Halaqah MZ & BMH Kebumen Kembali Digelar, Perkuat Ruhiyah Amil dan Asatidzah

Kebumen – Dalam upaya menjaga semangat juang dan memperkuat nilai-nilai ruhiyah dalam aktivitas dakwah sosial, halaqah rutin yang diselenggarakan oleh MZ (Mitra Zakat) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kebumen kembali digelar pada Jumat, 10 April 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran amil dan asatidzah untuk kembali menyegarkan niat, memperkuat spiritualitas, serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah dakwah melalui bidang sosial. Halaqah ini dirancang sebagai ruang pembinaan yang tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana penguatan hati dan kebersamaan dalam perjuangan.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan ruhiyah, tazkiyatun nafs, serta pengingat akan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat untuk umat. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat aktivitas sosial sering kali menuntut tenaga dan pikiran yang besar, sehingga membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh.

Kegiatan halaqah ini juga menjadi simbol sinergi dakwah antara MZ dan BMH Kebumen dalam satu barisan perjuangan di bawah naungan Hidayatullah. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran dakwah sosial yang tidak hanya berorientasi pada distribusi bantuan, tetapi juga pada pembinaan umat secara menyeluruh.

Dengan kembali dimulainya halaqah rutin ini, diharapkan seluruh amil dan asatidzah semakin memiliki semangat yang terjaga, hati yang kuat, serta visi yang selaras dalam mengemban misi dakwah. Tidak hanya sebagai pekerja sosial, tetapi sebagai pejuang dakwah yang menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Halaqah ini direncanakan akan terus berlangsung secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan ruhiyah dan soliditas perjuangan dalam dakwah sosial di Kebumen.

Risiko Menjadi Generalis: Antara Fleksibilitas dan Kehilangan Arah

Dalam dunia kerja dan organisasi, menjadi seorang generalis sering kali dipandang sebagai kelebihan. Ia bisa mengerjakan banyak hal, mudah beradaptasi, dan mampu mengisi berbagai peran sekaligus. Di lingkungan yang dinamis—termasuk organisasi dakwah dan pendidikan—figur seperti ini bahkan sering menjadi “penggerak utama” karena mampu menjembatani banyak kebutuhan. Namun di balik kelebihan tersebut, tersimpan sejumlah risiko yang tidak kecil dan kerap baru terasa ketika seseorang mulai melangkah lebih jauh dalam karier atau tanggung jawabnya.

Salah satu risiko paling nyata adalah tidak diakuinya otoritas keilmuan. Seorang generalis mungkin memahami banyak hal, tetapi ketika organisasi membutuhkan keputusan penting atau rujukan yang kuat, yang dicari tetaplah sosok spesialis. Di titik ini, generalis sering berada di posisi “tahu, tapi tidak cukup dipercaya”. Ia terlibat dalam banyak hal, namun jarang menjadi pusat rujukan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi posisi tawar seseorang, baik dalam pekerjaan maupun dalam struktur organisasi.

Selain itu, menjadi generalis juga membuat seseorang kesulitan membangun identitas profesional yang jelas. Dunia kerja hari ini cenderung mengenali seseorang dari satu keahlian utama—apa yang membuatnya berbeda dan layak diingat. Ketika seseorang terlalu menyebar perhatiannya, ia menjadi sulit didefinisikan. Akibatnya, meskipun ia bekerja keras di banyak bidang, namanya tidak benar-benar menonjol di satu bidang pun. Ini bukan soal kemampuan, tetapi soal persepsi yang terbentuk di lingkungan sekitarnya.

Di sisi lain, generalis juga rentan mengalami kelelahan yang tidak disadari. Karena dianggap mampu mengerjakan banyak hal, ia sering diberi tanggung jawab tambahan di luar kapasitas idealnya. Sedikit demi sedikit, beban itu menumpuk. Ia menjadi orang yang selalu “siap diminta tolong”, tetapi jarang memiliki ruang untuk mendalami satu hal secara serius. Akhirnya, energi habis untuk menjaga ritme pekerjaan, bukan untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas bisa terlihat tinggi, tetapi pertumbuhan justru berjalan lambat.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kedalaman ilmu. Tanpa kesadaran yang kuat, seorang generalis bisa terjebak pada pemahaman yang dangkal. Ia mengetahui banyak hal di permukaan, tetapi tidak cukup dalam untuk melakukan analisis yang tajam atau mengambil keputusan strategis. Padahal, dalam banyak situasi—terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan, fatwa, atau kebijakan—kedalaman berpikir menjadi sangat krusial. Pemikir seperti Cal Newport bahkan menekankan bahwa kualitas tinggi hanya bisa lahir dari kerja yang mendalam (deep work), bukan dari perhatian yang terus terpecah.

