Mengajar dengan Hati: Ikhtiar Ustadz (Guru) Menjaga Semangat dan Mengusir Kebosanan

Mengajar adalah amanah besar sekaligus ibadah yang mulia. Di balik senyum dan keteguhan seorang ustadz (guru), tersimpan rasa lelah yang kadang menjelma menjadi kebosanan. Rutinitas yang berulang, murid yang pasif, hingga penat fisik dan mental bisa membuat semangat meredup.

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian di Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, kebosanan dalam pembelajaran sering muncul karena kurangnya variasi metode dan keterlibatan murid. Maka, penting bagi ustadz (guru) untuk senantiasa mencari ikhtiar agar semangat tetap menyala, sehingga ilmu yang disampaikan mengalir dengan penuh keberkahan.

Ikhtiar Mengatasi Kebosanan

1. Menguatkan Iman dan Menata Niat

Sumber kekuatan seorang ustadz adalah iman dan tauhid. Mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang mengikat hati dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).

Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang terus mengalir meski ustadz telah tiada. Dengan kesadaran ini, rasa jenuh bisa berubah menjadi semangat, karena setiap pelajaran adalah investasi amal abadi.

Contoh aplikatif: Memulai kelas dengan dzikir singkat atau doa bersama agar hati kembali tenang dan niat mengajar tetap ikhlas.

2. Mengingat Tujuan Mulia Mengajar

Tujuan mulia mengajar memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan ustadz dengan Allah. Mengajar adalah jalan menuju ridha-Nya. Setiap kata adalah dakwah, setiap ilmu adalah amal jariyah. Dengan kesadaran ini, kebosanan berganti syukur. Contoh aplikatif: Menutup pelajaran dengan doa: “Ya Allah, jadikan ilmu ini cahaya bagi kami dan generasi setelah kami.”
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban. Mengajar adalah ikhtiar membentuk generasi beriman yang kelak menjadi pilar peradaban Islam. Ilmu yang diajarkan akan terus hidup dalam diri murid, bahkan setelah ustadz wafat. Contoh aplikatif: Refleksi penutup: “Ilmu yang kita pelajari hari ini akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang kokoh.”

3. Mengatur Ritme dan Memberi Jeda

Kelelahan fisik sering menjadi pemicu kebosanan. Ustadz perlu mengatur ritme mengajar, tidak harus terus-menerus berbicara.

Contoh aplikatif: Setelah 20 menit ceramah, murid diajak berdiri, peregangan ringan, atau membaca doa bersama. Aktivitas sederhana ini menyegarkan suasana kelas.

4. Menggunakan Media Kreatif

Variasi media membuat materi lebih segar dan bermakna. Slide, video pendek, atau ilustrasi membantu murid memahami lebih baik.

Penelitian di al-Afkar Journal for Islamic Studies menegaskan bahwa media kreatif dapat mengurangi kebosanan.

Contoh aplikatif: Saat menjelaskan kisah Nabi Yusuf, ustadz menampilkan potongan video atau ilustrasi perjalanan beliau.

5. Variasi Metode Mengajar

Ceramah penting, tetapi jika terus-menerus bisa monoton. Variasi metode seperti diskusi kelompok, tanya jawab, atau simulasi membuat kelas lebih hidup.

Contoh aplikatif: Dalam pelajaran akhlak, murid dibagi kelompok kecil untuk mendiskusikan “Bagaimana cara meneladani sifat amanah Rasulullah.” Hasilnya dipresentasikan di depan kelas.

6. Menambahkan Cerita Inspiratif

Cerita nyata atau hikmah dari ulama dan sahabat bisa menyegarkan suasana. Murid lebih terhubung secara emosional dengan materi.

Contoh aplikatif: Saat membahas sabar, ustadz menceritakan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap teguh menghadapi ujian. Cerita ini menghidupkan kelas sekaligus menanamkan keteladanan.

Kebosanan adalah hal manusiawi, tetapi dengan ikhtiar yang tepat, ustadz (guru) bisa tetap bersemangat dalam mengajar. Menguatkan iman, mengingat tujuan mulia, mengatur ritme, menggunakan media kreatif, serta variasi metode akan menjadikan proses belajar lebih hidup dan penuh keberkahan.

Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan jalan menuju pahala jariyah yang terus mengalir. Tujuan mulia mengajar pun memiliki dua dimensi:

  • Menata hubungan dengan Allah agar setiap pelajaran bernilai ibadah.
  • Meneguhkan visi jangka panjang tentang murid dan peradaban agar ilmu menjadi fondasi kokoh bagi umat.

Semoga setiap ustadz (guru) senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini dengan hati yang ikhlas, semangat yang menyala, dan cinta yang tulus kepada murid-muridnya.

Referensi

  • Irma, I., Rahman, P., Anto, A., Takdir, T., & Salam, R. (2024). Akidah Akhlak Teachers’ Strategies to Mitigate Students’ Learning Boredom. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme.
  • Ali, M., Syah, M., & Arifin, S. (2024). Overcoming Forgetting and Boredom in Learning. al-Afkar Journal for Islamic Studies.

