Tebar Kepedulian di Hari Berkah, LAZNAS BMH Salurkan 200 Paket Makanan

Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali dihadirkan BMH melalui program Jum’at Berkah yang digelar pada Jumat (22/5) di Masjid Darul Iman, Jalan Joko Sangkrip 1,2 KM, Kebumen.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 paket makanan siap santap dibagikan kepada masyarakat sekitar usai salat Jumat.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB ini disambut antusias oleh warga.

Program Jum’at Berkah menjadi salah satu ikhtiar rutin BMH dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pada hari Jumat yang penuh keberkahan.

Makruf selaku Amil Prodaya menyampaikan bahwa program ini telah menjadi bagian dari komitmen BMH dalam menumbuhkan semangat kepedulian dan budaya berbagi di tengah masyarakat.

“Program ini adalah program rutin yang BMH salurkan. Kami menjadi salah satu pelopor di Kota Kebumen saat program seperti ini masih jarang sekali ada. Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat hampir setiap masjid sudah mengadakan program Jumat berbagi. Semoga ini menjadi amal jariyah bagi BMH dan para donatur,” ujarnya.

Menurutnya, keberlangsungan program Jum’at Berkah tidak lepas dari dukungan para donatur yang terus mempercayakan amanah kebaikannya melalui BMH. Karena itu, program ini diharapkan dapat terus menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Kehadiran program ini pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu penerima manfaat, Amin Ghofur, S.Pd., warga Tamanwinangun yang berprofesi sebagai guru, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada BMH serta para donatur.

“Terima kasih kami sampaikan kepada BMH dan para donatur yang telah menjadikan program Jum’at Berkah ini selalu hadir untuk masyarakat. Semoga ke depan lebih banyak lagi donatur yang ikut serta sehingga BMH bisa memperluas daerah penyaluran,” tuturnya.

Melalui program Jum’at Berkah, BMH berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat.

Program ini rutin disalurkan setiap akhir bulan dengan lokasi yang berpindah-pindah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan merata di berbagai wilayah.

Mengetuk Pintu Langit di Waktu Subuh: Lailatul Ijtima’ Ditutup dengan Salam, Doa, dan Semangat Perjuangan

Kebumen — Udara dini hari yang sejuk di Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen terasa begitu hidup pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah malam sebelumnya diisi dengan penguatan ruhiyah dan perjuangan, rangkaian Lailatul Ijtima’ berlanjut hingga waktu Subuh dalam suasana yang hangat, khidmat, dan penuh kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat tahajjud berjamaah yang diikuti para kader, jamaah, santri, dan asatidzah di Masjid Darul Iman. Dalam keheningan malam, lantunan doa dan munajat terasa begitu syahdu, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.

Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah dan dzikir pagi bersama, suasana kemudian berubah menjadi lebih segar dan penuh semangat ketika seluruh peserta mengikuti riyadhah ringan yang langsung dipandu oleh K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I. Dengan gaya khas yang hangat dan membangkitkan semangat, beliau mengajak seluruh peserta untuk menggerakkan badan sekaligus menyegarkan jiwa sebelum memasuki kajian utama.

Pada sesi kajian Subuh, Abah Yai Akhmad Yunus menyampaikan materi bertajuk:

“Mengetuk Pintu Langit, Menebar Damai di Bumi: Urgensi Salam dan Doa”

Dalam kajiannya, beliau mengingatkan bahwa salam dan doa bukan sekadar rutinitas lisan atau formalitas sosial, melainkan bagian penting dari kekuatan ruhiyah seorang muslim. Salam adalah pintu kasih sayang dan persaudaraan, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan sekaligus senjata terbesar orang beriman.

Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali menghidupkan budaya salam di tengah masyarakat serta memperkuat keyakinan terhadap kedahsyatan doa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan perjuangan dakwah.

Beberapa peserta tampak larut dalam suasana perenungan ketika beliau menyampaikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menebar salam sebagai jalan menghadirkan cinta dan kedamaian di tengah manusia.

Setelah kajian selesai, seluruh kader, jamaah, asatidzah, dan santri melanjutkan kebersamaan dengan sarapan pagi bersama di lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen. Suasana sederhana namun penuh kehangatan itu menjadi penutup indah dari rangkaian Lailatul Ijtima’ tahun ini.

