teritorialnya. Dengan memposisikan diri sebagai pembela kaum tertindas (mustadh’afin), Iran menggunakan isu Palestina untuk menantang hegemoni Barat dan mendegradasi pengaruh negara-negara Arab yang dianggap “berkhianat” karena menjalin hubungan dengan Israel.

Kegagalan Sistemik dan Panggung Domestik

Realitas pahit yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir adalah disfungsi institusi global. Dewan Keamanan PBB seringkali lumpuh akibat hak veto negara-negara besar, sementara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dianggap gagal memberikan tanggapan yang taringnya terasa nyata. Munculnya Abraham Accords pada 2020 pun dinilai oleh sebagian pihak sebagai puncak pragmatisme yang mencabut daya tawar kolektif bangsa Arab, mengubah status Palestina dari masalah kedaulatan politik menjadi sekadar “masalah kemanusiaan”.

Menariknya, jika ditinjau dari teori kritis, baik Iran maupun Israel dituding memanfaatkan konflik ini sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan domestik. Narasi “musuh bersama” digunakan oleh rezim di kedua belah pihak untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu internal dan menekan perbedaan pendapat di dalam negeri dengan kedok keamanan nasional.

Indonesia: Diplomasi “Jalan Tengah”

Di tengah kemandekan ini, Indonesia memiliki celah untuk tampil sebagai pemimpin diplomatik baru yang transformatif. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar yang menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, Indonesia menawarkan karakter Islam yang ramah dan toleran sebagai antitesis dari ekstremisme.

Meskipun di internal organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) terdapat spektrum pandangan yang beragam—mulai dari yang menolak keras normalisasi hingga yang mendorong dialog konstruktif—Indonesia secara konsisten memegang teguh amanat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan. Dengan posisi strategis di G20 dan ASEAN, Indonesia diharapkan mampu memobilisasi dukungan dari negara-negara berkembang (Global South) untuk mendesak penegakan hukum internasional di Palestina melampaui sekadar retorika.

Sehingga konflik Palestina adalah sebuah pengingat bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah lahir dari struktur global yang timpang. Selama hak-hak bangsa Palestina terus dikorbankan demi stabilitas ekonomi satu pihak atau ambisi ideologis pihak lainnya, tanah para nabi itu akan tetap menjadi panggung bagi pertarungan kepentingan yang tak kunjung usai.

Referensi:

  • Afrilia, T., & Sahide, A. (2026). The Different Attitudes of Saudi Arabia and Iran Towards the Palestinian-Israeli Conflict: A National Interest Analysis. Jurnal Ilmiah Global Education, 7(1), 167–183.
  • Aleksia, C. (2023). Promoting the Middle Way: Intercultural Communication, Governmental Systems, and Religious Solidarity in the Islamic Countries. Jurnal IMPRESI, 4(1).
  • Bahari, M. N. R., dkk. (2025). Negara Represi dan Ketimpangan Global: Pendekatan Teori Kritis Terhadap Eskalasi Perang Iran-Israel Tahun 2025. E-Journal UNIMUDA, 5(2).
  • Fawaid, B. (2025). Respons Elite Nahdlatul Ulama terhadap Wacana Normalisasi Hubungan Diplomatik Indonesia-Israel. Tesis Magister, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Martsela, P. Y., & Muhaimin, R. (2025). Pandangan Politik Luar Negeri Arab Saudi terhadap Genosida Israel atas Palestina Tahun 2023. Politea: Jurnal Pemikiran Politik Islam, 8(1).
  • Mustaqim, A. H. (2024). Mengapa OKI Belum Mampu Menyelesaikan Konflik antara Israel dan Palestina?. SINDOnews.com.
  • Sulistiyo, A. (2025). Masihkah Negara-negara Arab bersama Palestina?. Birokrat Menulis.
  • Taufikurrohman, C. (2023). Menempatkan Ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah Secara Bijak. Suara Muhammadiyah.
Rakyat Palestina Salurkan Donasi untuk Iftar dan Sahur di Pesantren Hidayatullah Kebumen

Kebumen — Sebuah kisah kepedulian yang menyentuh datang dari rakyat Palestina. Salah satu warga Palestina menyalurkan bantuan sebesar 700 USD atau hampir Rp.12.000.000,00 kepada Yayasan Al-Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen untuk mendukung penyediaan iftar dan sahur pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan di Masjid Darul Iman Kebumen.

Bantuan tersebut disampaikan melalui Syaikh Ahmad Abu Sharkh dari Palestina dan diterima langsung oleh K.H. Akhmad Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen. Penyerahan dilakukan pada Jumat, 13 Maret 2026, seusai pelaksanaan shalat tarawih di Masjid Darul Iman Kebumen.

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Ahmad Abu Sharkh menyampaikan rasa kebahagiaannya dapat turut berbagi dengan para santri dan jamaah di Kebumen, khususnya di tempat yang dipenuhi oleh para penghafal Al-Qur’an dan kaum muslimin yang melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat menjadi amal jariyah bagi rakyat Palestina, serta bagi mereka yang telah menyisihkan sebagian hartanya untuk mendukung kebaikan tersebut.

“Kami merasa sangat bahagia dapat berbagi di tempat yang dihuni para penghafal Al-Qur’an dan orang-orang yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan i’tikaf. Semoga ini menjadi amal jariyah bagi rakyat Palestina dan bagi mereka yang telah mengumpulkan sebagian hartanya untuk kebaikan ini,” ungkap Syaikh Ahmad Abu Sharkh.

Sementara itu, K.H. Akhmad Yunus menyampaikan rasa hormat dan haru yang mendalam atas kepedulian yang datang dari saudara-saudara di Palestina. Menurut beliau, bantuan tersebut menjadi pengingat yang kuat bagi umat Islam tentang arti persaudaraan dan kepedulian lintas bangsa.

“Kami merasa sangat terhormat menerima amanah ini. Bahkan kami merasa malu, ketika saudara-saudara kita di Palestina yang berada dalam kondisi jauh dari berbagai kenikmatan yang kita rasakan, justru masih memiliki kepedulian untuk membantu hidangan berbuka dan sahur bagi saudara-saudaranya di Indonesia,” tutur beliau.

Beliau juga menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi tamparan moral bagi umat Islam, khususnya masyarakat Indonesia, agar semakin menyadari kuatnya ikatan persaudaraan dengan rakyat Palestina.

Menurutnya, solidaritas yang ditunjukkan oleh rakyat Palestina ini membuktikan bahwa hubungan umat Islam tidak dibatasi oleh jarak geografis maupun kondisi ekonomi, melainkan dipersatukan oleh iman, kepedulian, dan semangat berbagi dalam kebaikan.

Program iftar dan sahur yang didukung oleh bantuan tersebut akan diperuntukkan bagi para santri penghafal Al-Qur’an, jamaah masjid, serta kaum muslimin yang melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan di Masjid Darul Iman Kebumen.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pemenuhan kebutuhan berbuka dan sahur, tetapi juga menjadi penguat ukhuwah Islamiyah serta pengingat akan pentingnya kepedulian terhadap sesama umat Islam di berbagai penjuru dunia.