Kampus Hidayatullah Kebumen Hadirkan Ulama Tafsir dan Imam Besar dari Mesir Selama 20 Hari di Bulan Ramadhan

Kebumen – Dalam rangka menyemarakkan dan menguatkan atmosfer keilmuan di bulan suci Ramadhan, Kampus Hidayatullah Kebumen menghadirkan seorang ulama ahli tafsir asal Mesir, Syaikh Mohamed Abdel Raouf, untuk membersamai para santri dan asatidz selama 20 hari penuh di bulan Ramadhan.

Beliau merupakan seorang imam besar pada salah satu masjid jami’ di Mesir yang berada di bawah naungan Kementerian Wakaf Mesir. Dengan latar belakang keilmuan yang kuat dalam bidang tafsir dan ilmu Al-Qur’an, kehadiran beliau menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar kampus dalam memperdalam pemahaman agama secara langsung dari ulama Timur Tengah.

Selama berada di Kebumen, Syaikh Mohamed Abdel Raouf mengisi berbagai agenda keilmuan, di antaranya:

  • Kajian Fiqh Puasa
  • Kajian Fiqh Sholat
  • Talaqqi serta pemberian sanad Al-Qur’an pada surat-surat pendek (Juz ‘Amma)
  • Pembinaan dan penguatan kapasitas keilmuan bagi para musyrif pesantren

Dalam kajian fiqh puasa dan sholat, beliau menyampaikan materi secara sistematis dan mendalam, menggabungkan dalil Al-Qur’an, hadits, serta penjelasan para ulama, sehingga para santri tidak hanya memahami praktik ibadah, tetapi juga fondasi ilmiahnya.

Program talaqqi dan pemberian sanad menjadi agenda yang sangat berharga. Para santri dan musyrif mendapatkan kesempatan membaca langsung di hadapan beliau serta memperoleh sanad pada surat-surat pendek, sebagai bentuk penjagaan transmisi keilmuan Al-Qur’an yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.

Ketua DPD Hidayatullah Kebumen; Ustadz Muhammad Sukirman Al-Faqih menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam membangun tradisi keilmuan berbasis sanad, memperkuat kualitas pembinaan pesantren, serta membuka akses interaksi langsung dengan ulama internasional.

Beliau juga menjadi Imam sholat di masjid Darul Iman dengan bacaan berbagai riwayat agar dapat membuka cakrawala pengetahuan jama’ah mengenai jenis-jenis bacaan bersanad yang ada pada Al-Quran

Diharapkan, kehadiran Syaikh Mohamed Abdel Raouf selama 20 hari di bulan Ramadhan ini membawa keberkahan, memperkuat ruhiyah, serta meneguhkan semangat menuntut ilmu dan menjaga kemurnian ajaran Islam melalui jalur sanad yang terpercaya.

Ramadhan di Kampus Hidayatullah Kebumen tahun ini pun menjadi lebih istimewa—bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga bulan penguatan ilmu dan sanad.

RAKERDAGAB DPD Hidayatullah Rayon Barat Teguhkan Sinergi dan Integrasi Program Umat

Kebumen — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen bersama DPD Purworejo, Cilacap, dan Banyumas menggelar Rapat Kerja Daerah Gabungan (RAKERDAGAB) pada Sabtu, 14 Februari 2026 M bertepatan dengan 26 Sya’ban 1447 H. Kegiatan ini berlangsung di Kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen dan dihadiri sekitar 40 peserta dari unsur pimpinan dan kader.

RAKERDAGAB ini turut dihadiri Dewan Murabbi Wilayah DIY JATENGBAGSEL, Ustadz Akhmad Yunus, M.Pd.I.; Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Fuad Fachruddin; Kepala Departemen Perkaderan DPW DIY JATENGBAGSEL, Ust. Muji Haryono; serta Kepala Departemen Dakwah & Seni Budaya DPW DIY JATENGBAGSEL, Ust. Manshur.  Hadir pula seluruh jajaran pengurus DPD Kebumen dan DPD Rayon Barat lainnya.

Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh organisasi pendukung, di antaranya Pemuda Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Muslimat Hidayatullah (MUSHIDA), serta seluruh DPC se-Kabupaten Kebumen.