Tak lama berselang, para asatidzah dan seluruh kader kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan amanah perjuangan di tempat pengabdiannya masing-masing—membawa pulang semangat baru, hati yang lebih kuat, dan ruh perjuangan yang kembali menyala.

Karena sejatinya, majelis seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat hati-hati yang lelah kembali dikuatkan untuk terus berjalan di jalan dakwah dan pengabdian.

Lelaki Tidak Selalu Bercerita, Tapi Malam Itu Mereka Menguatkan Diri Bersama

ebumen — Suasana hangat penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Darul Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen pada Jumat malam, 22 Mei 2026. Puluhan kader, jamaah, asatidzah, hingga para sesepuh Hidayatullah Kebumen berkumpul dalam agenda Lailatul Ijtima’, sebuah majelis penguatan ruhiyah dan perjuangan yang kembali menghidupkan semangat kebersamaan dalam dakwah.

Sekitar 60 kader tercatat hadir dalam agenda yang berlangsung dari ba’da Isya hingga menjelang Subuh tersebut. Dengan balutan baju koko dan gamis putih, para peserta memenuhi area masjid dalam suasana yang hangat namun penuh wibawa, menghadirkan pemandangan ukhuwah yang begitu kuat dan menenangkan.

Pada sesi pertama, majelis diisi oleh Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan tema:

“Laki-laki Tidak Bercerita, Laki-laki Berkorban”

Tema tersebut langsung mengetuk ruang batin para peserta. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak seluruh kader untuk memahami bahwa perjuangan seorang laki-laki tidak selalu tampak dalam kata-kata, tetapi hadir dalam tanggung jawab, keteguhan, dan pengorbanan yang sering kali sunyi dari pujian.

Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya pandai berbicara tentang idealisme, tetapi oleh mereka yang mampu bertahan di tengah lelah, tetap hadir meski sibuk, dan terus melangkah walau tidak selalu dimengerti.

“Kadang lelaki tidak punya tempat bercerita. Maka majelis seperti ini menjadi tempat untuk kembali menguatkan hati, meluruskan niat, dan mengingat bahwa perjuangan ini tidak dijalani sendirian,” kurang lebih demikian pesan yang begitu membekas di tengah para peserta.

Malam itu bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang pertemuan hati-hati yang sedang berjuang. Tempat di mana para kader kembali diingatkan bahwa dakwah bukan hanya soal program dan kegiatan, tetapi tentang menjaga api keimanan agar tetap menyala di tengah beratnya kehidupan.

Kehadiran para sesepuh, asatidzah, dan seluruh kader lintas generasi juga menjadi simbol kuatnya sinergi dan ukhuwah perjuangan di tubuh Hidayatullah Kebumen. Tidak sedikit peserta yang tampak larut dalam suasana perenungan ketika materi berlangsung.

Melalui agenda Lailatul Ijtima’ ini, diharapkan lahir kembali semangat pengorbanan, keteguhan dalam dakwah, serta generasi kader yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara ruhiyah dan mental perjuangan.

Bukan Sekadar Penulis: Ali bin Abi Thalib dan Jantung Kepemimpinan Nabi ﷺ

Ketika nama Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه disebut, kebanyakan orang langsung mengingat keberaniannya di medan perang, ilmunya yang luas, atau kedekatannya sebagai sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ. Namun di balik itu semua, Ali juga memegang peran yang sangat strategis dalam pemerintahan Nabi ﷺ. Ia bukan sekadar penulis surat atau sekretaris biasa, tetapi bagian penting dari lingkaran kepercayaan Rasulullah ﷺ.

Sejak usia muda, Ali tumbuh langsung di rumah Nabi ﷺ. Ia menyaksikan bagaimana wahyu turun, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana Rasulullah ﷺ memimpin umat. Kedekatan ini menjadikan Ali bukan hanya pembantu administratif, tetapi sosok yang memahami cara berpikir dan visi dakwah Nabi ﷺ secara mendalam.

Dalam banyak riwayat, Ali dipercaya untuk menulis berbagai dokumen penting negara Islam. Namun tugas itu bukan sekadar “menulis”. Ia harus memahami isi, tujuan, bahkan dampak politik dari setiap redaksi yang dicatat.