Risiko berikutnya adalah mudah tergantikan. Karena tidak memiliki keahlian yang benar-benar unik, seorang generalis bisa saja digantikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan serupa. Ini berbeda dengan spesialis yang biasanya memiliki nilai unik dan lebih sulit dicari penggantinya. Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, keunikan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlanjutan karier seseorang.

Tidak jarang pula, generalis mengalami kebingungan arah. Ia bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana harus melangkah. Pertanyaan seperti “Saya sebenarnya cocok di bidang apa?” atau “Saya ingin dikenal sebagai apa?” sering muncul, terutama ketika memasuki fase karier yang lebih serius. Tanpa arah yang jelas, seseorang bisa terus bergerak, tetapi tidak benar-benar maju.

Dalam konteks organisasi seperti Hidayatullah, fenomena ini sangat terasa. Banyak penggerak inti—termasuk sekretaris—yang akhirnya menjadi “tulang punggung” dalam berbagai hal: administrasi, komunikasi, program, bahkan teknis lapangan. Organisasi tetap berjalan, tetapi sering kali bergantung pada individu tertentu tanpa diiringi peningkatan kualitas yang signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa membuat organisasi stagnan, meskipun terlihat aktif.

Pada akhirnya, menjadi generalis bukanlah kesalahan. Bahkan dalam banyak situasi, ia sangat dibutuhkan. Namun tanpa kedalaman, ia hanya akan menjadi pelengkap, bukan penentu arah. Jalan tengah yang lebih bijak adalah menjadi generalis yang memiliki satu kekuatan utama—sebuah bidang yang benar-benar dikuasai, yang menjadi pijakan ketika harus berdiri di tengah banyak peran. Dengan begitu, seseorang tetap fleksibel dalam bergerak, tetapi tidak kehilangan identitas dan nilai dirinya.

Generalis yang kuat bukanlah yang melakukan segalanya, melainkan yang memahami banyak hal—namun tetap memiliki satu hal yang membuatnya tak tergantikan.

Slow Living di Jawa Tengah: Antara Romantisasi dan Realitas

“Jawa Tengah itu enak, hidupnya slow living.”

Kalimat ini sering kita dengar. Gambaran hidup yang tenang, santai, biaya murah, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Tapi, benarkah realitasnya seperti itu?

Tahun 2025, rata-rata UMR di banyak kota Jawa Tengah masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang sudah tembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat.

Biasanya langsung ada yang membela,
“Ya kan biaya hidup di sini murah.”

Masalahnya, tidak semurah yang dibayangkan.

Said (28), seorang desainer grafis di Magelang, hanya tertawa getir saat mendengar itu. Menurutnya, harga-harga sekarang sudah “nasional”. Bensin, beras, minyak goreng, telur—semuanya hampir sama dengan kota besar.

“Bahkan kopi di kafe sekarang Rp25.000–Rp30.000. Dengan gaji Rp2 jutaan, nongkrong dua kali seminggu saja sudah terasa mewah,” katanya.

Barang-barang lain juga sama saja. Mau beli sepatu branded atau gawai baru, harganya tidak ikut “turun gunung” hanya karena kita tinggal dekat Gunung Sumbing.

“Jadi slow living itu lebih cocok buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan. Kalau kami? Ya tetap kerja keras, kadang harus ambil kerjaan tambahan,” tambahnya.

Di Jawa Tengah, ada satu hal yang sering tidak dihitung dalam biaya hidup: biaya sosial.

Budaya guyub rukun memang indah. Saling bantu, dekat dengan tetangga, terasa hangat. Tapi di balik itu, ada “tagihan” yang tidak kecil.