Dalam sambutannya, Ketua DPD Kebumen, Ustadz Fakihuddin, menyampaikan harapan agar RAKERDAGAB ini mampu melahirkan peran-peran strategis yang aplikatif dan berdampak nyata di tengah umat. Ia menegaskan pentingnya kesamaan semangat juang dan kebersamaan dalam merealisasikan program kerja yang telah dirumuskan, sehingga setiap langkah perjuangan membawa keberkahan.

Sementara itu, Ust. Muji Haryono dalam arahannya menekankan bahwa perjuangan dakwah dan berbagai program kerja DPD, khususnya Cilacap dan Banyumas yang berada dalam pendampingannya, harus terintegrasi dengan kepemimpinan umum. Hal ini sejalan dengan manhaj Hidayatullah yang menguatkan jamaah dalam bingkai imaamah. Integrasi tersebut diharapkan mampu memperkuat konsolidasi kader serta menyelaraskan gerak organisasi dari pusat hingga daerah.

Berbagai program yang tengah diusung untuk pelayanan umat yang besar dan strategis diharapkan dapat berjalan selaras dengan semangat dan pergerakan para kader di masing-masing daerah. Sinergi lintas DPD ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, memperkuat koordinasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat secara lebih luas dan terarah.

Acara berlangsung khidmat namun tetap serius. Untuk menjaga semangat dan antusiasme peserta, panitia juga menyelingi kegiatan dengan sesi gim kuis berhadiah yang menarik. Sesi ini berhasil mencairkan suasana sekaligus membuat peserta semakin semangat dan tidak merasa bosan.

Melalui RAKERDAGAB ini, diharapkan lahir langkah-langkah konkret yang semakin mengokohkan peran strategis Hidayatullah di wilayah DIY-JATENGBAGSEL Rayon Barat, sekaligus memperkuat barisan kader dalam mengemban amanah dakwah dan pelayanan umat secara berkelanjutan.

MUSCAGAB Hidayatullah se-Kabupaten Kebumen Berlangsung Khidmat dan Penuh Ghirah Dakwah

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Kebumen menyelenggarakan Musyawarah Cabang Gabungan (MUSCAGAB) se-Kabupaten Kebumen pada Sabtu, 24 Januari 2026, bertempat di Masjid Darul Iman, Kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 45 kader DPD Hidayatullah Kebumen yang berasal dari berbagai kecamatan dan desa di wilayah Kabupaten Kebumen. MUSCAGAB menjadi momentum strategis dalam mengokohkan konsolidasi organisasi serta menyatukan langkah dakwah di tingkat cabang.

Mengusung tema semangat dakwah dan penguatan tauhid dalam berkhidmat untuk umat, MUSCAGAB menegaskan kembali komitmen Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang berlandaskan nilai-nilai tauhid, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam musyawarah tersebut, dilakukan pelantikan tujuh Dewan Pengurus Cabang (DPC) Hidayatullah Kebumen, yaitu:

  1. DPC Kebumen
  2. DPC Pejagoan
  3. DPC Buluspesantren
  4. DPC Gombong
  5. DPC Klirong
  6. DPC Adimulyo
  7. DPC Alian

Pelantikan ini diharapkan menjadi awal penguatan peran dakwah dan pelayanan umat di masing-masing wilayah cabang, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keikhlasan, profesionalisme, dan sinergi.

Secara keseluruhan, rangkaian acara MUSCAGAB berlangsung khidmat, tertib, dan penuh ghirah, mencerminkan semangat para kader dalam melanjutkan estafet perjuangan dakwah serta membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin di Kabupaten Kebumen.

Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen menggelar rapat pleno pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di komplek SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Rapat ini menjadi forum strategis dalam mematangkan berbagai agenda penting organisasi ke depan, khususnya pelantikan Dewan Pengurus Cabang (DPC), pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), serta persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Rapat pleno dihadiri oleh jajaran pengurus DPD dan perwakilan bidang-bidang strategis. Dalam suasana musyawarah yang penuh semangat kebersamaan, pembahasan difokuskan pada penguatan struktur organisasi melalui pelantikan DPC sebagai ujung tombak dakwah Hidayatullah di tingkat kecamatan. Diharapkan, pelantikan ini menjadi titik awal akselerasi gerakan dakwah yang lebih terstruktur, masif, dan menyentuh kebutuhan umat.

Selain itu, rapat juga membahas teknis dan substansi Rakerda yang akan menjadi arah kebijakan dan program kerja Hidayatullah Kebumen dalam satu periode ke depan. Rakerda dirancang tidak hanya sebagai agenda formal organisasi, tetapi sebagai momentum konsolidasi ideologis dan strategis dalam membangun peradaban berbasis tauhid melalui jalur pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi umat.