Salah satu kisah paling heroik dan strategis terjadi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Ketika Rasulullah ﷺ melakukan perjanjian damai dengan Quraisy, beliau memerintahkan Ali untuk menulis isi kesepakatan. Nabi ﷺ bersabda:

اكْتُبْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim.”¹

Namun wakil Quraisy menolak lafadz tersebut dan meminta diganti dengan redaksi Arab yang biasa mereka gunakan. Kemudian Nabi ﷺ berkata:

اكْتُبْ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Tulislah: Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasulullah.”

Sekali lagi Quraisy menolak kata “Rasulullah”. Mereka berkata: “Kalau kami mengakui engkau Rasulullah, kami tidak akan memerangimu.”

Di sinilah tampak kedalaman cinta dan loyalitas Ali رضي الله عنه. Ketika Rasulullah ﷺ meminta Ali menghapus tulisan “Rasulullah”, Ali berkata:

وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا
“Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya selamanya.”²

Ali bukan membangkang, tetapi ia begitu mencintai Rasulullah ﷺ hingga berat menghapus gelar mulia itu. Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan kebijaksanaan politik dan maslahat yang lebih besar. Beliau akhirnya menghapusnya sendiri demi tercapainya perdamaian.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Ali bukan sekadar juru tulis. Ia adalah orang yang memahami harga sebuah identitas, kehormatan dakwah, dan arah strategi umat Islam. Ia hadir dalam momen-momen besar yang menentukan masa depan Islam.

Peran strategis Ali juga tampak ketika Rasulullah ﷺ hendak hijrah ke Madinah. Saat kaum Quraisy berencana membunuh Nabi ﷺ, Ali diminta tidur di ranjang beliau untuk mengelabui musuh.

Ini bukan tugas biasa. Ini misi yang mempertaruhkan nyawa.

Ali رضي الله عنه menerima tugas itu tanpa ragu. Ia tahu pedang-pedang Quraisy mungkin akan menebas tubuhnya saat fajar tiba. Namun demi menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ dan keberlangsungan dakwah, ia rela menggantikan posisi Nabi ﷺ di tempat tidur beliau.

Allah ﷻ mengabadikan pengorbanan seperti ini dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari ridha Allah.”³

Sebagian ahli tafsir menyebut ayat ini turun berkaitan dengan pengorbanan Ali رضي الله عنه pada malam hijrah.⁴

Bayangkan, seorang pemuda yang masih sangat muda saat itu, rela tidur di ranjang yang sedang menjadi target pembunuhan. Ini bukan sekadar loyalitas administratif, tetapi kesetiaan total terhadap risalah Islam.

Selain itu, Ali juga dikenal sebagai tempat Rasulullah ﷺ memberikan amanah ilmu dan hukum. Dalam banyak persoalan penting, Nabi ﷺ mempercayakan Ali untuk menyampaikan keputusan, mengadili perkara, dan memegang panji dalam peperangan besar.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang Ali:

أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ
“Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.”⁵

Dan dalam riwayat lain:

أَقْضَاهُمْ عَلِيٌّ
“Orang yang paling baik dalam memutuskan hukum di antara mereka adalah Ali.”⁶

Ini menunjukkan bahwa Ali bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara intelektual dan hukum.

Sebagai sekretaris dan penasihat Nabi ﷺ, Ali memiliki beberapa peran strategis sekaligus: menjaga rahasia, menulis dokumen penting, memahami arah politik umat, membantu penyelesaian hukum, hingga menjadi orang yang dipercaya dalam situasi paling genting.

Ia adalah contoh bahwa orang yang bekerja dekat dengan pemimpin tidak cukup hanya pandai bekerja. Ia harus memiliki: loyalitas,kecerdasan,keberanian,kemampuan membaca situasi,serta hati yang bersih untuk menjaga amanah.

Ali رضي الله عنه bekerja bukan demi jabatan, tetapi demi menjaga agama Allah. Ia hadir di balik banyak keputusan besar Islam, seringkali tanpa sorotan, namun pengaruhnya sangat besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.