Diyah (30), ibu rumah tangga di Boyolali, sangat merasakannya.

“Kalau ada hajatan, kita harus datang dan kasih amplop. Sekarang minimal Rp50.000. Kalau orang terdekat ya bisa Rp100.000 bahkan lebih,” ujarnya.

Masalahnya, undangan tidak datang satu-satu.

“Pernah seminggu ada empat undangan. Sudah Rp200.000. Belum iuran ini-itu—kematian, 17-an, perbaikan jalan, jimpitan. Kadang gaji suami yang pas-pasan habis cuma buat ‘rukun’ biar tidak jadi omongan,” katanya.

Belum lagi tenaga. Ada tradisi rewang—membantu tetangga yang punya hajatan. Bukan cuma satu-dua jam, kadang bisa berhari-hari. Bagi yang bekerja, ini jadi dilema: tidak ikut dianggap tidak peduli, ikut berarti capek luar biasa.

Ditambah lagi arisan. Di banyak tempat, ini bukan sekadar menabung, tapi juga “absensi sosial”. Tidak datang? Siap-siap jadi bahan pembicaraan.

Di tengah kondisi ini, ada satu kelompok yang sering “diam-diam menahan”: para guru, khususnya di lembaga pendidikan Islam.

Gaji tidak besar—bahkan sering di bawah UMR. Tapi tuntutan sosial? Sama.

Mereka tetap harus datang ke undangan, tetap ikut iuran, tetap hadir di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, mereka dituntut menjadi teladan.

Harus rapi. Harus pantas. Harus hadir. Harus peduli.

Padahal, di balik itu, banyak dari mereka harus mencari tambahan: ngajar di beberapa tempat, les privat, jualan kecil-kecilan. Semua demi menutup kebutuhan—dan tetap “terlihat layak”.

Akhirnya, hidup jadi jauh dari kata santai. Bukan slow living, tapi survival living.

Kalau dipikir-pikir, slow living di Jawa Tengah itu bukan tidak ada. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya.

Yang benar-benar bisa menikmati biasanya:

  • Punya tabungan besar
  • Tidak terlalu bergantung pada gaji bulanan kecil
  • Atau datang dari kota besar dengan kondisi finansial sudah aman

Mereka bisa ngopi santai, menikmati suasana desa, tanpa terlalu memikirkan amplop undangan minggu ini.

Sementara bagi banyak warga lokal—termasuk para guru—hidup tetap penuh hitung-hitungan.

Jadi mungkin yang perlu diluruskan bukan Jawa Tengahnya, tapi cara kita melihatnya.

Karena ternyata, slow living itu bukan soal tinggal di mana…
tapi soal punya cukup atau tidak.

3 Dekade Menjemput Berkah, Menenun Sejarah: Jejak Langkah Sosok Perintis di Ujung Selatan Mataram

KEBUMEN – Matahari di ufuk Ujung Selatan Mataram bersinar lebih hangat pada Ahad, 5 April 2026. Di bawah naungan langit Kebumen yang teduh, sebuah pertemuan tak biasa digelar. Bukan sekadar jabat tangan Halal Bihalal, melainkan sebuah simfoni syukur atas tiga dasawarsa pengabdian yang lahir dari rahim kesabaran.

Ratusan pasang mata—mulai dari pejabat publik, para kyai dan ulama, wali santri, hingga para pejuang pendidikan di bawah bendera Hidayatullah Kebumen—berkumpul dengan satu rasa yang sama: Takzim. Mereka hadir untuk menyaksikan napak tilas seorang pejuang sunyi, Abah K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I., yang tepat hari ini genap 30 tahun mewakafkan seluruh detak hidupnya bagi ummat.

Bermodal Doa dan Sepeda Pinjaman

Mundur ke belakang, tiga puluh tahun silam bukanlah kemegahan gedung yang menyapa. Sejarah mencatat sebuah fragmen yang menggetarkan jiwa: seorang pemuda dengan tekad baja, menggenggam beberapa lembar Majalah Suara Hidayatullah bekas, menembus debu jalanan dengan sepeda ontel pinjaman dari kerabat jauh.

