Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen menggelar rapat pleno pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di komplek SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Rapat ini menjadi forum strategis dalam mematangkan berbagai agenda penting organisasi ke depan, khususnya pelantikan Dewan Pengurus Cabang (DPC), pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), serta persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Rapat pleno dihadiri oleh jajaran pengurus DPD dan perwakilan bidang-bidang strategis. Dalam suasana musyawarah yang penuh semangat kebersamaan, pembahasan difokuskan pada penguatan struktur organisasi melalui pelantikan DPC sebagai ujung tombak dakwah Hidayatullah di tingkat kecamatan. Diharapkan, pelantikan ini menjadi titik awal akselerasi gerakan dakwah yang lebih terstruktur, masif, dan menyentuh kebutuhan umat.

Selain itu, rapat juga membahas teknis dan substansi Rakerda yang akan menjadi arah kebijakan dan program kerja Hidayatullah Kebumen dalam satu periode ke depan. Rakerda dirancang tidak hanya sebagai agenda formal organisasi, tetapi sebagai momentum konsolidasi ideologis dan strategis dalam membangun peradaban berbasis tauhid melalui jalur pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi umat.

Dalam rapat pleno tersebut, perhatian khusus juga diberikan pada agenda Tarhib Ramadhan. DPD Hidayatullah Kebumen merencanakan kegiatan penyambutan Ramadhan yang bernuansa internasional dengan mengundang syaikh dari Mesir, insya Allah. Kehadiran ulama dari negeri Al-Azhar ini diharapkan dapat menguatkan ruhiyah umat, meneguhkan semangat keilmuan, serta mempererat hubungan keislaman lintas bangsa.

Rapat pleno ini sekaligus menegaskan komitmen DPD Hidayatullah Kebumen untuk terus menggerakkan dakwah strategis yang responsif terhadap tantangan zaman. Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas seremonial, tetapi sebagai gerakan perbaikan umat yang terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada solusi atas persoalan keumatan di tingkat lokal maupun nasional.

Dengan sinergi pengurus dan soliditas jamaah, DPD Hidayatullah Kebumen optimis agenda-agenda besar yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kebangkitan umat di Kabupaten Kebumen.

Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis

Sejarah bangsa dan peradaban selalu mencatat bahwa perubahan besar hampir tak pernah lahir dari generasi yang lelah dan kehilangan arah. Ia justru lahir dari tangan-tangan pemuda yang jiwanya menyala, pikirannya jernih, dan orientasi hidupnya tegak lurus kepada kebenaran. Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: peran strategis pemuda kian memudar, bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena krisis orientasi, mental, dan nilai yang semakin menggerus fondasi kehidupan generasi muda.

Indonesia tengah menghadapi fenomena krisis mental pemuda yang tidak bisa dipandang remeh. Tekanan hidup, budaya instan, dominasi media sosial, serta tercerabutnya nilai spiritual membuat banyak pemuda kehilangan makna hidup. Mereka bergerak, tetapi tanpa arah. Mereka aktif, tetapi tidak produktif secara peradaban. Di sinilah pertanyaan besar itu mengemuka: masihkah pemuda mampu membaca zaman dan bergerak sebagai solusi? Dan lebih khusus lagi, mampukah Pemuda Hidayatullah hadir sebagai kekuatan ideologis yang menawarkan jalan keluar berbasis tauhid?

Tauhid sejatinya bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi pergerakan. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai hidup. Ketika tauhid menjadi pusat orientasi, pemuda tidak mudah goyah oleh arus pragmatisme, hedonisme, dan relativisme moral. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini bukan sekadar nasihat individual, melainkan seruan peradaban yang sangat relevan bagi pemuda sebagai pemilik waktu, energi, dan potensi terbesar dalam kehidupan.

Sejarah Islam memberikan teladan nyata bahwa pemuda adalah tulang punggung perubahan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam di usia belia dan menjadi simbol keberanian, kecerdasan, serta keteguhan akidah. Dalam usia muda, ia telah berdiri di garda terdepan membela Rasulullah ﷺ, menjadi hakim yang adil, sekaligus pemimpin umat yang berlandaskan tauhid. Demikian pula Mush’ab bin ‘Umair, pemuda Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah, dan dengan keikhlasannya menjadi sebab terbukanya Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah ini menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang kepemimpinan, selama iman dan visi peradaban tertanam kuat.