Footnote:
1. HR. Tirmidzi, no. 3790; Ibnu Majah, no. 154.
2. HR. Bukhari, no. 2731; Muslim, no. 1783.
3. HR. Bukhari, no. 2731.
4. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 207.
5. Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan, juz 4, hlm. 567.
6. HR. Bukhari, no. 2699.

Sekretaris Tidak Sekadar Menulis Surat: DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel Buka Cakrawala Baru Organisasi

Yogyakarta — Dalam upaya meningkatkan visi, kapasitas, dan peran strategis sekretaris di lingkungan organisasi, DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel mengadakan agenda pembinaan bagi seluruh sekretaris DPD se-DIY dan Jatengbagsel pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Kantor Sekretariat DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel, Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi forum penguatan peran sekretaris sebagai motor administrasi, komunikasi, serta penggerak sistem organisasi di masing-masing daerah.

Pada sesi pertama yang berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB, peserta mendapatkan pembinaan dari Ust. Fu’ad Fahruddin, M.Pd. yang membawakan materi penguatan visi dan cakrawala berpikir sekretaris dalam menopang perjuangan dakwah organisasi. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya sekretaris memiliki pandangan yang luas, kemampuan manajerial, serta kesiapan menjadi penghubung strategis dalam gerak dakwah.

Kemudian pada sesi kedua pukul 12.30–14.30 WIB, agenda dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan pengelolaan website organisasi yang didampingi oleh Ustadz Mahmud Thorif selaku Departemen Organisasi & HAL DPW Hidayatullah DIY–Jatengbagsel. Sesi ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penguatan media dan digitalisasi organisasi di tingkat DPD.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sekretaris DPD mampu meningkatkan profesionalitas, memperkuat sinergi antarwilayah, serta lebih siap menghadapi tantangan dakwah dan organisasi di era digital.

Sembako Dari ULZ BMH Kebumen untuk mbah Thoyibah

Matahari mulai condong kebarat, sebagian petani bersiap pulang untuk menghadapi malam dengan harapan di rumah sudah ada bahan makanan untuk dimasak yang nanti nya disantap bersama keluarga, tapi hal ini tidak didapati oleh mbah thoibah wanita yang tahun ini genap berusia 72 tahun. Karena diusianya ini sudah tidak produktif lagi untuk berangkat kesawah seperti masa mudah dahulu. Hal ini yang membuat tim prodaya BMH bergerak membantu beliau dengan menyalurkan paket sembako (selasa, 12/5).

Mbah thoyibah tinggal di rumah yang beralamat di Desa Selang Rt 01 Rw 05 Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, saat ini beliau hidup sederhana bersama bersama 1 anak dan menantunya serta seorang cucu. Bantuan paket sembako yang di berikan BMH kebumen sangat berarti bagi nya. Ada pun paket sembako yang di terima berupa Beras, Kecap, Teh, Gula, Kopi dan jajanan ringan serta beberapa sembako pelengkap lainnya.

Mbah thoyibah menyampaikan ucapan trimakasih kepada BMH atas program ini,dan memanjatkan doa “semoga BMH kebumen makin eksis dan para amilnya sehat selalu”. Tidak lupa beliau mendoakan para donatur yang selalu mendukung sehingga program ini bisa di laksanakan.

Kadiv Prodaya ULZ BMH Kebumen Uqrom mengatakan bahwa, Program ini adalah program yang rutin BMH berikan setiap bulan nya kepada keluarga yang tidak mampu dengan demikian harapan nya bisa membantu meringankan beban ekonomi di keluarga tersebut.*/moyo

Kaji Geopolitik, Ustadz Fathurrahman Ajak Kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan Kedepankan Sikap Wasatiyyah

YOGYAKARTA – Mengawali momentum Syawal dengan semangat literasi dan konsolidasi, seluruh kader Hidayatullah se-DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan menggelar agenda Syawalan & Diskusi Geopolitik pada Jumat malam, 17 April 2026. Bertempat di Kampus Madya As-Sakinah, Yogyakarta, acara ini menjadi ajang refleksi sekaligus pembekalan strategis bagi para kader.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran sesepuh organisasi serta ratusan kader dari berbagai daerah di wilayah DIY-JATENG Bagian Selatan. Hadir sebagai narasumber utama, Ustadz Fathurrahman, A.Md., yang memberikan bedah situasi mengenai dinamika global yang tengah menghangat.