Dalam rapat pleno tersebut, perhatian khusus juga diberikan pada agenda Tarhib Ramadhan. DPD Hidayatullah Kebumen merencanakan kegiatan penyambutan Ramadhan yang bernuansa internasional dengan mengundang syaikh dari Mesir, insya Allah. Kehadiran ulama dari negeri Al-Azhar ini diharapkan dapat menguatkan ruhiyah umat, meneguhkan semangat keilmuan, serta mempererat hubungan keislaman lintas bangsa.

Rapat pleno ini sekaligus menegaskan komitmen DPD Hidayatullah Kebumen untuk terus menggerakkan dakwah strategis yang responsif terhadap tantangan zaman. Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas seremonial, tetapi sebagai gerakan perbaikan umat yang terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada solusi atas persoalan keumatan di tingkat lokal maupun nasional.

Dengan sinergi pengurus dan soliditas jamaah, DPD Hidayatullah Kebumen optimis agenda-agenda besar yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kebangkitan umat di Kabupaten Kebumen.

Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis

Sejarah bangsa dan peradaban selalu mencatat bahwa perubahan besar hampir tak pernah lahir dari generasi yang lelah dan kehilangan arah. Ia justru lahir dari tangan-tangan pemuda yang jiwanya menyala, pikirannya jernih, dan orientasi hidupnya tegak lurus kepada kebenaran. Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: peran strategis pemuda kian memudar, bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena krisis orientasi, mental, dan nilai yang semakin menggerus fondasi kehidupan generasi muda.

Indonesia tengah menghadapi fenomena krisis mental pemuda yang tidak bisa dipandang remeh. Tekanan hidup, budaya instan, dominasi media sosial, serta tercerabutnya nilai spiritual membuat banyak pemuda kehilangan makna hidup. Mereka bergerak, tetapi tanpa arah. Mereka aktif, tetapi tidak produktif secara peradaban. Di sinilah pertanyaan besar itu mengemuka: masihkah pemuda mampu membaca zaman dan bergerak sebagai solusi? Dan lebih khusus lagi, mampukah Pemuda Hidayatullah hadir sebagai kekuatan ideologis yang menawarkan jalan keluar berbasis tauhid?

Tauhid sejatinya bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi pergerakan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai hidup. Ketika tauhid menjadi pusat orientasi, pemuda tidak mudah goyah oleh arus pragmatisme, hedonisme, dan relativisme moral. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini bukan sekadar nasihat individual, melainkan seruan peradaban yang sangat relevan bagi pemuda sebagai pemilik waktu, energi, dan potensi terbesar dalam kehidupan.

Sejarah Islam memberikan teladan nyata bahwa pemuda adalah tulang punggung perubahan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam di usia belia dan menjadi simbol keberanian, kecerdasan, serta keteguhan akidah. Dalam usia muda, ia telah berdiri di garda terdepan membela Rasulullah ﷺ, menjadi hakim yang adil, sekaligus pemimpin umat yang berlandaskan tauhid. Demikian pula Mush’ab bin ‘Umair, pemuda Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah, dan dengan keikhlasannya menjadi sebab terbukanya Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah ini menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang kepemimpinan, selama iman dan visi peradaban tertanam kuat.

Di masa yang lebih dekat, sosok-sosok pemuda Muslim seperti Hasan Al-Banna menunjukkan bahwa kesadaran tauhid yang dipadukan dengan kerja terorganisir mampu melahirkan gerakan besar yang mengubah kesadaran umat. Ia memulai dakwahnya sebagai pemuda, namun visinya melampaui zaman. Ini menjadi pelajaran penting bahwa krisis umat tidak bisa dijawab dengan gerakan reaktif dan sporadis, tetapi membutuhkan pemuda yang memiliki pandangan hidup Islam secara menyeluruh dan kesediaan untuk berjuang dalam jangka panjang.

Krisis mental yang hari ini melanda pemuda sejatinya bukan semata persoalan psikologis, tetapi krisis makna hidup. Ketika hidup dipersempit hanya pada capaian materi dan pengakuan sosial, jiwa menjadi rapuh. Tauhid hadir sebagai obat yang mengembalikan manusia pada fitrahnya: hamba Allah yang hidup dengan misi. Pemuda yang bertauhid tidak menggantungkan harga dirinya pada validasi manusia, tetapi pada ridha Rabb-nya. Dari sinilah lahir ketangguhan mental, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk berbeda di tengah arus mayoritas.

