Venezuela, Greenland, dan Wajah Asli Imperialisme Modern: Peringatan Keras bagi Dunia Islam
Dunia hari ini sedang menyaksikan apa yang sejak lama diperingatkan para pemikir Islam: ketika kekuatan dilepaskan dari moral dan hukum Ilahi, maka penindasan akan kembali menjadi norma global. Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan ambisi terang-terangan mencaplok Greenland bukanlah anomali, melainkan manifestasi jujur dari imperialisme modern yang selama ini bersembunyi di balik jargon demokrasi, HAM, dan “rules-based order”.
Imperialisme Tanpa Topeng: Venezuela sebagai Korban
Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela menunjukkan satu fakta telanjang: kedaulatan negara hanya dihormati selama tidak mengganggu kepentingan geopolitik Barat. Tanpa mandat sah internasional, sebuah negara berdaulat diserang, pemimpinnya ditangkap, dan sumber dayanya dikuasai—semua dibingkai dengan bahasa hukum dan keamanan.
Inilah wajah lama yang kembali dengan bahasa baru. Jika dahulu penjajahan dilakukan atas nama “peradaban”, kini ia dilakukan atas nama “stabilitas” dan “penegakan hukum”. Namun esensinya sama: yang kuat berhak menentukan nasib yang lemah.
Dalam pandangan Islam, ini adalah kezaliman struktural. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113)
Diam terhadap kezaliman global bukan sikap netral—ia adalah keberpihakan terselubung.
Greenland: Ketika Sekutu Pun Menjadi Mangsa
Jika Venezuela adalah korban dari luar lingkaran Barat, maka Greenland adalah bukti bahwa imperialisme tidak mengenal loyalitas. Wilayah otonom milik Denmark—anggota NATO—tidak luput dari ambisi pencaplokan ketika ia dianggap strategis secara militer dan ekonomi.
Ini menegaskan satu prinsip lama dalam politik kekuasaan: tidak ada sekutu abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. NATO, PBB, dan berbagai institusi global hanyalah alat—selama alat itu berguna. Ketika tidak, ia akan diabaikan.
Bagi dunia Islam, ini adalah pelajaran mahal: perlindungan sejati tidak datang dari aliansi rapuh, tetapi dari kekuatan mandiri dan persatuan internal.
Dunia Islam: Sasaran Historis dan Potensial
Sejarah Islam modern dipenuhi intervensi: Irak, Afghanistan, Libya, Suriah. Polanya sama. Dalih berubah-ubah, tetapi hasilnya konsisten: kehancuran negara, perampasan sumber daya, dan ketergantungan jangka panjang.
Venezuela hari ini bisa menjadi negara Muslim esok hari—bukan karena kesamaan ideologi, tetapi karena kesamaan posisi: lemah secara politik global namun kaya secara strategis.
Islam memandang kedaulatan sebagai amanah, bukan sekadar konsep politik. Ketika kedaulatan diinjak, maka yang dihancurkan bukan hanya negara, tetapi kemampuan umat untuk menjalankan syariat, menjaga kehormatan, dan melindungi generasi.
Kebohongan “Tatanan Dunia Berbasis Aturan”
Selama ini dunia Islam dipaksa patuh pada tatanan internasional yang diklaim adil dan universal. Namun Venezuela dan Greenland membuka kebohongan besar itu:
aturan hanya berlaku ke bawah, tidak ke atas.
Ketika negara kuat melanggar hukum internasional, dunia diminta “memahami konteks”. Ketika negara lemah melawan, ia disebut ekstrem, radikal, atau ancaman global.
Islam sejak awal menolak standar ganda semacam ini. Keadilan dalam Islam tidak bergantung pada siapa pelakunya, tetapi pada benar dan salahnya perbuatan.
Jalan Ideologis Dunia Islam: Kembali pada Prinsip
Menghadapi dunia yang kembali ke hukum rimba, dunia Islam tidak cukup dengan diplomasi lunak dan kecaman simbolik. Diperlukan perubahan paradigma:
- Kemandirian politik dan ekonomi
Ketergantungan adalah pintu intervensi. - Persatuan dunia Islam di atas kepentingan sektoral
Perpecahan adalah senjata paling murah imperialisme. - Narasi Islam sebagai alternatif moral global
Dunia butuh keadilan berbasis nilai, bukan kekuatan. - Kesadaran umat bahwa konflik global bukan netral
Ia selalu berpihak pada pemilik kuasa.
Allah berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.”
(QS. An-Nisa: 141)
Ayat ini bukan jaminan otomatis, tetapi syarat perjuangan.
Bangun atau Dihabisi Sejarah
Venezuela dan Greenland adalah peringatan, bukan berita biasa. Dunia sedang bergerak menuju fase baru: imperialisme tanpa malu. Dalam dunia seperti ini, umat Islam tidak boleh kembali menjadi objek sejarah.
Jika dunia Islam terus terpecah, bergantung, dan takut bersikap, maka ia hanya menunggu giliran. Namun jika umat ini kembali kepada jati dirinya—berdaulat, bersatu, dan berprinsip—maka ia bukan hanya mampu bertahan, tetapi menjadi kekuatan penyeimbang dunia.
Sejarah tidak menunggu yang ragu.
Ia hanya mencatat siapa yang bangkit, dan siapa yang dilenyapkan.
(irsyad)