Dalam paparannya, Ustadz Fathurrahman menekankan pentingnya posisi Wasatiyyah bagi setiap kader Hidayatullah. Menurutnya, di tengah karut-marut geopolitik internasional saat ini, kader tidak boleh terjebak pada polarisasi ekstrem.

“Kader Hidayatullah harus mampu berdiri di posisi wasatiyyah. Ini bukan berarti tidak punya sikap, melainkan sikap yang adil, berimbang, dan berlandaskan wahyu dalam memandang setiap persoalan dunia,” ujar beliau.

Menariknya, materi geopolitik yang biasanya berat dapat dikemas oleh Ustadz Fathurrahman dengan analogi yang ringan dan relevan. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana sikap wasatiyyah diterapkan dalam:

Filter Informasi: Tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks terkait konflik global.

Interaksi Sosial: Tetap santun dan solutif di tengah perbedaan pandangan politik.

Kemandirian Kader: Membangun kekuatan spiritual sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni global.

Kehadiran para sesepuh dalam agenda ini memberikan bobot spiritual tersendiri. Diskusi berlangsung interaktif, di mana para kader muda diajak untuk lebih peka terhadap isu eksternal tanpa melupakan tugas internal dakwah di wilayah masing-masing.

Melalui agenda ini, diharapkan kader Hidayatullah DIY-Jateng Selatan pulang membawa perspektif baru: bahwa memahami geopolitik adalah bagian dari menjaga kedaulatan dakwah, dan sikap wasatiyyah adalah kunci untuk tetap relevan di zaman yang terus berubah.

Halaqah MZ & BMH Kebumen Kembali Digelar, Perkuat Ruhiyah Amil dan Asatidzah

Kebumen – Dalam upaya menjaga semangat juang dan memperkuat nilai-nilai ruhiyah dalam aktivitas dakwah sosial, halaqah rutin yang diselenggarakan oleh MZ (Mitra Zakat) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kebumen kembali digelar pada Jumat, 10 April 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran amil dan asatidzah untuk kembali menyegarkan niat, memperkuat spiritualitas, serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah dakwah melalui bidang sosial. Halaqah ini dirancang sebagai ruang pembinaan yang tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana penguatan hati dan kebersamaan dalam perjuangan.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan ruhiyah, tazkiyatun nafs, serta pengingat akan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat untuk umat. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat aktivitas sosial sering kali menuntut tenaga dan pikiran yang besar, sehingga membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh.

Kegiatan halaqah ini juga menjadi simbol sinergi dakwah antara MZ dan BMH Kebumen dalam satu barisan perjuangan di bawah naungan Hidayatullah. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran dakwah sosial yang tidak hanya berorientasi pada distribusi bantuan, tetapi juga pada pembinaan umat secara menyeluruh.

Dengan kembali dimulainya halaqah rutin ini, diharapkan seluruh amil dan asatidzah semakin memiliki semangat yang terjaga, hati yang kuat, serta visi yang selaras dalam mengemban misi dakwah. Tidak hanya sebagai pekerja sosial, tetapi sebagai pejuang dakwah yang menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Halaqah ini direncanakan akan terus berlangsung secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan ruhiyah dan soliditas perjuangan dalam dakwah sosial di Kebumen.

Risiko Menjadi Generalis: Antara Fleksibilitas dan Kehilangan Arah

Dalam dunia kerja dan organisasi, menjadi seorang generalis sering kali dipandang sebagai kelebihan. Ia bisa mengerjakan banyak hal, mudah beradaptasi, dan mampu mengisi berbagai peran sekaligus. Di lingkungan yang dinamis—termasuk organisasi dakwah dan pendidikan—figur seperti ini bahkan sering menjadi “penggerak utama” karena mampu menjembatani banyak kebutuhan. Namun di balik kelebihan tersebut, tersimpan sejumlah risiko yang tidak kecil dan kerap baru terasa ketika seseorang mulai melangkah lebih jauh dalam karier atau tanggung jawabnya.