Dalam konteks kekinian, tantangan pemuda semakin kompleks. Arus informasi yang deras bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana dakwah dan pencerahan, namun juga dapat menjadi alat perusak akidah dan adab jika tidak dibingkai oleh nilai. Oleh karena itu, pemuda hari ini dituntut bukan hanya melek teknologi, tetapi matang secara ideologis. Pemuda Hidayatullah memiliki peluang besar untuk mengambil peran ini: menjadi penjaga nilai, penyambung risalah dakwah, sekaligus pelaku perubahan sosial yang berakar pada tauhid dan berpihak pada umat.

Munas Pemuda Hidayatullah seharusnya tidak dimaknai sekadar agenda organisasi, tetapi momentum ideologis untuk meneguhkan kembali jati diri pemuda sebagai agen perubahan. Di forum inilah arah pergerakan ditata, visi diperjelas, dan komitmen diperbarui. Pemuda yang hadir bukan hanya membawa gagasan, tetapi kesiapan berkorban, berproses, dan berjuang dalam jalan dakwah dan tarbiyah. Sebab sejarah tidak mencatat mereka yang menunggu perubahan, tetapi mereka yang bergerak dan menciptakannya.

Akhirnya, pemuda adalah fase singkat yang menentukan arah hidup dan wajah peradaban. Jika masa muda diisi dengan tauhid yang kokoh, ilmu yang benar, dan amal yang terarah, maka ia akan melahirkan generasi pemimpin yang mampu menuntun umat keluar dari krisis. Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab tantangan zaman ini—menjadi pemuda yang tidak larut dalam kegalauan zaman, tetapi berdiri tegak sebagai pewaris risalah, penjaga nilai, dan pelopor kebangkitan umat.

Tahniah untuk Pemuda Hidayatullah yang baru saja menggelar MUNAS di Jakarta.

Mengapa Organisasi Tidak Boleh Menoleransi “Brilliant Jerks”

Pelajaran Kerja Tim dari Netflix

Do not tolerate brilliant jerks. The cost to teamwork is too high.
Reed Hastings, CEO Netflix

Di banyak organisasi, ada satu kekeliruan yang sering terjadi:
kinerja tinggi dianggap cukup untuk menutupi perilaku buruk.
Selama target tercapai, sikap arogan, meremehkan, atau merusak tim dianggap sebagai “harga yang wajar”.

Netflix justru mengambil jalan sebaliknya.

Dibalik kontroversialnya karena mendukung penjajah laknatullah Israel, Mereka percaya bahwa orang brilian yang toxic adalah beban mahal, bukan aset.

Apa Itu “Brilliant Jerks”?

Istilah Brilliant Jerks merujuk pada individu yang:

  1. Sangat cerdas dan kompeten
  2. Prestasinya terlihat menonjol
  3. Namun: Meremehkan rekan kerja, sulit berkolaborasi, menyebarkan ketegangan, merusak kepercayaan dalam tim

Secara angka, mereka tampak produktif.
Namun secara budaya, mereka menggerogoti fondasi organisasi.

Kerja Tim: Aset Tak Terlihat yang Paling Mahal

Netflix memahami satu realitas penting:
kerja tim bukan sekadar kumpulan orang pintar, melainkan ekosistem kepercayaan.

Ketika satu orang toxic dibiarkan:

  1. Diskusi menjadi defensif
  2. Ide tidak lagi lahir dengan bebas
  3. Orang hebat memilih diam atau pergi
  4. Energi tim habis untuk konflik, bukan inovasi

Akibatnya:

Satu orang “hebat” bisa menurunkan kinerja sepuluh orang baik.

Inilah yang dimaksud Reed Hastings sebagai biaya tinggi bagi teamworkthe hidden cost yang sering diabaikan.

Netflix: Budaya Lebih Penting dari Talenta Tunggal

Netflix menerapkan prinsip tegas:

Tidak ada tempat bagi kecerdasan yang merusak kolaborasi.

Mereka berani:

  1. Melepas performer tinggi yang merusak tim
  2. Memberi feedback jujur dan langsung
  3. Mengutamakan orang yang kuat secara kompetensi dan dewasa secara karakter

Bagi Netflix, budaya adalah strategi jangka panjang.