Di masa yang lebih dekat, sosok-sosok pemuda Muslim seperti Hasan Al-Banna menunjukkan bahwa kesadaran tauhid yang dipadukan dengan kerja terorganisir mampu melahirkan gerakan besar yang mengubah kesadaran umat. Ia memulai dakwahnya sebagai pemuda, namun visinya melampaui zaman. Ini menjadi pelajaran penting bahwa krisis umat tidak bisa dijawab dengan gerakan reaktif dan sporadis, tetapi membutuhkan pemuda yang memiliki pandangan hidup Islam secara menyeluruh dan kesediaan untuk berjuang dalam jangka panjang.

Krisis mental yang hari ini melanda pemuda sejatinya bukan semata persoalan psikologis, tetapi krisis makna hidup. Ketika hidup dipersempit hanya pada capaian materi dan pengakuan sosial, jiwa menjadi rapuh. Tauhid hadir sebagai obat yang mengembalikan manusia pada fitrahnya: hamba Allah yang hidup dengan misi. Pemuda yang bertauhid tidak menggantungkan harga dirinya pada validasi manusia, tetapi pada ridha Rabb-nya. Dari sinilah lahir ketangguhan mental, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk berbeda di tengah arus mayoritas.

Dalam konteks kekinian, tantangan pemuda semakin kompleks. Arus informasi yang deras bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana dakwah dan pencerahan, namun juga dapat menjadi alat perusak akidah dan adab jika tidak dibingkai oleh nilai. Oleh karena itu, pemuda hari ini dituntut bukan hanya melek teknologi, tetapi matang secara ideologis. Pemuda Hidayatullah memiliki peluang besar untuk mengambil peran ini: menjadi penjaga nilai, penyambung risalah dakwah, sekaligus pelaku perubahan sosial yang berakar pada tauhid dan berpihak pada umat.

Munas Pemuda Hidayatullah seharusnya tidak dimaknai sekadar agenda organisasi, tetapi momentum ideologis untuk meneguhkan kembali jati diri pemuda sebagai agen perubahan. Di forum inilah arah pergerakan ditata, visi diperjelas, dan komitmen diperbarui. Pemuda yang hadir bukan hanya membawa gagasan, tetapi kesiapan berkorban, berproses, dan berjuang dalam jalan dakwah dan tarbiyah. Sebab sejarah tidak mencatat mereka yang menunggu perubahan, tetapi mereka yang bergerak dan menciptakannya.

Akhirnya, pemuda adalah fase singkat yang menentukan arah hidup dan wajah peradaban. Jika masa muda diisi dengan tauhid yang kokoh, ilmu yang benar, dan amal yang terarah, maka ia akan melahirkan generasi pemimpin yang mampu menuntun umat keluar dari krisis. Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab tantangan zaman ini—menjadi pemuda yang tidak larut dalam kegalauan zaman, tetapi berdiri tegak sebagai pewaris risalah, penjaga nilai, dan pelopor kebangkitan umat.

Tahniah untuk Pemuda Hidayatullah yang baru saja menggelar MUNAS di Jakarta.

Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Ustadz (Guru) Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan

Mengajar adalah amanah besar sekaligus ibadah yang mulia. Di balik senyum dan keteguhan seorang ustadz (guru), tersimpan rasa lelah yang kadang menjelma menjadi kebosanan. Rutinitas yang berulang, murid yang pasif, hingga penat fisik dan mental bisa membuat semangat meredup.

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian di Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, kebosanan dalam pembelajaran sering muncul karena kurangnya variasi metode dan keterlibatan murid. Maka, penting bagi ustadz (guru) untuk senantiasa mencari ikhtiar agar semangat tetap menyala, sehingga ilmu yang disampaikan mengalir dengan penuh keberkahan.

Ikhtiar Mengatasi Kebosanan

1. Menguatkan Iman dan Menata Niat

Sumber kekuatan seorang ustadz adalah iman dan tauhid. Mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang mengikat hati dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).

Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang terus mengalir meski ustadz telah tiada. Dengan kesadaran ini, rasa jenuh bisa berubah menjadi semangat, karena setiap pelajaran adalah investasi amal abadi.

Contoh aplikatif: Memulai kelas dengan dzikir singkat atau doa bersama agar hati kembali tenang dan niat mengajar tetap ikhlas.

