Mengetuk Pintu Langit di Waktu Subuh: Lailatul Ijtima’ Ditutup dengan Salam, Doa, dan Semangat Perjuangan

Kebumen — Udara dini hari yang sejuk di Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen terasa begitu hidup pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah malam sebelumnya diisi dengan penguatan ruhiyah dan perjuangan, rangkaian Lailatul Ijtima’ berlanjut hingga waktu Subuh dalam suasana yang hangat, khidmat, dan penuh kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat tahajjud berjamaah yang diikuti para kader, jamaah, santri, dan asatidzah di Masjid Darul Iman. Dalam keheningan malam, lantunan doa dan munajat terasa begitu syahdu, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.

Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah dan dzikir pagi bersama, suasana kemudian berubah menjadi lebih segar dan penuh semangat ketika seluruh peserta mengikuti riyadhah ringan yang langsung dipandu oleh K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I. Dengan gaya khas yang hangat dan membangkitkan semangat, beliau mengajak seluruh peserta untuk menggerakkan badan sekaligus menyegarkan jiwa sebelum memasuki kajian utama.

Pada sesi kajian Subuh, Abah Yai Akhmad Yunus menyampaikan materi bertajuk:

“Mengetuk Pintu Langit, Menebar Damai di Bumi: Urgensi Salam dan Doa”

Dalam kajiannya, beliau mengingatkan bahwa salam dan doa bukan sekadar rutinitas lisan atau formalitas sosial, melainkan bagian penting dari kekuatan ruhiyah seorang muslim. Salam adalah pintu kasih sayang dan persaudaraan, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan sekaligus senjata terbesar orang beriman.

Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali menghidupkan budaya salam di tengah masyarakat serta memperkuat keyakinan terhadap kedahsyatan doa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan perjuangan dakwah.

Beberapa peserta tampak larut dalam suasana perenungan ketika beliau menyampaikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menebar salam sebagai jalan menghadirkan cinta dan kedamaian di tengah manusia.

Setelah kajian selesai, seluruh kader, jamaah, asatidzah, dan santri melanjutkan kebersamaan dengan sarapan pagi bersama di lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen. Suasana sederhana namun penuh kehangatan itu menjadi penutup indah dari rangkaian Lailatul Ijtima’ tahun ini.

Tak lama berselang, para asatidzah dan seluruh kader kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan amanah perjuangan di tempat pengabdiannya masing-masing—membawa pulang semangat baru, hati yang lebih kuat, dan ruh perjuangan yang kembali menyala.

Karena sejatinya, majelis seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat hati-hati yang lelah kembali dikuatkan untuk terus berjalan di jalan dakwah dan pengabdian.

Lelaki Tidak Selalu Bercerita, Tapi Malam Itu Mereka Menguatkan Diri Bersama

ebumen — Suasana hangat penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Darul Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen pada Jumat malam, 22 Mei 2026. Puluhan kader, jamaah, asatidzah, hingga para sesepuh Hidayatullah Kebumen berkumpul dalam agenda Lailatul Ijtima’, sebuah majelis penguatan ruhiyah dan perjuangan yang kembali menghidupkan semangat kebersamaan dalam dakwah.

Sekitar 60 kader tercatat hadir dalam agenda yang berlangsung dari ba’da Isya hingga menjelang Subuh tersebut. Dengan balutan baju koko dan gamis putih, para peserta memenuhi area masjid dalam suasana yang hangat namun penuh wibawa, menghadirkan pemandangan ukhuwah yang begitu kuat dan menenangkan.

Pada sesi pertama, majelis diisi oleh Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan tema:

“Laki-laki Tidak Bercerita, Laki-laki Berkorban”

Tema tersebut langsung mengetuk ruang batin para peserta. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak seluruh kader untuk memahami bahwa perjuangan seorang laki-laki tidak selalu tampak dalam kata-kata, tetapi hadir dalam tanggung jawab, keteguhan, dan pengorbanan yang sering kali sunyi dari pujian.

Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya pandai berbicara tentang idealisme, tetapi oleh mereka yang mampu bertahan di tengah lelah, tetap hadir meski sibuk, dan terus melangkah walau tidak selalu dimengerti.

“Kadang lelaki tidak punya tempat bercerita. Maka majelis seperti ini menjadi tempat untuk kembali menguatkan hati, meluruskan niat, dan mengingat bahwa perjuangan ini tidak dijalani sendirian,” kurang lebih demikian pesan yang begitu membekas di tengah para peserta.

Malam itu bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang pertemuan hati-hati yang sedang berjuang. Tempat di mana para kader kembali diingatkan bahwa dakwah bukan hanya soal program dan kegiatan, tetapi tentang menjaga api keimanan agar tetap menyala di tengah beratnya kehidupan.