Teknologi bisa ditiru.
Model bisnis bisa disalin.
Tapi budaya sehat sulit digandakan.

Mengapa Organisasi Sering Gagal Menyadari Ini?

Karena:

  1. Dampak toxic tidak langsung terlihat di laporan
  2. Kerusakan budaya bersifat senyap
  3. Manajer takut kehilangan “bintang”
  4. Prestasi jangka pendek mengaburkan kerusakan jangka panjang

Padahal, organisasi tidak runtuh karena kurang orang pintar,
melainkan karena terlalu lama mentoleransi orang bermasalah.

Kerja Sama Tim yang Sehat: Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Tim yang sehat memiliki:

  1. Rasa aman untuk berbicara
  2. Saling menghargai peran
  3. Fokus pada tujuan bersama
  4. Kecepatan dalam mengambil keputusan

Semua itu tidak mungkin hidup dalam lingkungan yang dikuasai ego dan intimidasi.

Netflix memilih:

Tim solid yang saling percaya
daripada
satu orang jenius yang merasa paling benar

Pelajaran untuk Organisasi, Komunitas, dan Kepemimpinan

  1. Prestasi tidak boleh mengalahkan etika
  2. Karakter adalah fondasi kolaborasi
  3. Budaya sehat adalah investasi jangka panjang
  4. Memecat orang toxic sering kali adalah bentuk kepemimpinan paling berani

Prinsip No Brilliant Jerks mengajarkan kita satu hal mendasar:
kerja tim yang sehat lebih berharga daripada kecerdasan individual yang merusak.

Karena pada akhirnya:

Organisasi besar dibangun bukan oleh orang paling pintar,
tetapi oleh orang-orang yang mampu bekerja bersama dengan hormat dan amanah.
(irsyad fadlurrahman)

Venezuela, Greenland, dan Wajah Asli Imperialisme Modern: Peringatan Keras bagi Dunia Islam

Dunia hari ini sedang menyaksikan apa yang sejak lama diperingatkan para pemikir Islam: ketika kekuatan dilepaskan dari moral dan hukum Ilahi, maka penindasan akan kembali menjadi norma global. Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan ambisi terang-terangan mencaplok Greenland bukanlah anomali, melainkan manifestasi jujur dari imperialisme modern yang selama ini bersembunyi di balik jargon demokrasi, HAM, dan “rules-based order”.

Imperialisme Tanpa Topeng: Venezuela sebagai Korban

Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela menunjukkan satu fakta telanjang: kedaulatan negara hanya dihormati selama tidak mengganggu kepentingan geopolitik Barat. Tanpa mandat sah internasional, sebuah negara berdaulat diserang, pemimpinnya ditangkap, dan sumber dayanya dikuasai—semua dibingkai dengan bahasa hukum dan keamanan.

Inilah wajah lama yang kembali dengan bahasa baru. Jika dahulu penjajahan dilakukan atas nama “peradaban”, kini ia dilakukan atas nama “stabilitas” dan “penegakan hukum”. Namun esensinya sama: yang kuat berhak menentukan nasib yang lemah.

Dalam pandangan Islam, ini adalah kezaliman struktural. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113)

Diam terhadap kezaliman global bukan sikap netral—ia adalah keberpihakan terselubung.

Greenland: Ketika Sekutu Pun Menjadi Mangsa

Jika Venezuela adalah korban dari luar lingkaran Barat, maka Greenland adalah bukti bahwa imperialisme tidak mengenal loyalitas. Wilayah otonom milik Denmark—anggota NATO—tidak luput dari ambisi pencaplokan ketika ia dianggap strategis secara militer dan ekonomi.

Ini menegaskan satu prinsip lama dalam politik kekuasaan: tidak ada sekutu abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. NATO, PBB, dan berbagai institusi global hanyalah alat—selama alat itu berguna. Ketika tidak, ia akan diabaikan.

Bagi dunia Islam, ini adalah pelajaran mahal: perlindungan sejati tidak datang dari aliansi rapuh, tetapi dari kekuatan mandiri dan persatuan internal.

Dunia Islam: Sasaran Historis dan Potensial

Sejarah Islam modern dipenuhi intervensi: Irak, Afghanistan, Libya, Suriah. Polanya sama. Dalih berubah-ubah, tetapi hasilnya konsisten: kehancuran negara, perampasan sumber daya, dan ketergantungan jangka panjang.