Salah satu risiko paling nyata adalah tidak diakuinya otoritas keilmuan. Seorang generalis mungkin memahami banyak hal, tetapi ketika organisasi membutuhkan keputusan penting atau rujukan yang kuat, yang dicari tetaplah sosok spesialis. Di titik ini, generalis sering berada di posisi “tahu, tapi tidak cukup dipercaya”. Ia terlibat dalam banyak hal, namun jarang menjadi pusat rujukan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi posisi tawar seseorang, baik dalam pekerjaan maupun dalam struktur organisasi.

Selain itu, menjadi generalis juga membuat seseorang kesulitan membangun identitas profesional yang jelas. Dunia kerja hari ini cenderung mengenali seseorang dari satu keahlian utama—apa yang membuatnya berbeda dan layak diingat. Ketika seseorang terlalu menyebar perhatiannya, ia menjadi sulit didefinisikan. Akibatnya, meskipun ia bekerja keras di banyak bidang, namanya tidak benar-benar menonjol di satu bidang pun. Ini bukan soal kemampuan, tetapi soal persepsi yang terbentuk di lingkungan sekitarnya.

Di sisi lain, generalis juga rentan mengalami kelelahan yang tidak disadari. Karena dianggap mampu mengerjakan banyak hal, ia sering diberi tanggung jawab tambahan di luar kapasitas idealnya. Sedikit demi sedikit, beban itu menumpuk. Ia menjadi orang yang selalu “siap diminta tolong”, tetapi jarang memiliki ruang untuk mendalami satu hal secara serius. Akhirnya, energi habis untuk menjaga ritme pekerjaan, bukan untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas bisa terlihat tinggi, tetapi pertumbuhan justru berjalan lambat.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kedalaman ilmu. Tanpa kesadaran yang kuat, seorang generalis bisa terjebak pada pemahaman yang dangkal. Ia mengetahui banyak hal di permukaan, tetapi tidak cukup dalam untuk melakukan analisis yang tajam atau mengambil keputusan strategis. Padahal, dalam banyak situasi—terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan, fatwa, atau kebijakan—kedalaman berpikir menjadi sangat krusial. Pemikir seperti Cal Newport bahkan menekankan bahwa kualitas tinggi hanya bisa lahir dari kerja yang mendalam (deep work), bukan dari perhatian yang terus terpecah.

Risiko berikutnya adalah mudah tergantikan. Karena tidak memiliki keahlian yang benar-benar unik, seorang generalis bisa saja digantikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan serupa. Ini berbeda dengan spesialis yang biasanya memiliki nilai unik dan lebih sulit dicari penggantinya. Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, keunikan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlanjutan karier seseorang.

Tidak jarang pula, generalis mengalami kebingungan arah. Ia bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana harus melangkah. Pertanyaan seperti “Saya sebenarnya cocok di bidang apa?” atau “Saya ingin dikenal sebagai apa?” sering muncul, terutama ketika memasuki fase karier yang lebih serius. Tanpa arah yang jelas, seseorang bisa terus bergerak, tetapi tidak benar-benar maju.

Dalam konteks organisasi seperti Hidayatullah, fenomena ini sangat terasa. Banyak penggerak inti—termasuk sekretaris—yang akhirnya menjadi “tulang punggung” dalam berbagai hal: administrasi, komunikasi, program, bahkan teknis lapangan. Organisasi tetap berjalan, tetapi sering kali bergantung pada individu tertentu tanpa diiringi peningkatan kualitas yang signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa membuat organisasi stagnan, meskipun terlihat aktif.

Pada akhirnya, menjadi generalis bukanlah kesalahan. Bahkan dalam banyak situasi, ia sangat dibutuhkan. Namun tanpa kedalaman, ia hanya akan menjadi pelengkap, bukan penentu arah. Jalan tengah yang lebih bijak adalah menjadi generalis yang memiliki satu kekuatan utama—sebuah bidang yang benar-benar dikuasai, yang menjadi pijakan ketika harus berdiri di tengah banyak peran. Dengan begitu, seseorang tetap fleksibel dalam bergerak, tetapi tidak kehilangan identitas dan nilai dirinya.

Generalis yang kuat bukanlah yang melakukan segalanya, melainkan yang memahami banyak hal—namun tetap memiliki satu hal yang membuatnya tak tergantikan.

Slow Living di Jawa Tengah: Antara Romantisasi dan Realitas

“Jawa Tengah itu enak, hidupnya slow living.”