Kehadiran para sesepuh, asatidzah, dan seluruh kader lintas generasi juga menjadi simbol kuatnya sinergi dan ukhuwah perjuangan di tubuh Hidayatullah Kebumen. Tidak sedikit peserta yang tampak larut dalam suasana perenungan ketika materi berlangsung.

Melalui agenda Lailatul Ijtima’ ini, diharapkan lahir kembali semangat pengorbanan, keteguhan dalam dakwah, serta generasi kader yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara ruhiyah dan mental perjuangan.

Bukan Sekadar Penulis: Ali bin Abi Thalib dan Jantung Kepemimpinan Nabi ﷺ

Ketika nama Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه disebut, kebanyakan orang langsung mengingat keberaniannya di medan perang, ilmunya yang luas, atau kedekatannya sebagai sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ. Namun di balik itu semua, Ali juga memegang peran yang sangat strategis dalam pemerintahan Nabi ﷺ. Ia bukan sekadar penulis surat atau sekretaris biasa, tetapi bagian penting dari lingkaran kepercayaan Rasulullah ﷺ.

Sejak usia muda, Ali tumbuh langsung di rumah Nabi ﷺ. Ia menyaksikan bagaimana wahyu turun, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana Rasulullah ﷺ memimpin umat. Kedekatan ini menjadikan Ali bukan hanya pembantu administratif, tetapi sosok yang memahami cara berpikir dan visi dakwah Nabi ﷺ secara mendalam.

Dalam banyak riwayat, Ali dipercaya untuk menulis berbagai dokumen penting negara Islam. Namun tugas itu bukan sekadar “menulis”. Ia harus memahami isi, tujuan, bahkan dampak politik dari setiap redaksi yang dicatat.

Salah satu kisah paling heroik dan strategis terjadi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Ketika Rasulullah ﷺ melakukan perjanjian damai dengan Quraisy, beliau memerintahkan Ali untuk menulis isi kesepakatan. Nabi ﷺ bersabda:

اكْتُبْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim.”¹

Namun wakil Quraisy menolak lafadz tersebut dan meminta diganti dengan redaksi Arab yang biasa mereka gunakan. Kemudian Nabi ﷺ berkata:

اكْتُبْ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Tulislah: Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasulullah.”

Sekali lagi Quraisy menolak kata “Rasulullah”. Mereka berkata: “Kalau kami mengakui engkau Rasulullah, kami tidak akan memerangimu.”

Di sinilah tampak kedalaman cinta dan loyalitas Ali رضي الله عنه. Ketika Rasulullah ﷺ meminta Ali menghapus tulisan “Rasulullah”, Ali berkata:

وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا
“Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya selamanya.”²

Ali bukan membangkang, tetapi ia begitu mencintai Rasulullah ﷺ hingga berat menghapus gelar mulia itu. Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan kebijaksanaan politik dan maslahat yang lebih besar. Beliau akhirnya menghapusnya sendiri demi tercapainya perdamaian.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Ali bukan sekadar juru tulis. Ia adalah orang yang memahami harga sebuah identitas, kehormatan dakwah, dan arah strategi umat Islam. Ia hadir dalam momen-momen besar yang menentukan masa depan Islam.

Peran strategis Ali juga tampak ketika Rasulullah ﷺ hendak hijrah ke Madinah. Saat kaum Quraisy berencana membunuh Nabi ﷺ, Ali diminta tidur di ranjang beliau untuk mengelabui musuh.

Ini bukan tugas biasa. Ini misi yang mempertaruhkan nyawa.

Ali رضي الله عنه menerima tugas itu tanpa ragu. Ia tahu pedang-pedang Quraisy mungkin akan menebas tubuhnya saat fajar tiba. Namun demi menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ dan keberlangsungan dakwah, ia rela menggantikan posisi Nabi ﷺ di tempat tidur beliau.

Allah ﷻ mengabadikan pengorbanan seperti ini dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari ridha Allah.”³

Sebagian ahli tafsir menyebut ayat ini turun berkaitan dengan pengorbanan Ali رضي الله عنه pada malam hijrah.⁴

Bayangkan, seorang pemuda yang masih sangat muda saat itu, rela tidur di ranjang yang sedang menjadi target pembunuhan. Ini bukan sekadar loyalitas administratif, tetapi kesetiaan total terhadap risalah Islam.