Venezuela hari ini bisa menjadi negara Muslim esok hari—bukan karena kesamaan ideologi, tetapi karena kesamaan posisi: lemah secara politik global namun kaya secara strategis.

Islam memandang kedaulatan sebagai amanah, bukan sekadar konsep politik. Ketika kedaulatan diinjak, maka yang dihancurkan bukan hanya negara, tetapi kemampuan umat untuk menjalankan syariat, menjaga kehormatan, dan melindungi generasi.

Kebohongan “Tatanan Dunia Berbasis Aturan”

Selama ini dunia Islam dipaksa patuh pada tatanan internasional yang diklaim adil dan universal. Namun Venezuela dan Greenland membuka kebohongan besar itu:
aturan hanya berlaku ke bawah, tidak ke atas.

Ketika negara kuat melanggar hukum internasional, dunia diminta “memahami konteks”. Ketika negara lemah melawan, ia disebut ekstrem, radikal, atau ancaman global.

Islam sejak awal menolak standar ganda semacam ini. Keadilan dalam Islam tidak bergantung pada siapa pelakunya, tetapi pada benar dan salahnya perbuatan.

Jalan Ideologis Dunia Islam: Kembali pada Prinsip

Menghadapi dunia yang kembali ke hukum rimba, dunia Islam tidak cukup dengan diplomasi lunak dan kecaman simbolik. Diperlukan perubahan paradigma:

  1. Kemandirian politik dan ekonomi
    Ketergantungan adalah pintu intervensi.
  2. Persatuan dunia Islam di atas kepentingan sektoral
    Perpecahan adalah senjata paling murah imperialisme.
  3. Narasi Islam sebagai alternatif moral global
    Dunia butuh keadilan berbasis nilai, bukan kekuatan.
  4. Kesadaran umat bahwa konflik global bukan netral
    Ia selalu berpihak pada pemilik kuasa.

Allah berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.”
(QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini bukan jaminan otomatis, tetapi syarat perjuangan.

Bangun atau Dihabisi Sejarah

Venezuela dan Greenland adalah peringatan, bukan berita biasa. Dunia sedang bergerak menuju fase baru: imperialisme tanpa malu. Dalam dunia seperti ini, umat Islam tidak boleh kembali menjadi objek sejarah.

Jika dunia Islam terus terpecah, bergantung, dan takut bersikap, maka ia hanya menunggu giliran. Namun jika umat ini kembali kepada jati dirinya—berdaulat, bersatu, dan berprinsip—maka ia bukan hanya mampu bertahan, tetapi menjadi kekuatan penyeimbang dunia.

Sejarah tidak menunggu yang ragu.
Ia hanya mencatat siapa yang bangkit, dan siapa yang dilenyapkan.

(irsyad)

Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen dan Purworejo menggelar Musyawarah Gabungan (Musdagab) pada Ahad, 7 Desember 2025, bertempat di Kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi serta meneguhkan arah perjuangan dakwah di wilayah Kebumen dan Purworejo.

Musdagab berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, khidmat, dan semangat jihad dakwah. Para peserta yang terdiri dari pengurus, kader, dan perwakilan amal usaha Hidayatullah mengikuti rangkaian agenda dengan antusias, mulai dari evaluasi program, pemaparan arah kebijakan, hingga penetapan kepemimpinan daerah.

Melalui proses musyawarah yang mengedepankan nilai-nilai syura dan keikhlasan, forum secara mufakat kembali menetapkan Ustadz Faqih sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kebumen untuk melanjutkan amanah kepemimpinan. Sementara itu, Ustadz Subhan Birori dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Purworejo. Penetapan ini disambut dengan doa dan harapan besar agar kepemimpinan yang terpilih mampu membawa Hidayatullah semakin kokoh dalam membina umat dan membangun peradaban Islam.

Dalam sambutannya, para pimpinan menegaskan bahwa Musdagab bukan sekadar agenda struktural, melainkan wasilah untuk memperbarui niat, menyatukan langkah, dan menguatkan komitmen dakwah berbasis tauhid, pendidikan, dan pembinaan umat. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut sinergi, keteladanan, serta kerja dakwah yang terorganisir dan berkelanjutan.

Dengan terselenggaranya Musyawarah Gabungan ini, DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo diharapkan mampu melahirkan program-program strategis yang berdampak nyata bagi umat, serta terus menghadirkan cahaya dakwah Islam di tengah masyarakat dengan penuh hikmah dan keberkahan.