2. Mengingat Tujuan Mulia Mengajar

Tujuan mulia mengajar memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan ustadz dengan Allah. Mengajar adalah jalan menuju ridha-Nya. Setiap kata adalah dakwah, setiap ilmu adalah amal jariyah. Dengan kesadaran ini, kebosanan berganti syukur. Contoh aplikatif: Menutup pelajaran dengan doa: “Ya Allah, jadikan ilmu ini cahaya bagi kami dan generasi setelah kami.”
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban. Mengajar adalah ikhtiar membentuk generasi beriman yang kelak menjadi pilar peradaban Islam. Ilmu yang diajarkan akan terus hidup dalam diri murid, bahkan setelah ustadz wafat. Contoh aplikatif: Refleksi penutup: “Ilmu yang kita pelajari hari ini akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang kokoh.”

3. Mengatur Ritme dan Memberi Jeda

Kelelahan fisik sering menjadi pemicu kebosanan. Ustadz perlu mengatur ritme mengajar, tidak harus terus-menerus berbicara.

Contoh aplikatif: Setelah 20 menit ceramah, murid diajak berdiri, peregangan ringan, atau membaca doa bersama. Aktivitas sederhana ini menyegarkan suasana kelas.

4. Menggunakan Media Kreatif

Variasi media membuat materi lebih segar dan bermakna. Slide, video pendek, atau ilustrasi membantu murid memahami lebih baik.

Penelitian di al-Afkar Journal for Islamic Studies menegaskan bahwa media kreatif dapat mengurangi kebosanan.

Contoh aplikatif: Saat menjelaskan kisah Nabi Yusuf, ustadz menampilkan potongan video atau ilustrasi perjalanan beliau.

5. Variasi Metode Mengajar

Ceramah penting, tetapi jika terus-menerus bisa monoton. Variasi metode seperti diskusi kelompok, tanya jawab, atau simulasi membuat kelas lebih hidup.

Contoh aplikatif: Dalam pelajaran akhlak, murid dibagi kelompok kecil untuk mendiskusikan “Bagaimana cara meneladani sifat amanah Rasulullah.” Hasilnya dipresentasikan di depan kelas.

6. Menambahkan Cerita Inspiratif

Cerita nyata atau hikmah dari ulama dan sahabat bisa menyegarkan suasana. Murid lebih terhubung secara emosional dengan materi.

Contoh aplikatif: Saat membahas sabar, ustadz menceritakan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap teguh menghadapi ujian. Cerita ini menghidupkan kelas sekaligus menanamkan keteladanan.

Kebosanan adalah hal manusiawi, tetapi dengan ikhtiar yang tepat, ustadz (guru) bisa tetap bersemangat dalam mengajar. Menguatkan iman, mengingat tujuan mulia, mengatur ritme, menggunakan media kreatif, serta variasi metode akan menjadikan proses belajar lebih hidup dan penuh keberkahan.

Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan jalan menuju pahala jariyah yang terus mengalir. Tujuan mulia mengajar pun memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan dengan Allah agar setiap pelajaran bernilai ibadah.
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban agar ilmu menjadi fondasi kokoh bagi umat.

Semoga setiap ustadz (guru) senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini dengan hati yang ikhlas, semangat yang menyala, dan cinta yang tulus kepada murid-muridnya.

Referensi

  • Irma, I., Rahman, P., Anto, A., Takdir, T., & Salam, R. (2024). Akidah Akhlak Teachers’ Strategies to Mitigate Students’ Learning Boredom. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme.
  • Ali, M., Syah, M., & Arifin, S. (2024). Overcoming Forgetting and Boredom in Learning. al-Afkar Journal for Islamic Studies.

Penulis

KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

Mengapa Organisasi Tidak Boleh Menoleransi “Brilliant Jerks”

Pelajaran Kerja Tim dari Netflix

Do not tolerate brilliant jerks. The cost to teamwork is too high.
Reed Hastings, CEO Netflix

Di banyak organisasi, ada satu kekeliruan yang sering terjadi:
kinerja tinggi dianggap cukup untuk menutupi perilaku buruk.
Selama target tercapai, sikap arogan, meremehkan, atau merusak tim dianggap sebagai “harga yang wajar”.

Netflix justru mengambil jalan sebaliknya.