Tanpa peta kepastian, tanpa janji kesejahteraan, Abah Yunus muda mengetuk satu demi satu pintu rumah warga. Setiap kayuhan sepedanya adalah zikir, dan setiap keringat yang jatuh adalah benih doa. Beliau tidak sedang menawarkan proposal bangunan, melainkan menawarkan cahaya dakwah di atas alas keikhlasan yang paling dasar.

“Pencapaian hari ini bukanlah hadiah jatuh dari langit, melainkan akumulasi dari air mata yang tumpah di sujud-sujud malam dan langkah kaki yang tak pernah surut meski dihadang badai ketidakpastian.”

Menenun Cahaya dari Titik Nol

Kini, tiga puluh tahun kemudian, sepeda ontel itu telah bertransformasi menjadi deretan unit pendidikan yang kokoh dan lingkungan berjamaah yang mandiri. Namun, pesan yang ingin disampaikan dalam momentum ini sangatlah jelas bagi seluruh kader: Segala kemudahan yang dinikmati hari ini memiliki harga yang sangat mahal.

Gedung-gedung yang berdiri tegak adalah monumen dari mentalitas baja seorang perintis. Keistiqomahan Abah Yunus membuktikan bahwa ketika azzam sudah terpatri untuk mengabdi pada agama, maka Allah-lah yang akan menenun jalan-jalan keberkahan yang tak terduga.

Refleksi bagi Kader Masa Kini

Acara ini menjadi pengingat tajam sekaligus haru bagi seluruh guru, staf, dan kader Hidayatullah. Bahwa keberhasilan lembaga bukan semata-mata soal manajemen modern, melainkan soal “ruh” perjuangan yang belum tentu sanggup dipikul oleh semua orang.

Napak tilas ini mengajak setiap yang hadir untuk bertanya pada diri sendiri: Sanggupkah kita tetap bertahan ketika yang kita miliki hanyalah majalah bekas dan sepeda pinjaman, namun di dada kita ada keyakinan yang menggetarkan Arsy?

Halal Bihalal 2026 ini ditutup dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar api perjuangan Abah Yunus dan seluruh asatidzah perintis di penjuru Indonesia terus menyala dalam jiwa-jiwa generasi penerus, agar sejarah yang ditenun dengan air mata ini tak lekang oleh zaman.

30 Tahun Yayasan Al-Iman: Bukan Sekadar Angka, Tapi Cerita Tentang Cinta yang Menemukan Jalan Pulang.

Silaturahim Syawal, Ada Apa di Baliknya ?”

Saat ini kita berada di Bulan Syawal, bulan peningkatan. Syawal di Indonesia hampir selalu identik dengan silaturahim. Ada yang menyebutnya syawalan, banyak yang bilang halalbihalal. Intinya sama, yaitu berkunjung, bersalaman, dan saling memaafkan.

Pernahkah kita berhenti sejenak kemudian bertanya dalam hati, “Sebenarnya apa makna di balik semua ini? Apakah sekadar tradisi mudik, kumpul keluarga, makan opor, dan makan kue kering?”. Ternyata tidak sesederhana itu. Silaturahim Syawal adalah ibadah sosial yang berkaitan dengan ajaran Islam. Shilah dalam bahasa Arab berarti sambungan, dan rahim bermakna kasih sayang. Jadi, silaturahim adalah menyambung kasih sayang yang mungkin sempat terputus.

Dalam perjalanan sepanjang tahun, sangat mungkin ada gesekan. Bisa karena hal-hal yang sederhana, karena salah paham, atau sekadar ego yang terlalu tinggi. Antarsaudara ada yang tidak bertegur sapa, ada teman yang menjauh. Nah, Syawal datang untuk memberikan kesempatan mencairkan kebekuan itu. Rasulullah SAW bersabda bahwa penyambung silaturahim sejati adalah orang yang menyambung kembali hubungan kekeluargaan yang telah diputuskan (HR. Bukhari No. 5991).

