Standarisasi Kecantikan

Dunia seakan tak pernah bosan memamerkan keelokannya, sebagai bukti bahwa sang pencipta tak sedetikpun berhenti memberikan detak nikmatnya kepada mereka yang berada di muka bumi.

Berjuta puji tak mencukupi bagi sang rahiim yang telah menciptakan hati pada makhluk bernama manusia agar lebih manusiawi, sehingga menjadikan mereka khalifatul ardhi.

Pernah terfikir olehku apa makna keindahan pada keturunan adam yang semakin kehilangan esensinya bak sajak tak berirama,entah siapa yang memulai dan siapa yang bertanggung jawab atas penilaian kata “indah” saat ini.

Pikiranku sudah terlalu berpusat pada rotasi standarisasi yang dibangun semakin masif bahwa cantik adalah yang terbaik. Dimana manusia dari sebuah negeri eksentrik rela menggunakan plastik agar bergelarkan “cantik”, membuang mata tipis berbinar agar menjadi lebih lebar bak penghuni dari negeri ciamik.

Bahkan anak-anak manusia dari negeri antah berantah yang disusuri garis khatulistiwa selalu berlomba-lomba mengubah kulit mereka yang coklat mempesona menjadi lebih tinggi kecerahannya agar mirip ratu yang dipinang raja dalam film laga yang tersebear ruah posternya diseluruh sudut kota. Dengan perangkat-perangkat yang tak murah tentunya,hingga suntik pembunuh pigmen yang tak berdosa.

Dan kabar aneh datang dari negeri-negeri penguasa peradaban masa kini karena banyak dari penduduknya yang menutupi kulit cerah yang mereka anggap pucat agar lebih cokelat dengan spray entah apa itu hingga terbias senyuman dari bibir tipis mereka atas pencapaian yang dianggap eksotis.

Seakan ummat ini semakin lupa atas nikmat dari sang pencipta dan tak sadar bahwa standarisasi kecantikan ini makin diatur oleh mereka para pemilik modal bisnis perangkat kecantikan raksasa. Dibuatlah iklan-iklan pengubah pikiran bahwa putih adalah lambang kecantikan sehingga orang-orang berkulit gelap berbondong-bondong membeli produk pemutih yang mereka buat. Dan mereka sadar di barat tak mungkin kuat menjual pemutih kulit karena warna mereka sudah sangat langsat. Digemborkanlah bahwa kulit gelap akan terlihat menawan bermartabat dengan spray yang akhirnya laku keras tanpa butuh keringat demi memenuhi hasrat yang tak kenal karat.

Penggiringan opini mereka yang masif cukup berhasil untuk menghapuskan cantik yang relatif seperti sebuah kisah fiktif yang membolak-balikkan antara positif dan negatif  hingga melahirkan pemikiran yang primitif  untuk manusia yang mengaku dirinya paling produktif dalam berbagai penemuan yang berawal dari sebuah inisiatif.

Bukankah manusia terbaik yang pernah dilahirkan di muka bumi ini pernah berkata “sebaik-baik dari kalian ialah yang bertakwa” ,manusia yang diutus memperbaiki akhlak ini dan menjadi rujukan jutaan manusia lainnya dari berbagai zona zaman yang belum terhenti  telah memberikan standar keindahan terbaik bagi kita yang juga mengaku mencintainya sepenuh hati.

Bukankah beberapa kalimat itu telah meruntuhkan seluruh standarisasi yang dibentuk oleh mereka yang berfikir klasik hanya menatap fisik,tak sadar bahwa kecantikan hati lah yang terbaik, tak memandang warna,harta,kasta apalagi sang jelita. hanya securik kalimat itulah yang membuat mereka tunduk tak berkutik.

Sepucuk pesan wahai ayah-ayah hebat,tetaplah tangguh untuk membimbing amanahmu agar mejadikan keluarga tercinta yang bertakwa. Dan hai ibunda terkasih, terimakasih atas seluruh kasih yang tak kenal perih untuk mendidik buah hati menjadi  pemimpin kelak nanti.

Dan teruntuk kalian wahai para  ayah dan bunda di masa mendatang,tetaplah jaga jiwa untuk mempersiapkan amanah yang akan segera bersua,nikmatilah setiap detik proses yang terkadang membuat mu merasa lelah, tapi percayalah akhirnya akan selalu indah,karena nikmatnya berbuka hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berpuasa.