Dibalik kontroversialnya karena mendukung penjajah laknatullah Israel, Mereka percaya bahwa orang brilian yang toxic adalah beban mahal, bukan aset.

Apa Itu “Brilliant Jerks”?

Istilah Brilliant Jerks merujuk pada individu yang:

  1. Sangat cerdas dan kompeten
  2. Prestasinya terlihat menonjol
  3. Namun: Meremehkan rekan kerja, sulit berkolaborasi, menyebarkan ketegangan, merusak kepercayaan dalam tim

Secara angka, mereka tampak produktif.
Namun secara budaya, mereka menggerogoti fondasi organisasi.

Kerja Tim: Aset Tak Terlihat yang Paling Mahal

Netflix memahami satu realitas penting:
kerja tim bukan sekadar kumpulan orang pintar, melainkan ekosistem kepercayaan.

Ketika satu orang toxic dibiarkan:

  1. Diskusi menjadi defensif
  2. Ide tidak lagi lahir dengan bebas
  3. Orang hebat memilih diam atau pergi
  4. Energi tim habis untuk konflik, bukan inovasi

Akibatnya:

Satu orang “hebat” bisa menurunkan kinerja sepuluh orang baik.

Inilah yang dimaksud Reed Hastings sebagai biaya tinggi bagi teamworkthe hidden cost yang sering diabaikan.

Netflix: Budaya Lebih Penting dari Talenta Tunggal

Netflix menerapkan prinsip tegas:

Tidak ada tempat bagi kecerdasan yang merusak kolaborasi.

Mereka berani:

  1. Melepas performer tinggi yang merusak tim
  2. Memberi feedback jujur dan langsung
  3. Mengutamakan orang yang kuat secara kompetensi dan dewasa secara karakter

Bagi Netflix, budaya adalah strategi jangka panjang.

Teknologi bisa ditiru.
Model bisnis bisa disalin.
Tapi budaya sehat sulit digandakan.

Mengapa Organisasi Sering Gagal Menyadari Ini?

Karena:

  1. Dampak toxic tidak langsung terlihat di laporan
  2. Kerusakan budaya bersifat senyap
  3. Manajer takut kehilangan “bintang”
  4. Prestasi jangka pendek mengaburkan kerusakan jangka panjang

Padahal, organisasi tidak runtuh karena kurang orang pintar,
melainkan karena terlalu lama mentoleransi orang bermasalah.

Kerja Sama Tim yang Sehat: Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Tim yang sehat memiliki:

  1. Rasa aman untuk berbicara
  2. Saling menghargai peran
  3. Fokus pada tujuan bersama
  4. Kecepatan dalam mengambil keputusan

Semua itu tidak mungkin hidup dalam lingkungan yang dikuasai ego dan intimidasi.

Netflix memilih:

Tim solid yang saling percaya
daripada
satu orang jenius yang merasa paling benar

Pelajaran untuk Organisasi, Komunitas, dan Kepemimpinan

  1. Prestasi tidak boleh mengalahkan etika
  2. Karakter adalah fondasi kolaborasi
  3. Budaya sehat adalah investasi jangka panjang
  4. Memecat orang toxic sering kali adalah bentuk kepemimpinan paling berani

Prinsip No Brilliant Jerks mengajarkan kita satu hal mendasar:
kerja tim yang sehat lebih berharga daripada kecerdasan individual yang merusak.

Karena pada akhirnya:

Organisasi besar dibangun bukan oleh orang paling pintar,
tetapi oleh orang-orang yang mampu bekerja bersama dengan hormat dan amanah.
(irsyad fadlurrahman)

Rajab dan Sya‘ban: Dua Bulan Mulia Penyiap Jiwa Menuju Ramadhan

Dalam perjalanan waktu yang Allah bentangkan bagi manusia, terdapat bulan-bulan yang tidak sekadar lewat, tetapi mengajak jiwa untuk berhenti, merenung, dan berbenah. Di antara bulan-bulan itu, Rajab dan Sya‘ban hadir sebagai dua gerbang ruhani, yang mengantar hati menuju kemuliaan Ramadhan.

