Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen menggelar rapat pleno pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di komplek SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Rapat ini menjadi forum strategis dalam mematangkan berbagai agenda penting organisasi ke depan, khususnya pelantikan Dewan Pengurus Cabang (DPC), pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), serta persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Rapat pleno dihadiri oleh jajaran pengurus DPD dan perwakilan bidang-bidang strategis. Dalam suasana musyawarah yang penuh semangat kebersamaan, pembahasan difokuskan pada penguatan struktur organisasi melalui pelantikan DPC sebagai ujung tombak dakwah Hidayatullah di tingkat kecamatan. Diharapkan, pelantikan ini menjadi titik awal akselerasi gerakan dakwah yang lebih terstruktur, masif, dan menyentuh kebutuhan umat.

Selain itu, rapat juga membahas teknis dan substansi Rakerda yang akan menjadi arah kebijakan dan program kerja Hidayatullah Kebumen dalam satu periode ke depan. Rakerda dirancang tidak hanya sebagai agenda formal organisasi, tetapi sebagai momentum konsolidasi ideologis dan strategis dalam membangun peradaban berbasis tauhid melalui jalur pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi umat.

Dalam rapat pleno tersebut, perhatian khusus juga diberikan pada agenda Tarhib Ramadhan. DPD Hidayatullah Kebumen merencanakan kegiatan penyambutan Ramadhan yang bernuansa internasional dengan mengundang syaikh dari Mesir, insya Allah. Kehadiran ulama dari negeri Al-Azhar ini diharapkan dapat menguatkan ruhiyah umat, meneguhkan semangat keilmuan, serta mempererat hubungan keislaman lintas bangsa.

Rapat pleno ini sekaligus menegaskan komitmen DPD Hidayatullah Kebumen untuk terus menggerakkan dakwah strategis yang responsif terhadap tantangan zaman. Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas seremonial, tetapi sebagai gerakan perbaikan umat yang terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada solusi atas persoalan keumatan di tingkat lokal maupun nasional.

Dengan sinergi pengurus dan soliditas jamaah, DPD Hidayatullah Kebumen optimis agenda-agenda besar yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kebangkitan umat di Kabupaten Kebumen.

Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Ustadz (Guru) Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan

Mengajar adalah amanah besar sekaligus ibadah yang mulia. Di balik senyum dan keteguhan seorang ustadz (guru), tersimpan rasa lelah yang kadang menjelma menjadi kebosanan. Rutinitas yang berulang, murid yang pasif, hingga penat fisik dan mental bisa membuat semangat meredup.

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian di Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, kebosanan dalam pembelajaran sering muncul karena kurangnya variasi metode dan keterlibatan murid. Maka, penting bagi ustadz (guru) untuk senantiasa mencari ikhtiar agar semangat tetap menyala, sehingga ilmu yang disampaikan mengalir dengan penuh keberkahan.

Ikhtiar Mengatasi Kebosanan

1. Menguatkan Iman dan Menata Niat

Sumber kekuatan seorang ustadz adalah iman dan tauhid. Mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang mengikat hati dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).

Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang terus mengalir meski ustadz telah tiada. Dengan kesadaran ini, rasa jenuh bisa berubah menjadi semangat, karena setiap pelajaran adalah investasi amal abadi.

Contoh aplikatif: Memulai kelas dengan dzikir singkat atau doa bersama agar hati kembali tenang dan niat mengajar tetap ikhlas.

2. Mengingat Tujuan Mulia Mengajar

Tujuan mulia mengajar memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan ustadz dengan Allah. Mengajar adalah jalan menuju ridha-Nya. Setiap kata adalah dakwah, setiap ilmu adalah amal jariyah. Dengan kesadaran ini, kebosanan berganti syukur. Contoh aplikatif: Menutup pelajaran dengan doa: “Ya Allah, jadikan ilmu ini cahaya bagi kami dan generasi setelah kami.”
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban. Mengajar adalah ikhtiar membentuk generasi beriman yang kelak menjadi pilar peradaban Islam. Ilmu yang diajarkan akan terus hidup dalam diri murid, bahkan setelah ustadz wafat. Contoh aplikatif: Refleksi penutup: “Ilmu yang kita pelajari hari ini akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang kokoh.”

3. Mengatur Ritme dan Memberi Jeda

Kelelahan fisik sering menjadi pemicu kebosanan. Ustadz perlu mengatur ritme mengajar, tidak harus terus-menerus berbicara.