Selain itu, Ali juga dikenal sebagai tempat Rasulullah ﷺ memberikan amanah ilmu dan hukum. Dalam banyak persoalan penting, Nabi ﷺ mempercayakan Ali untuk menyampaikan keputusan, mengadili perkara, dan memegang panji dalam peperangan besar.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang Ali:

أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ
“Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.”⁵

Dan dalam riwayat lain:

أَقْضَاهُمْ عَلِيٌّ
“Orang yang paling baik dalam memutuskan hukum di antara mereka adalah Ali.”⁶

Ini menunjukkan bahwa Ali bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara intelektual dan hukum.

Sebagai sekretaris dan penasihat Nabi ﷺ, Ali memiliki beberapa peran strategis sekaligus: menjaga rahasia, menulis dokumen penting, memahami arah politik umat, membantu penyelesaian hukum, hingga menjadi orang yang dipercaya dalam situasi paling genting.

Ia adalah contoh bahwa orang yang bekerja dekat dengan pemimpin tidak cukup hanya pandai bekerja. Ia harus memiliki: loyalitas,kecerdasan,keberanian,kemampuan membaca situasi,serta hati yang bersih untuk menjaga amanah.

Ali رضي الله عنه bekerja bukan demi jabatan, tetapi demi menjaga agama Allah. Ia hadir di balik banyak keputusan besar Islam, seringkali tanpa sorotan, namun pengaruhnya sangat besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.

Footnote:
1. HR. Tirmidzi, no. 3790; Ibnu Majah, no. 154.
2. HR. Bukhari, no. 2731; Muslim, no. 1783.
3. HR. Bukhari, no. 2731.
4. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 207.
5. Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan, juz 4, hlm. 567.
6. HR. Bukhari, no. 2699.

Sekretaris Tidak Sekadar Menulis Surat: DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel Buka Cakrawala Baru Organisasi

Yogyakarta — Dalam upaya meningkatkan visi, kapasitas, dan peran strategis sekretaris di lingkungan organisasi, DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel mengadakan agenda pembinaan bagi seluruh sekretaris DPD se-DIY dan Jatengbagsel pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Kantor Sekretariat DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel, Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi forum penguatan peran sekretaris sebagai motor administrasi, komunikasi, serta penggerak sistem organisasi di masing-masing daerah.

Pada sesi pertama yang berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB, peserta mendapatkan pembinaan dari Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan materi penguatan visi dan cakrawala berpikir sekretaris dalam menopang perjuangan dakwah organisasi. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya sekretaris memiliki pandangan yang luas, kemampuan manajerial, serta kesiapan menjadi penghubung strategis dalam gerak dakwah.

Kemudian pada sesi kedua pukul 12.30–14.30 WIB, agenda dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan pengelolaan website organisasi yang didampingi oleh Ustadz Mahmud Thorif selaku Departemen Organisasi & HAL DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel. Sesi ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penguatan media dan digitalisasi organisasi di tingkat DPD.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sekretaris DPD mampu meningkatkan profesionalitas, memperkuat sinergi antarwilayah, serta lebih siap menghadapi tantangan dakwah dan organisasi di era digital.

Sembako Dari ULZ BMH Kebumen untuk mbah Thoyibah

Matahari mulai condong kebarat, sebagian petani bersiap pulang untuk menghadapi malam dengan harapan di rumah sudah ada bahan makanan untuk dimasak yang nanti nya disantap bersama keluarga, tapi hal ini tidak didapati oleh mbah thoibah wanita yang tahun ini genap berusia 72 tahun. Karena diusianya ini sudah tidak produktif lagi untuk berangkat kesawah seperti masa mudah dahulu. Hal ini yang membuat tim prodaya BMH bergerak membantu beliau dengan menyalurkan paket sembako (selasa, 12/5).

Mbah thoyibah tinggal di rumah yang beralamat di Desa Selang Rt 01 Rw 05 Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, saat ini beliau hidup sederhana bersama bersama 1 anak dan menantunya serta seorang cucu. Bantuan paket sembako yang di berikan BMH kebumen sangat berarti bagi nya. Ada pun paket sembako yang di terima berupa Beras, Kecap, Teh, Gula, Kopi dan jajanan ringan serta beberapa sembako pelengkap lainnya.

Mbah thoyibah menyampaikan ucapan trimakasih kepada BMH atas program ini,dan memanjatkan doa “semoga BMH kebumen makin eksis dan para amilnya sehat selalu”. Tidak lupa beliau mendoakan para donatur yang selalu mendukung sehingga program ini bisa di laksanakan.

Kadiv Prodaya ULZ BMH Kebumen Uqrom mengatakan bahwa, Program ini adalah program yang rutin BMH berikan setiap bulan nya kepada keluarga yang tidak mampu dengan demikian harapan nya bisa membantu meringankan beban ekonomi di keluarga tersebut.*/moyo