Ketika ada saudara yang tidak saling menyapa karena konflik lama, tradisi Lebaran memaksa keduanya bertemu. Saat tangan bersalaman dan kata maaf-memaafkan terucap, ada perasaan cair yang tak bisa dijelaskan. Terlihat runtuhnya ego dan hati saling terpaut sehingga suasana menjadi riang. Ternyata menyambungnya kembali hubungan yang putus membawa ketenangan luar biasa. Inilah inti silaturahim Syawal, bukan sekadar bertamu ke orang yang memang sudah dekat.

Pintu rezeki dan panjang umur adalah hikmah silaturahim yang sering kita dengar. Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahim (HR. Bukhari No. 5986, Muslim No. 2557). Secara logika, silaturahim memperluas jaringan sehingga kita tahu lebih banyak peluang bisnis atau informasi pekerjaan.

Tentang umur panjang, ulama menjelaskan hal itu bisa berarti umur yang berkah atau benar-benar bertambah usianya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa silaturahim adalah tanda keimanan. Saat bersalaman dan saling memaafkan, dosa-dosa antarsesama manusia bisa gugur sehingga kita kembali suci (fitri). Setelah Ramadhan membersihkan dosa kepada Allah, Syawal menyempurnakannya dengan membersihkan dosa kepada sesama.

Benteng Kekeluargaan di Tengah Individualisme

Di era digital, manusia makin individualis dan sibuk dengan layar. Silaturahim Syawal menjadi benteng atau “reuni spiritual” yang mempertemukan fisik, hati, dan pikiran. Kita jadi tahu kalau paman sedang sakit atau tetangga sedang kesulitan sehingga solidaritas sosial tumbuh. Silaturahim juga merawat ingatan kolektif keluarga melalui cerita sejarah kakek dan nenek.

Tanpa silaturahim, akar sejarah bisa hilang dan kita tidak mengenal keluarga besar. Padahal, dari cerita-cerita tersebut tumbuh rasa cinta alami (mahabbah). Agar silaturahim bernilai ibadah, kita perlu meluruskan niat, memaafkan lebih awal dalam hati, dan menghadirkan hati saat bertemu dengan menyimpan ponsel. Jika memungkinkan, bawalah buah tangan atau bingkisan kecil.

Hadiah menumbuhkan cinta, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam kitab Al-Adab al-Mufrad: “Tahaaddu tahaabbu” (Saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai). Syawal adalah momen emas; saatnya kita mengetuk pintu saudara tanpa menunggu dijenguk dan menyapa terlebih dahulu tanpa menunggu disapa.

Semoga silaturahim yang kita lakukan membawa berkah dan mengantarkan kita ke surga-Nya. Amin ya Rabbal alamin. Selamat silaturahim Syawal, halalbihalal, mohon maaf lahir dan batin

Paradoks Solidaritas: Mengurai Benang Kusut Geopolitik di Balik Tragedi Palestina

Eskalasi konflik Palestina-Israel yang memuncak sejak Oktober 2023 hingga 2025 bukan sekadar tragedi kemanusiaan yang berulang, melainkan cermin dari retaknya sistem internasional dan tajamnya benturan kepentingan nasional di Timur Tengah. Di tengah puing-puing Gaza, muncul sebuah pemandangan geopolitik yang kontras: Arab Saudi yang berupaya menjaga stabilitas demi ambisi ekonomi, dan Iran yang mengukuhkan diri sebagai garda depan perlawanan.

Pragmatisme Riyadh vs. Visi Revolusi Teheran

Bagi Arab Saudi, Palestina adalah isu yang sangat sensitif namun harus dikelola dengan pragmatisme tingkat tinggi. Di bawah komando Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), fokus utama kerajaan adalah keberhasilan Saudi Vision 2030—sebuah cetak biru transformasi ekonomi yang membutuhkan stabilitas regional total untuk menarik investasi asing. Riyadh berada dalam posisi bimbang; di satu sisi mereka sangat bergantung pada aliansi pertahanan Amerika Serikat, namun di sisi lain, agresi brutal Israel memaksa Saudi untuk menunda proses normalisasi (Abraham Accords) guna menjaga legitimasi mereka sebagai pelayan dua kota suci. Saudi memilih jalur diplomasi hati-hati, mendukung solusi dua negara, dan menyalurkan bantuan kemanusiaan masif melalui KSrelief untuk menghindari konfrontasi militer langsung.