Rajab: Bulan Kesadaran dan Pengagungan

Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Ia bukan bulan biasa. Pada bulan ini, dosa menjadi lebih berat, dan amal kebaikan menjadi lebih bernilai. Rajab mengajarkan satu pesan agung: berhenti dari kezaliman dan kembali kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa Rajab adalah bulan pengagungan (ta‘zhim)—pengagungan terhadap larangan Allah dan kehormatan waktu. Karena itu, Rajab bukan bulan ritual khusus, tetapi bulan kesadaran spiritual: menahan diri dari maksiat, memperbanyak istighfar, dan melatih ketundukan hati.

Sebagian besar ulama juga menyebutkan bahwa Isra’ Mi‘raj terjadi di bulan Rajab—sebuah peristiwa yang mengajarkan bahwa shalat adalah tangga ruhani, penghubung bumi dan langit. Maka, Rajab adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki shalat, memperdalam khusyuk, dan menguatkan hubungan dengan Allah.

Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata dengan penuh hikmah:

“Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”

Sya‘ban: Bulan Amal yang Diangkat

Jika Rajab adalah bulan kesadaran, maka Sya‘ban adalah bulan kesungguhan. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada bulan ini, hingga beliau banyak berpuasa di dalamnya, lebih banyak dibanding bulan-bulan sunnah lainnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Rasulullah ﷺ berpuasa di bulan Sya‘ban hampir seluruhnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sya‘ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia—terjepit di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang dinanti. Padahal, di bulan inilah amal-amal diangkat kepada Allah. Karena itu, Rasulullah ﷺ mencintai keadaan berpuasa saat amalnya diangkat.

Lebih dari sekadar puasa, Sya‘ban adalah bulan membersihkan hati. Pada pertengahan Sya‘ban, Allah membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan kesyirikan dan permusuhan. Ini adalah isyarat halus bahwa ampunan Allah dekat dengan hati yang bersih—hati yang bebas dari dendam, iri, dan kebencian.

Dua Bulan, Satu Tujuan

Rajab dan Sya‘ban bukanlah tujuan akhir, melainkan proses menuju Ramadhan. Rajab mengajarkan taubat dan pengagungan, Sya‘ban melatih konsistensi dan kesiapan. Siapa yang lalai di dua bulan ini, sering kali akan tertatih di Ramadhan. Namun siapa yang mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya‘ban, akan merasakan manisnya ibadah di bulan suci.

Para salaf berkata:

“Mereka berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima.”

Rajab dan Sya‘ban adalah undangan lembut dari Allah: undangan untuk kembali, memperbaiki, dan menata ulang arah hidup. Ia bukan tentang banyaknya ritual, tetapi tentang kedalaman makna, kebersihan hati, dan kesiapan jiwa.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya menunggu Ramadhan, tetapi layak menyambutnya. (Irsyad)

Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen dan Purworejo menggelar Musyawarah Gabungan (Musdagab) pada Ahad, 7 Desember 2025, bertempat di Kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi serta meneguhkan arah perjuangan dakwah di wilayah Kebumen dan Purworejo.

Musdagab berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, khidmat, dan semangat jihad dakwah. Para peserta yang terdiri dari pengurus, kader, dan perwakilan amal usaha Hidayatullah mengikuti rangkaian agenda dengan antusias, mulai dari evaluasi program, pemaparan arah kebijakan, hingga penetapan kepemimpinan daerah.

Melalui proses musyawarah yang mengedepankan nilai-nilai syura dan keikhlasan, forum secara mufakat kembali menetapkan Ustadz Faqih sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kebumen untuk melanjutkan amanah kepemimpinan. Sementara itu, Ustadz Subhan Birori dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Purworejo. Penetapan ini disambut dengan doa dan harapan besar agar kepemimpinan yang terpilih mampu membawa Hidayatullah semakin kokoh dalam membina umat dan membangun peradaban Islam.

Dalam sambutannya, para pimpinan menegaskan bahwa Musdagab bukan sekadar agenda struktural, melainkan wasilah untuk memperbarui niat, menyatukan langkah, dan menguatkan komitmen dakwah berbasis tauhid, pendidikan, dan pembinaan umat. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut sinergi, keteladanan, serta kerja dakwah yang terorganisir dan berkelanjutan.

Dengan terselenggaranya Musyawarah Gabungan ini, DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo diharapkan mampu melahirkan program-program strategis yang berdampak nyata bagi umat, serta terus menghadirkan cahaya dakwah Islam di tengah masyarakat dengan penuh hikmah dan keberkahan.