Contoh aplikatif: Setelah 20 menit ceramah, murid diajak berdiri, peregangan ringan, atau membaca doa bersama. Aktivitas sederhana ini menyegarkan suasana kelas.

4. Menggunakan Media Kreatif

Variasi media membuat materi lebih segar dan bermakna. Slide, video pendek, atau ilustrasi membantu murid memahami lebih baik.

Penelitian di al-Afkar Journal for Islamic Studies menegaskan bahwa media kreatif dapat mengurangi kebosanan.

Contoh aplikatif: Saat menjelaskan kisah Nabi Yusuf, ustadz menampilkan potongan video atau ilustrasi perjalanan beliau.

5. Variasi Metode Mengajar

Ceramah penting, tetapi jika terus-menerus bisa monoton. Variasi metode seperti diskusi kelompok, tanya jawab, atau simulasi membuat kelas lebih hidup.

Contoh aplikatif: Dalam pelajaran akhlak, murid dibagi kelompok kecil untuk mendiskusikan “Bagaimana cara meneladani sifat amanah Rasulullah.” Hasilnya dipresentasikan di depan kelas.

6. Menambahkan Cerita Inspiratif

Cerita nyata atau hikmah dari ulama dan sahabat bisa menyegarkan suasana. Murid lebih terhubung secara emosional dengan materi.

Contoh aplikatif: Saat membahas sabar, ustadz menceritakan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap teguh menghadapi ujian. Cerita ini menghidupkan kelas sekaligus menanamkan keteladanan.

Kebosanan adalah hal manusiawi, tetapi dengan ikhtiar yang tepat, ustadz (guru) bisa tetap bersemangat dalam mengajar. Menguatkan iman, mengingat tujuan mulia, mengatur ritme, menggunakan media kreatif, serta variasi metode akan menjadikan proses belajar lebih hidup dan penuh keberkahan.

Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan jalan menuju pahala jariyah yang terus mengalir. Tujuan mulia mengajar pun memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan dengan Allah agar setiap pelajaran bernilai ibadah.
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban agar ilmu menjadi fondasi kokoh bagi umat.

Semoga setiap ustadz (guru) senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini dengan hati yang ikhlas, semangat yang menyala, dan cinta yang tulus kepada murid-muridnya.

Referensi

  • Irma, I., Rahman, P., Anto, A., Takdir, T., & Salam, R. (2024). Akidah Akhlak Teachers’ Strategies to Mitigate Students’ Learning Boredom. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme.
  • Ali, M., Syah, M., & Arifin, S. (2024). Overcoming Forgetting and Boredom in Learning. al-Afkar Journal for Islamic Studies.

Penulis

KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan

Kebumen — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kebumen dan Purworejo menggelar Musyawarah Gabungan (Musdagab) pada Ahad, 7 Desember 2025, bertempat di Kampus SMP Integral Hidayatullah Kebumen. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi serta meneguhkan arah perjuangan dakwah di wilayah Kebumen dan Purworejo.

Musdagab berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, khidmat, dan semangat jihad dakwah. Para peserta yang terdiri dari pengurus, kader, dan perwakilan amal usaha Hidayatullah mengikuti rangkaian agenda dengan antusias, mulai dari evaluasi program, pemaparan arah kebijakan, hingga penetapan kepemimpinan daerah.

Melalui proses musyawarah yang mengedepankan nilai-nilai syura dan keikhlasan, forum secara mufakat kembali menetapkan Ustadz Faqih sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kebumen untuk melanjutkan amanah kepemimpinan. Sementara itu, Ustadz Subhan Birori dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Purworejo. Penetapan ini disambut dengan doa dan harapan besar agar kepemimpinan yang terpilih mampu membawa Hidayatullah semakin kokoh dalam membina umat dan membangun peradaban Islam.

Dalam sambutannya, para pimpinan menegaskan bahwa Musdagab bukan sekadar agenda struktural, melainkan wasilah untuk memperbarui niat, menyatukan langkah, dan menguatkan komitmen dakwah berbasis tauhid, pendidikan, dan pembinaan umat. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut sinergi, keteladanan, serta kerja dakwah yang terorganisir dan berkelanjutan.

Dengan terselenggaranya Musyawarah Gabungan ini, DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo diharapkan mampu melahirkan program-program strategis yang berdampak nyata bagi umat, serta terus menghadirkan cahaya dakwah Islam di tengah masyarakat dengan penuh hikmah dan keberkahan.