Penulis

KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

Ikhtiar Pejuang Peradaban dalam mewariskan Semangat Perjuangan Tanpa Trauma

Setiap orang tua yang berjuang di jalan kebaikan tentu berharap anak-anaknya kelak tumbuh menjadi generasi pelanjut yang kuat, berani, dan penuh semangat. Namun sering kali, perjuangan itu ditempuh dalam kondisi kekurangan materi dan finansial. Anak-anak melihat abi dan umi mereka bekerja keras, pulang dengan wajah lelah, hidup sederhana, bahkan kadang harus menahan keinginan. Pertanyaannya, bagaimana agar anak-anak tidak mewarisi rasa takut atau trauma dari kesederhanaan itu, melainkan justru mewarisi semangat perjuangan yang mulia ?

Dalam Islam, ada prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan bagi para pejuang peradaban. Prinsip ini bukan hanya menjaga hati orang tua, tetapi juga menanamkan kekuatan jiwa pada anak-anak, sehingga mereka tumbuh dengan hati yang penuh syukur, tawakkal, dan keberanian.

  1. Menanamkan Makna Tawakkal dan Rizki dari Allah

Kita ajarkan kepada anak bahwa rizki bukan semata hasil kerja keras manusia, melainkan pemberian Allah.

Firman-Nya: “Dan tidak ada suatu makhluk pun yang bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6).

Ketika anak bertanya mengapa kita tidak memiliki rumah besar, jawablah dengan lembut: “Nak, rumah besar bukan tanda Allah sayang. Allah sudah janji, setiap makhluk punya rezekinya. Kita percaya, Allah akan beri yang terbaik untuk kita. Yang penting kita tetap berusaha dan berdoa.” Dengan cara ini, anak belajar bahwa kekurangan bukanlah aib, melainkan bagian dari perjalanan iman.

  1. Menjadikan Perjuangan sebagai Amal Shalih.

Kerja keras orang tua bukan sekadar mencari nafkah, tetapi ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik makanan adalah yang diperoleh dari hasil kerja tangan sendiri.” (HR. Bukhari).

Ketika anak melihat abi pulang dengan tubuh letih, katakan: “Capek Abi itu ibadah, Nak. Dengan bekerja, Abi memberi nafkah halal untuk keluarga. Itu jihad Abi.” Maka anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa kerja keras adalah kehormatan, bukan beban.

  1. Mewariskan Nilai Sabar dan Syukur

Kesederhanaan adalah ladang sabar dan syukur.

Allah berfirman: “…Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah(nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).

Saat anak bertanya mengapa kita sering makan tempe, jawab dengan penuh kasih: “Tempe ini nikmat dari Allah, Nak. Banyak orang yang tidak bisa makan sama sekali. Kalau kita sabar dan syukur, Allah akan tambah nikmat kita.” Dari sini anak belajar bahwa kebahagiaan bukan pada kemewahan, melainkan pada rasa syukur.

  1. Membangun Rasa Bangga, Bukan Malu

Kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Abu Hurairah r.a. hidup sederhana, sering lapar, tetapi menjadi perawi hadis terbanyak.
Ketika anak merasa malu karena bajunya sederhana, katakan: “Nak, jangan malu. Rasulullah dan sahabatnya juga hidup sederhana, tapi mereka mulia. Kesederhanaan kita adalah tanda kita kuat, bukan lemah.” Dengan begitu, anak belajar menjadikan perjuangan orang tua sebagai kebanggaan.

  1. Menciptakan Lingkungan Penuh Kasih Sayang.

Kasih sayang adalah benteng dari trauma.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda (yang lebih keci…” (HR. Tirmidzi).

Ketika anak merasa takut akan masa depan, peluklah ia dan katakan: “Nak, jangan takut. Abi dan Umi selalu mendoakanmu. Allah bersama orang yang berjuang. Kamu akan jadi orang kuat, insyaAllah.”

  1. Mengajak Anak Melihat Kehidupan Asal Orang Tua

Bisa jadi anak-anak kader kita di sekolah atau tempat bermain sering berinteraksi dengan teman-teman yang kaya secara finansial, memiliki mobil dan rumah mewah. Hal ini kadang menimbulkan rasa minder atau iri dalam hati mereka. Maka penting bagi orang tua untuk mengajak anak-anak berkesempatan berinteraksi dengan saudara-saudaranya, melihat kehidupan masyarakat di kampung asal orang tua.
Dengan cara ini, anak-anak akan belajar bahwa banyak orang hidup dengan kesederhanaan, namun tetap bahagia dan penuh syukur. Mereka akan mengambil hikmah bahwa kebahagiaan bukan ditentukan oleh harta, melainkan oleh hati yang ridha. Interaksi semacam ini menumbuhkan sikap kesyukuran atas kondisi yang sedang mereka jalani, sekaligus menguatkan jiwa agar tidak mudah goyah oleh perbandingan sosial.

Kesimpulan: ikhtiar agar anak-anak mewarisi semangat perjuangan tanpa trauma adalah dengan menanamkan tauhid, sabar, syukur, kebanggaan atas perjuangan orang tua, serta kasih sayang yang tulus. Ditambah dengan pengalaman nyata melihat kehidupan masyarakat sederhana, anak-anak akan tumbuh sebagai generasi yang kuat, berani, dan optimis. Mereka akan yakin bahwa Allah selalu bersama orang yang berjuang di jalan-Nya, dan kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan.(Alfaqir Akhmad Yunus)

Tulisan ini merupakan ikhtiar penulis untuk mencari solusi 1 point dari tujuh point Pertanyaan Renungan Penutup unggahan ustadz Edi Abdussalam di Group WA Wilayah Peradaban DIY Jateng Bagaian Selatan dari tulisan anak Kader.