Teruslah seperti itu… Jagalah dirimu yang menentukan keindahanmu dan cantiknya hatimu

Keindahan yang tak memandang fisik bagi mereka pemilik hati terbaik.

Keindahan yang tak terlihat oleh mata tapi bisa dinikmati oleh mereka yang buta.

Keindahan yang membuat waktu pun menyerah tak kuasa melapukkannya.

Keindahan yang terjaga karena pencuri apik pun tak kan bisa merebutnya dari si pemilik.

Bahkan  bidadari cemburu karena sang pencipta pun juga menjamin keindahan yang menyelimuti makhluk bumi terpilih, seperti mereka para bidadari yang keindahannya masih menjadi misteri.

Teruslah seperti itu..

Kau yang terus menjaga..  kau yang bertahan dalam kesabaran..  kau yang sedang lelah menyingkirkan kesah..

Tetaplah seperti itu..

karena kau lah yang terindah..

Rajab dan Sya‘ban: Dua Bulan Mulia Penyiap Jiwa Menuju Ramadhan

Dalam perjalanan waktu yang Allah bentangkan bagi manusia, terdapat bulan-bulan yang tidak sekadar lewat, tetapi mengajak jiwa untuk berhenti, merenung, dan berbenah. Di antara bulan-bulan itu, Rajab dan Sya‘ban hadir sebagai dua gerbang ruhani, yang mengantar hati menuju kemuliaan Ramadhan.

Rajab: Bulan Kesadaran dan Pengagungan

Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Ia bukan bulan biasa. Pada bulan ini, dosa menjadi lebih berat, dan amal kebaikan menjadi lebih bernilai. Rajab mengajarkan satu pesan agung: berhenti dari kezaliman dan kembali kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa Rajab adalah bulan pengagungan (ta‘zhim)—pengagungan terhadap larangan Allah dan kehormatan waktu. Karena itu, Rajab bukan bulan ritual khusus, tetapi bulan kesadaran spiritual: menahan diri dari maksiat, memperbanyak istighfar, dan melatih ketundukan hati.

Sebagian besar ulama juga menyebutkan bahwa Isra’ Mi‘raj terjadi di bulan Rajab—sebuah peristiwa yang mengajarkan bahwa shalat adalah tangga ruhani, penghubung bumi dan langit. Maka, Rajab adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki shalat, memperdalam khusyuk, dan menguatkan hubungan dengan Allah.

Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata dengan penuh hikmah:

“Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”

Sya‘ban: Bulan Amal yang Diangkat

Jika Rajab adalah bulan kesadaran, maka Sya‘ban adalah bulan kesungguhan. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada bulan ini, hingga beliau banyak berpuasa di dalamnya, lebih banyak dibanding bulan-bulan sunnah lainnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Rasulullah ﷺ berpuasa di bulan Sya‘ban hampir seluruhnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sya‘ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia—terjepit di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang dinanti. Padahal, di bulan inilah amal-amal diangkat kepada Allah. Karena itu, Rasulullah ﷺ mencintai keadaan berpuasa saat amalnya diangkat.

Lebih dari sekadar puasa, Sya‘ban adalah bulan membersihkan hati. Pada pertengahan Sya‘ban, Allah membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan kesyirikan dan permusuhan. Ini adalah isyarat halus bahwa ampunan Allah dekat dengan hati yang bersih—hati yang bebas dari dendam, iri, dan kebencian.

Dua Bulan, Satu Tujuan

Rajab dan Sya‘ban bukanlah tujuan akhir, melainkan proses menuju Ramadhan. Rajab mengajarkan taubat dan pengagungan, Sya‘ban melatih konsistensi dan kesiapan. Siapa yang lalai di dua bulan ini, sering kali akan tertatih di Ramadhan. Namun siapa yang mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya‘ban, akan merasakan manisnya ibadah di bulan suci.

Para salaf berkata:

“Mereka berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima.”

Rajab dan Sya‘ban adalah undangan lembut dari Allah: undangan untuk kembali, memperbaiki, dan menata ulang arah hidup. Ia bukan tentang banyaknya ritual, tetapi tentang kedalaman makna, kebersihan hati, dan kesiapan jiwa.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya menunggu Ramadhan, tetapi layak menyambutnya. (Irsyad)