Kalimat ini sering kita dengar. Gambaran hidup yang tenang, santai, biaya murah, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Tapi, benarkah realitasnya seperti itu?

Tahun 2025, rata-rata UMR di banyak kota Jawa Tengah masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang sudah tembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat.

Biasanya langsung ada yang membela,
“Ya kan biaya hidup di sini murah.”

Masalahnya, tidak semurah yang dibayangkan.

Said (28), seorang desainer grafis di Magelang, hanya tertawa getir saat mendengar itu. Menurutnya, harga-harga sekarang sudah “nasional”. Bensin, beras, minyak goreng, telur—semuanya hampir sama dengan kota besar.

“Bahkan kopi di kafe sekarang Rp25.000–Rp30.000. Dengan gaji Rp2 jutaan, nongkrong dua kali seminggu saja sudah terasa mewah,” katanya.

Barang-barang lain juga sama saja. Mau beli sepatu branded atau gawai baru, harganya tidak ikut “turun gunung” hanya karena kita tinggal dekat Gunung Sumbing.

“Jadi slow living itu lebih cocok buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan. Kalau kami? Ya tetap kerja keras, kadang harus ambil kerjaan tambahan,” tambahnya.

Di Jawa Tengah, ada satu hal yang sering tidak dihitung dalam biaya hidup: biaya sosial.

Budaya guyub rukun memang indah. Saling bantu, dekat dengan tetangga, terasa hangat. Tapi di balik itu, ada “tagihan” yang tidak kecil.

Diyah (30), ibu rumah tangga di Boyolali, sangat merasakannya.

“Kalau ada hajatan, kita harus datang dan kasih amplop. Sekarang minimal Rp50.000. Kalau orang terdekat ya bisa Rp100.000 bahkan lebih,” ujarnya.

Masalahnya, undangan tidak datang satu-satu.

“Pernah seminggu ada empat undangan. Sudah Rp200.000. Belum iuran ini-itu—kematian, 17-an, perbaikan jalan, jimpitan. Kadang gaji suami yang pas-pasan habis cuma buat ‘rukun’ biar tidak jadi omongan,” katanya.

Belum lagi tenaga. Ada tradisi rewang—membantu tetangga yang punya hajatan. Bukan cuma satu-dua jam, kadang bisa berhari-hari. Bagi yang bekerja, ini jadi dilema: tidak ikut dianggap tidak peduli, ikut berarti capek luar biasa.

Ditambah lagi arisan. Di banyak tempat, ini bukan sekadar menabung, tapi juga “absensi sosial”. Tidak datang? Siap-siap jadi bahan pembicaraan.

Di tengah kondisi ini, ada satu kelompok yang sering “diam-diam menahan”: para guru, khususnya di lembaga pendidikan Islam.

Gaji tidak besar—bahkan sering di bawah UMR. Tapi tuntutan sosial? Sama.

Mereka tetap harus datang ke undangan, tetap ikut iuran, tetap hadir di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, mereka dituntut menjadi teladan.

Harus rapi. Harus pantas. Harus hadir. Harus peduli.

Padahal, di balik itu, banyak dari mereka harus mencari tambahan: ngajar di beberapa tempat, les privat, jualan kecil-kecilan. Semua demi menutup kebutuhan—dan tetap “terlihat layak”.

Akhirnya, hidup jadi jauh dari kata santai. Bukan slow living, tapi survival living.

Kalau dipikir-pikir, slow living di Jawa Tengah itu bukan tidak ada. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya.

Yang benar-benar bisa menikmati biasanya:

  • Punya tabungan besar
  • Tidak terlalu bergantung pada gaji bulanan kecil
  • Atau datang dari kota besar dengan kondisi finansial sudah aman

Mereka bisa ngopi santai, menikmati suasana desa, tanpa terlalu memikirkan amplop undangan minggu ini.

Sementara bagi banyak warga lokal—termasuk para guru—hidup tetap penuh hitung-hitungan.

Jadi mungkin yang perlu diluruskan bukan Jawa Tengahnya, tapi cara kita melihatnya.

Karena ternyata, slow living itu bukan soal tinggal di mana…
tapi soal punya cukup atau tidak.