Sebaliknya, Iran memandang konflik ini melalui lensa “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance). Bagi Teheran, mendukung Hamas dan Hizbullah bukan sekadar soal solidaritas agama, melainkan strategi “kedalaman pencegahan” (depth of deterrence) untuk menjauhkan ancaman dari perbatasan teritorialnya. Dengan memposisikan diri sebagai pembela kaum tertindas (mustadh’afin), Iran menggunakan isu Palestina untuk menantang hegemoni Barat dan mendegradasi pengaruh negara-negara Arab yang dianggap “berkhianat” karena menjalin hubungan dengan Israel.

Kegagalan Sistemik dan Panggung Domestik

Realitas pahit yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir adalah disfungsi institusi global. Dewan Keamanan PBB seringkali lumpuh akibat hak veto negara-negara besar, sementara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dianggap gagal memberikan tanggapan yang taringnya terasa nyata. Munculnya Abraham Accords pada 2020 pun dinilai oleh sebagian pihak sebagai puncak pragmatisme yang mencabut daya tawar kolektif bangsa Arab, mengubah status Palestina dari masalah kedaulatan politik menjadi sekadar “masalah kemanusiaan”.

Menariknya, jika ditinjau dari teori kritis, baik Iran maupun Israel dituding memanfaatkan konflik ini sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan domestik. Narasi “musuh bersama” digunakan oleh rezim di kedua belah pihak untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu internal dan menekan perbedaan pendapat di dalam negeri dengan kedok keamanan nasional.

Indonesia: Diplomasi “Jalan Tengah”

Di tengah kemandekan ini, Indonesia memiliki celah untuk tampil sebagai pemimpin diplomatik baru yang transformatif. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar yang menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, Indonesia menawarkan karakter Islam yang ramah dan toleran sebagai antitesis dari ekstremisme.

Meskipun di internal organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) terdapat spektrum pandangan yang beragam—mulai dari yang menolak keras normalisasi hingga yang mendorong dialog konstruktif—Indonesia secara konsisten memegang teguh amanat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan. Dengan posisi strategis di G20 dan ASEAN, Indonesia diharapkan mampu memobilisasi dukungan dari negara-negara berkembang (Global South) untuk mendesak penegakan hukum internasional di Palestina melampaui sekadar retorika.

Sehingga konflik Palestina adalah sebuah pengingat bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah lahir dari struktur global yang timpang. Selama hak-hak bangsa Palestina terus dikorbankan demi stabilitas ekonomi satu pihak atau ambisi ideologis pihak lainnya, tanah para nabi itu akan tetap menjadi panggung bagi pertarungan kepentingan yang tak kunjung usai.

Referensi:

  • Afrilia, T., & Sahide, A. (2026). The Different Attitudes of Saudi Arabia and Iran Towards the Palestinian-Israeli Conflict: A National Interest Analysis. Jurnal Ilmiah Global Education, 7(1), 167–183.
  • Aleksia, C. (2023). Promoting the Middle Way: Intercultural Communication, Governmental Systems, and Religious Solidarity in the Islamic Countries. Jurnal IMPRESI, 4(1).
  • Bahari, M. N. R., dkk. (2025). Negara Represi dan Ketimpangan Global: Pendekatan Teori Kritis Terhadap Eskalasi Perang Iran-Israel Tahun 2025. E-Journal UNIMUDA, 5(2).
  • Fawaid, B. (2025). Respons Elite Nahdlatul Ulama terhadap Wacana Normalisasi Hubungan Diplomatik Indonesia-Israel. Tesis Magister, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Martsela, P. Y., & Muhaimin, R. (2025). Pandangan Politik Luar Negeri Arab Saudi terhadap Genosida Israel atas Palestina Tahun 2023. Politea: Jurnal Pemikiran Politik Islam, 8(1).
  • Mustaqim, A. H. (2024). Mengapa OKI Belum Mampu Menyelesaikan Konflik antara Israel dan Palestina?. SINDOnews.com.
  • Sulistiyo, A. (2025). Masihkah Negara-negara Arab bersama Palestina?. Birokrat Menulis.
  • Taufikurrohman, C. (2023). Menempatkan Ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah Secara Bijak. Suara Muhammadiyah.